tirto.id - Seiring teknologi yang terus berkembang, pola kejahatan finansial juga ikut berubah. Penipu kini memanfaatkan alat-alat berbasis AI yang semakin canggih, sehingga industri keuangan perlu memahami bagaimana ancaman ini berevolusi di berbagai negara.
Di dark web, misalnya, muncul chatbot dan mesin pencari khusus yang dirancang untuk aktivitas ilegal. Tools seperti WormGPT, FraudGPT, dan DarkBERT menunjukkan bagaimana teknologi yang seharusnya membantu justru bisa dimanfaatkan untuk memperhalus aksi kejahatan. WormGPT dan FraudGPT sering digunakan untuk menghasilkan email phishing yang sangat meyakinkan, sementara DarkBERT membantu pelaku memahami pola komunikasi di dark web dengan lebih presisi.
Dengan dukungan teknologi ini, phishing menjadi semakin personal dan sulit dikenali, sering kali disertai malware polimorfik yang terus berubah bentuk agar lolos dari deteksi. Perkembangan ini menegaskan bahwa kejahatan finansial tidak lagi statis, melainkan terus berevolusi. Karena itu, memahami perubahan ini menjadi langkah penting bagi industri keuangan untuk membangun perlindungan keuangan yang lebih kuat.
Modus Scam Berkembang Seiring Zaman
Penipuan selalu ada di setiap zaman, dan modusnya terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Pada masa ketika SMS menjadi sarana komunikasi yang digandrungi masyarakat, salah satu modus penipuan yang terkenal adalah bagi-bagi hadiah. Sekarang, modus yang sama kembali muncul, tetapi memanfaatkan AI.
Laporan terbaru Visa bertajuk The Anti-Scam Playbook: Market Responses and Industry Insights (Mei 2025) mencatat bahwa secara global lebih dari US$1 triliun hilang akibat scam dalam periode Agustus 2022–Agustus 2023. Di kawasan Asia saja, kerugian pada 2024 diperkirakan mencapai US$688 miliar.
Data ini menunjukkan bahwa ancaman scam tidak lagi bersifat sporadis, melainkan sistemik hingga lintas negara. Indonesia, dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, tentu tidak terlepas dari tantangan ini.
Dalam konteks inilah, penting untuk memahami secara lebih tepat apa yang dimaksud dengan scam. Dalam playbook tersebut, Visa mendefinisikan scam sebagai kondisi ketika seseorang tertipu sehingga mereka sendiri melakukan dan menyetujui pembayaran karena menganggap transaksi itu sah. Artinya, pelaku tidak selalu membobol sistem atau mengambil alih akun, melainkan memanipulasi korban agar secara sadar mentransfer dana atau membagikan informasi sensitif.
Kerugian akibat scam tidak hanya berdampak secara finansial, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap sistem pembayaran digital. Bagi Indonesia yang tengah mendorong inklusi keuangan dan transformasi digital, menjaga kepercayaan publik menjadi faktor penting.
Di tingkat nasional, regulator juga melihat tren yang semakin meluas. OJK mencatat modus penipuan digital kini menyasar kelompok dengan akses digital tinggi, termasuk generasi muda, serta kelompok rentan seperti lanjut usia, menunjukkan bahwa ancaman tidak hanya menimpa satu segmen masyarakat saja.
Inisiatif Visa: Mengoptimalkan AI Demi Keamanan dan Kenyamanan Pelanggan
Agar terhindar dari berbagai bentuk kejahatan digital, literasi digital dan literasi keuangan sama-sama diperlukan, di samping merancang sistem pertahanan yang canggih dari sisi penyedia layanan.
Sebagai salah satu pelaku utama di industri pembayaran digital, Visa telah memanfaatkan teknologi berbasis AI untuk manajemen risiko dan pencegahan fraud selama lebih dari tiga dekade. Menghadapi ancaman yang semakin kompleks seperti AI, respons yang dibutuhkan tidak bisa parsial. Visa menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi lintas ekosistem, melibatkan institusi keuangan, penyedia infrastruktur, regulator, merchant, serta konsumen.
Visa memperkuat sistem pertahanannya melalui investasi jangka panjang. Dalam lima tahun terakhir, Visa telah menginvestasikan lebih dari US$13 miliar untuk teknologi dan inovasi, menghadirkan sistem berbasis AI yang menganalisis miliaran data di lebih dari 11 miliar endpoint untuk lebih dari 200 miliar transaksi setiap tahun. Kemampuan ini memungkinkan Visa memblokir hampir dua kali lebih banyak transaksi e‑commerce yang bersifat fraud pada 2025, sekaligus menurunkan tingkat penipuan di seluruh jaringan.
Manideep Gupta, VP, Visa Consulting & Analytics, Asia Pasifik, menyatakan bahwa seiring dengan berkembangnya AI dan munculnya risiko baru di seluruh ekosistem pembayaran, investasi teknologi yang berkelanjutan menjadi semakin penting untuk menghadapi penipuan yang kian canggih.
