tirto.id - Iqbal Damanik dikenal sebagai aktivis Greenpeace yang menolak adanya tambang nikel di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Siapa Iqbal Damanik sebenarnya? Kenali sosoknya berikut.
Iqbal Damanik adalah salah satu dari sekian aktivis Greenpeace Indonesia yang namanya kian dikenal publik tanah air setelah lantang menyuarakan penolakan terhadap tambang nikel di kawasan Raja Ampat.
Greenpeace adalah organisasi lingkungan hidup internasional yang bergerak secara independen dan bertujuan untuk melindungi bumi.
Greenpeace Indonesia berhasil mengangkat isu adanya tambang nikel di kawasan Raja Ampat yang mengancam keindahan alam di sana lewat kampanye-kampanye mereka di beberapa akun media sosial.
Profil Iqbal Damanik
Iqbal Damanik adalah lulusan dari Universitas Sumatera Utara jurusan Ilmu Komunikasi dan Media. Di tahun 2019, Iqbal melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia mengambil jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan dan berhasil menyandang gelar magister pada tahun 2021.
Saat masih berkuliah, jiwa sosial Iqbal Damanik memang sudah mulai terlihat. Terbukti ia bergabung ke Pusat Penelitian Hubungan Antar Kelompok dan Resolusi Konflik di fakultas FISIP USU.
Lulus dari USU, Iqbal langsung bekerja di Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) sebagai peneliti. Tiga tahun di KPPOD, Iqbal lalu memutuskan untuk resign dan bekerja part time sebagai peneliti di Article 33 Indonesia, sebuah lembaga peneliti kebijakan berbasis bukti yang berfokus pada Pendidikan, Perubahan iklim & lingkungan, Pembangunan inklusif, Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).
Pada 2017 hingga 2021, Iqbal Damanik memangku jabatan sebagai Direktur Pertambangan dan Energi di Auriga Nusantara, sebuah organisasi di Indonesia yang berfokus pada konservasi sumber daya alam dan pengawasan tata kelola lingkungan.
Saat ini Iqbal menjabat sebagai Juru Kampanye Hutan Senior di Greenpeace Asia Tenggara. Iqbal dan Greenpeace Indonesia saat ini sedang gencar menyuarakan gerakan #SaveRajaAmpat di media sosial sebagai bagian dari misinya menyelamatkan kawasan Raja Ampat yang terancam hancur setelah adanya tambang nikel di wilayah tersebut.
“Inilah mengapa Raja Ampat dijuluki sebagai 'Surga Terakhir'. Dengan bentang alam yang sangat indah dipadu dengan keanekaragaman hayatinya yang luar biasa kaya. Siapa coba yang rela kehilangan ini semua? Tapi keindahan ini bisa jadi kenangan, karena beberapa pulau-pulau kecil di Raja Ampat sudah menjadi tambang nikel. Ini yang harus kita hentikan bersama!” tulis salah satu unggahan di akun Instagram @greenpeaceid.
Sebanyak empat aktivis Greenpeace Indonesia sempat diamankan aparat setelah mereka melakukan aksi protes di konferensi Indonesia Critical Minerals Conference di Hotel Pullman Jakarta Central Park, Jakarta Barat, Selasa (3/6/2025).
Setelah beberapa saat berada di Mapolsek Grogol Petamburan, Jakarta Barat, keempat aktivis tersebut dipulangkan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































