Ketua Komisi VIII Mengkritik Kunjungan Yahya Cholil ke Israel

Oleh: Naufal Mamduh - 14 Juni 2018
Kedatangan Yahya ke Israel dinilai tidak memahami hubungan Indonesia dan Palestina.
tirto.id - Ketua Komisi VIII DPR RI Ali Taher mengkritik kunjungan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Yahya Cholil Staquf ke Israel. Menurut Ali, kunjungan tersebut tidak sesuai etika masyarakat Indonesia yang mayoritas mendukung kemerdekaan Palestina.

"Sehingga bagi kita DPR memandang sebagai sebuah hal yang secara etika itu tidak pas untuk ukuran suasana emosional kerakyatan kita yang mendukung full kerakyatan Palestina," ucap Ali Taher di Gedung Kemenag RI, Jakarta Pusat Kamis (14/6/2018).

Ali memahami alasan Yahya Cholil yang mengatakan bahwa kunjungannya ke Israel adalah atas nama pribadi. Tetapi Palestina dan Indonesia memiliki hubungan yang erat sejak lama baik secara diplomasi ataupun kultural masyarakat. Sehingga kedatangan Yahya ke Israel dinilai tidak memahami hubungan tersebut.

"Sebaiknya setiap masyarakat kelompok masyarakat apakah itu tokoh pejabat pemerintah harus bisa memahami perasaan umat Islam yang lain," ucap Ali Taher.

Sehingga, Ali mengaku sangat menyayangkan tindakan Yahya Cholil tersebut. “Kalo kita menyayangkan tetapi itukan haknya pribadi. Ya setiap orang kan punya hak tapi kan juga suasana umum masyarakat indonesia enggak kayak gitu," ucap Ali.

Yahya pergi ke Israel untuk memenuhi undangan menjadi pembicara di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Minggu (10/6/2018). Saat berada di Israel, Yahya selaku Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyebut bahwa kedatangannya ke acara itu adalah untuk Palestina.

“Saya berdiri di sini untuk Palestina, saya berdiri di sini atas dasar bahwa kita semua harus menghormati kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka,” kata Yahya seperti dikutip dari laman NU.


Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan menarik lainnya Naufal Mamduh
(tirto.id - Politik)

Reporter: Naufal Mamduh
Penulis: Naufal Mamduh
Editor: Alexander Haryanto
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live