“AI memainkan peran yang semakin besar dalam cara industri mengelola risiko. Berdasarkan pengalaman kami di berbagai pasar, kami membantu institusi keuangan menerjemahkan teknologi ini menjadi strategi praktis yang memperkuat keamanan, kepercayaan, dan pengalaman pelanggan.”
Visa membantu klien memahami teknologi baru dan pola penipuan yang terus berkembang dalam konteks perubahan yang lebih luas di ekosistem. Visa Consulting & Analytics bermitra dengan institusi keuangan untuk mengidentifikasi peluang, menemukan titik rawan, dan bergerak cepat dari insight ke implementasi. Pendekatan ini memungkinkan klien meningkatkan akuisisi pelanggan, memperdalam keterlibatan, serta mengelola risiko dengan lebih presisi dalam lingkungan yang semakin terhubung dan siap menghadapi masa depan.
Selain penguatan kapabilitas konsultatif melalui AI Advisory, Visa juga memperluas upaya perlindungan secara operasional. Antara lain, Visa Scam Disruption (VSD) Practice yang diluncurkan Maret 2025 lalu untuk mengidentifikasi dan menghentikan jaringan scam secara proaktif melalui analitik canggih dan teknologi generative AI. Selain itu, melalui program Visa Scam Disruption, Visa bekerja sama dengan klien dan aparat penegak hukum untuk menindak lebih dari 25.000 merchant scam yang mewakili lebih dari US$1 miliar potensi fraud, serta terus memperluas kapabilitas pencegahan ini ke berbagai tools commerce berbasis agen yang sedang berkembang.
Selanjutnya ada Visa Protect untuk Account-to-Account (VPA2A) menghadirkan penilaian risiko real-time sebelum dana dikirimkan pada setiap transaksi, membantu institusi keuangan mendeteksi transaksi mencurigakan dalam pembayaran instan. Sementara itu, adopsi Visa Token Service (VTS) di Asia Pasifik terbukti meningkatkan keberhasilan transaksi dan menurunkan tingkat fraud secara signifikan, bahkan lebih dari 50% pada merchant yang telah menggunakannya.
Lapisan Keamanan di Balik Sebuah Transaksi Sederhana
Di balik setiap transaksi nontunai yang terlihat sederhana, terdapat infrastruktur keamanan berlapis yang bekerja secara konsisten untuk menjaga integritas ekosistem pembayaran. Visa menerapkan pendekatan pertahanan multi-layer yang memantau jaringan globalnya sepanjang waktu, mengidentifikasi potensi ancaman sejak dini, dan membagikan intelijen secara real-time kepada para mitra. Melalui kolaborasi erat dengan bank, platform fintech, dan pelaku industri lainnya, Visa memperkuat kepercayaan dan keamanan dengan menyediakan panduan praktis serta edukasi berkelanjutan, sehingga bisnis dan konsumen dapat mengadopsi solusi pembayaran digital dengan keyakinan penuh.
Perkuat Literasi
Direktur Eksekutif SAFEnet, Nenden S. Arum, menyebut publik harus didorong berpikir lebih kritis bahwa penipuan semakin canggih, sehingga harus lebih berhati-hati. Sangat penting untuk memahami bahwa melakukan pencegahan jauh lebih baik ketimbang “mengobati” dampak penipuan atau scamming.
“Melakukan upaya verifikasi dan konfirmasi itu menjadi sangat penting, selain memiliki pemahaman bahwa sesuatu yang too good to be true itu kemungkinan besar memang palsu. Jadi, jangan sampai tergiur oleh iming-iming uang yang besar ataupun iming-iming yang sangat fantastis dan membutakan logika,” kata Nenden kepada reporter tirto.id, awal Oktober 2025.
Hal paling mendasar untuk menghindari jerat kejahatan digital adalah literasi, terutama literasi digital dan literasi keuangan. Dengan keterampilan literasi yang mumpuni, seseorang akan lebih waspada dan berhati-hati dalam menerima dan mencerna informasi. Di jagad maya, informasi melimpah, sehingga kemampuan menyaring informasi menjadi kecakapan yang sangat dibutuhkan.
Berikut adalah beberapa tips untuk menghindarkan diri dari jerat kejahatan digital.
- Jaga Privasi Digital
- Keamanan Berlapis
- Pelajari Cara Mengenali Pesan Phishing Buatan AI dan Memverifikasi Konten
- Bahasa yang tidak lazim atau terlalu formal: Gaya penulisan bisa terasa kaku, terlalu sopan, atau justru terlalu konsisten di banyak pesan.
- Ketidaksesuaian konteks: Isi pesan kadang mencantumkan detail akun yang salah, nama yang keliru, atau permintaan yang tidak masuk akal.
- Nada mendesak atau manipulatif: Pesan phishing sering mendesak penerima untuk segera bertindak, mengklik tautan, atau memberikan informasi pribadi dan keuangan.
- Cermati tautan dan sumber
Dengan mempelajari tanda-tanda ini, seseorang dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan berbasis AI, serangan man-in-the-middle, atau jenis penipuan finansial lainnya.
(JEDA)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































