Studi: Depresi di Cina Meningkat Terkait Penutupan Sekolah

Oleh: Fatimah Mardiyah - 17 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Saat laju penyebaran COVID-19 di Cina sangat tinggi, pemerintah Cina memutuskan untuk menutup sekolah-sekolah dan menunda dimulainya semester baru.
tirto.id - Pada saat pandemi COVID-19 seperti saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat depresi masyarakat telah meningkat, baik karena alasan finansial, kesehatan, maupun pendidikan.

Tidak hanya terjadi pada orang dewasa, peningkatan depresi juga dialami oleh anak muda.

Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian yang dipublikasikan oleh JAMA Network Open dan dilakukan oleh peneliti dari Anhui Medical University.

Penelitian tersebut menjelaskan tentang perbandingan kesehatan mental siswa di Cina pada saat sebelum dan sesudah sekolah ditutup dan dibuka kembali selama pandemi COVID-19.

Saat laju penyebaran COVID-19 di Cina sangat tinggi, pemerintah Cina memutuskan untuk menutup sekolah-sekolah dan menunda dimulainya semester baru.

Penelitian tersebut terdiri dari 1.241 responden yang telah mengisi kuesioner. Para responden tersebut terdiri dari siswa di kelas 4 sekolah dasar (SD) hingga kelas 2 sekolah menengah pertama (SMP) di dua Kabupaten Chizhou, Provinsi Anhui.

Daerah tersebut adalah kawasan yang tidak memiliki banyak kasus positif COVID-19.

Penelitian tersebut terbagi ke dalam dua golongan, yaitu golongan pertama pada awal November 2019 (sebelum terjadinya pandemi) dan golongan kedua pada pertengahan Mei 2020, saat sekolah telah dibuka kembali setelah lockdown akibat pandemi.

Dalam kedua golongan tersebut, peneliti memberikan pertanyaan terkait gejala depresi, gejala kecemasan, cedera diri nonsuicidal, ide untuk bunuh diri, rencana untuk bunuh diri, dan percobaan bunuh diri para responden.

Dari keenam faktor di atas, hanya gejala kecemasan yang tidak mengalami peningkatan, sedangkan lima faktor lainnya meningkat.

Gejala depresi meningkat sebesar 6.4%, cedera diri nonsuicidal meningkat sebesar 10.2%, ide untuk bunuh diri meningkat sebesar 7.2%, rencana untuk bunuh diri meningkat sebesar 5.9%, dan percobaan bunuh diri meningkat sebesar 3.4%.

Hasil penelitian tersebut menandakan bahwa pandemi COVID-19 dan penutupan sekolah berdampak negatif pada kesehatan mental siswa.

Penutupan itu memisahkan anak-anak dari teman-teman mereka dan jaringan komunitas mereka yang lebih luas, dan tampaknya berdampak pada kesehatan mental mereka, seperti dilansir laman CNN.

Oleh karena itu, siswa pun perlu mendapat perlakuan dan bimbingan lebih dalam mengatasi masalah mental tersebut agar tidak berdampak secara lebih luas, baik pada dirinya maupun pada orang lain.

Perlu diingat kembali bahwa depresi bukanlah hal yang biasa. Jika dibiarkan, depresi dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar, salah satunya percobaan bunuh diri.

Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri atau bertemu dengan orang lain yang memperlihatkan tendensi tersebut, cobalah berdiskusi dan hubungi pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Masalah Mental Masyarakat Selama Pandemi COVID-19


Sudah banyak penelitian yang menjelaskan kondisi mental masyarakat selama Pandemi ini.

Dikutip dari laman resmi Centers for Disease Control and Prevention, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap warga Amerika serikat menunjukkan hasil bahwa gejala gangguan kecemasan meningkat sekitar tiga kali lipat.

Selain itu, persentase pelaporan gejala gangguan depresi meningkat sekitar empat kali lipat. Angka-angka tersebut adalah hasil perbandingan dengan tingkat yang terlihat salam survei 2019.

Kelompok usia 18-24 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Dalam kelompok ini, sekitar 63% melaporkan gejala kecemasan atau gangguan depresi, 25% melaporkan telah memulai atau meningkatkan penggunaan zat adiktif, dan 25% melaporkan telah mempertimbangkan untuk bunuh diri secara serius.

Sebagai perbandingan, dalam survei nasional yang dilakukan pada 2018, sekitar 14% remaja atau anak muda telah melaporkan mengalami depresi berat dan 11% melaporkan memiliki rencana serius untuk bunuh diri.

Menurut Dr. Elizabeth Reichert, Direktur Klinik Kecemasan Anak dan Stres Traumatis dan Asisten Klinis Profesor dari Stanford Psychiatry and Behavioral Sciences, meningkatnya depresi dan kecemasan masyarakat pada saat pandemi bukanlah suatu hal yang aneh.

"Dalam hitungan hari, hidup kita berubah secara dramatis sehingga muncul rasa ketidakpastian, kehilangan, dan keterasingan yang meluas bagi banyak orang. Kombinasi faktor-faktor ini meningkatkan risiko kecemasan dan depresi," jelas Reichert yang tertuang pada laman resmi Stanford Medicine.

Dikutip dari laman resmi The National Center for Biotechnology Information (NCBI), berikut adalah beberapa faktor yang memungkinkan seseorang merencanakan untuk bunuh diri pada saat pandemi:
    • Isolasi atau social distancing
    • Resesi ekonomi yang disebabkan adanya lockdown
    • Stres, kecemasan, dan tekanan yang dirasakan oleh tenaga medis
    • Boikot sosial dan diskriminasi
Menurut Dr. Elizabeth Reichert, terdapat beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menangani depresi akibat situasi pandemi COVID-19 ini, yaitu:
    • Pertahankan rutinitas Anda seperti biasa agar terhindar dari pikiran dan beban berat.
    • Merawat diri, seperti olahraga rutin, mengonsumsi makanan sehat, banyak minum air putih, dan lainnya.
    • Kurangi konsumsi dan paparan berita negatif terkait COVID-19.
    • Selalu sabar dan hadapi segala masalah yang dimiliki.
---------------------------------------------------------------
Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman maupun kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.


Baca juga artikel terkait DEPRESI atau tulisan menarik lainnya Fatimah Mardiyah
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Fatimah Mardiyah
Penulis: Fatimah Mardiyah
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight