Menuju konten utama

Tak Takut Putus Hubungan dengan Israel, Fahri: Dia Negara Kecil

"Alah, negara Israel negara kecil. Nggak ada hubungannya. Negara itu nggak ada sebetulnya," tegas Fahri.

Tak Takut Putus Hubungan dengan Israel, Fahri: Dia Negara Kecil
Fahri Hamzah. Antara Foto/Akbar Nugroh

tirto.id - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menganggap Indonesia tak perlu takut memutus hubungan dengan Israel. Meski perdagangan Indonesia dengan Israel telah terjalin sejak zaman Presiden Abdurrahman Wahid, bagi Fahri hubungan itu hanya berdampak kecil.

Hal ini dikatakan Fahri di kawasan Widya Chandra, Jakarta. Menurutnya, negara Israel adalah negara yang tak seberapa menghasilkan untuk Indonesia. Dalam sikap tegasnya menolak keberadaan Israel, Fahri menilai Indonesia tak perlu takut.

"Alah, negara Israel negara kecil. Nggak ada hubungannya. Negara itu nggak ada sebetulnya," tegas Fahri hari Jumat (15/6/2018).

Luas negara Israel sekitar 20.770 km persegi tanpa melibatkan daerah Palestina. Dengan penduduk sekitar 8,8 juta orang, Israel sudah mengadakan kerja sama dagang lebih dari 15 tahun dengan Indonesia.

Dari data milik Kementerian Perdagangan, total perdagangan Israel dengan Indonesia meningkat dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2015 misalnya, total perdagangan mencapai 194,43 juta dolar AS. Sedangkan pada 2016, jumlah ini meningkat menjadi 213,09 juta dolar AS dan data terakhir pada 2017 menjadi 232,95 juta dolar AS.

Namun, bagi Fahri jumlah itu tak ada artinya. Ia tetap menganggap MUI harus mengeluarkan fatwa haram agar tak ada masyarakat Indonesia yang datang ke Israel dan dianggap mendukung negara zionis yang menjajah Palestina.

"Supaya tidak ada kejadian seperti ini lagi sebaiknya Majelis Ulama Indonesia membuat fatwa tentang kunjungan ke Israel itu dinyatakan haram aja. Supaya tidak ada lagi orang ke sana. Sebab pergi ke negara yang dikuasai zionis itu pertama secara keagamaan lebih banyak mudaratnya," tegasnya.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Yahya Cholil Staquf pergi ke Israel untuk memenuhi undangan menjadi pembicara di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Minggu (10/6/2018).

Yahya selaku Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyebut bahwa kedatangannya ke acara itu adalah untuk Palestina. Namun, sebagian besar berpendapat bahwa kedatangan Yahya bisa disalahartikan sebagai dukungan Indonesia atas kedaulatan Israel atas Palestina.

Baca juga artikel terkait HUBUNGAN DIPLOMATIK atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Politik
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Yantina Debora