tirto.id - Sains semestinya tidak hanya menjadi pengalaman belajar bagi anak-anak yang berada dalam kondisi dan lingkungan belajar yang sama. Setiap anak memiliki hak untuk mengenal, mengeksplorasi, dan mengalami sains dengan cara yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya.
Berangkat dari gagasan tersebut, tim Universitas Tanjungpura (UNTAN) menghadirkan pengalaman sains kimia yang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui serangkaian aktivitas eksperimen sederhana, stimulasi multisensori, serta pelibatan terapis, mentor, orang tua, dan pendamping.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2026 dengan judul “Implementasi Fotokatalisis Alami sebagai Media Pembelajaran Transisi Sensori Visual Anak Berkebutuhan Khusus untuk Mendukung Kesiapan Mengikuti Pendidikan Inklusif.”
Gagasan utama program ini berangkat dari keyakinan bahwa kimia tidak harus selalu hadir dalam bentuk rumus, persamaan reaksi, atau aktivitas laboratorium yang kompleks. Fenomena sederhana yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk untuk menghadirkan pengalaman sains yang bermakna.
“Kami tidak sedang mengajarkan kimia kepada anak berkebutuhan khusus; kami menghadirkan kimia sebagai pengalaman yang dapat mereka lihat, eksplorasi, dan maknai,” demikian pernyataan tim PKM UNTAN.
Bagi tim pelaksana, pengalaman melihat perubahan warna, mengikuti aliran air, mengamati respons suatu bahan, hingga melihat interaksi cahaya dapat menjadi bagian dari stimulasi visual, kognitif, dan motorik anak.
Bermula dari Rainbow in Nature
Rangkaian program tersebut diawali pada 11 Juli 2026 melalui kegiatan Fun Chemistry dengan aktivitas sains bertajuk “Rainbow in Nature”. Sebanyak 14 anak berkebutuhan khusus terlibat dalam kegiatan yang dirancang untuk memperkenalkan fenomena sains melalui bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Anak-anak itu diajak melakukan ekstraksi zat warna alami dari buah dan sayuran. Aktivitas tersebut tidak hanya memberikan pengalaman mengenal warna, tetapi juga dirancang untuk memberikan stimulasi pada aspek kognitif, sensori, dan motorik melalui kegiatan mengambil bahan, mencampur, mengamati, dan merespons perubahan.
Eksplorasi kemudian dilanjutkan dengan memanfaatkan zat warna alami sebagai indikator. Anak-anak mengamati perubahan warna ketika ekstrak berinteraksi dengan bahan yang memiliki kondisi berbeda.
Perasan jeruk lemon digunakan sebagai bahan yang bersifat asam, sedangkan soda kue digunakan untuk memperkenalkan kondisi basa. Cuka juga digunakan untuk memperlihatkan fenomena pada kondisi asam.
Konsep asam dan basa dengan demikian tidak diperkenalkan melalui definisi abstrak semata, tetapi melalui sesuatu yang dapat dilihat secara langsung melalui perubahan warna.
Anak tidak harus terlebih dahulu memahami istilah asam, basa, atau indikator. Mereka dapat memulai dari pengalaman sederhana: melihat warna berubah, mengamati sebab dan akibat, mengikuti proses, dan memberikan respons terhadap perubahan yang terjadi.
Dari Eksperimen Menjadi Media Stimulasi
Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan bersama anak kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui pelatihan bagi terapis dan mentor pada 16 Juli 2026. Pada tahap ini, fokus kegiatan bergeser dari sekadar bagaimana anak melakukan eksperimen menjadi bagaimana pendamping memahami fenomena sains dan menerjemahkannya menjadi aktivitas stimulasi.
Salah satu media yang diperkenalkan adalah Chem Color Journey Kit, alat peraga yang dirancang untuk memperlihatkan perjalanan perubahan warna berdasarkan kondisi lingkungan kimia. Terapis tidak dibekali untuk mengajarkan kimia sebagai mata pelajaran. Mereka justru diajak memahami bagaimana fenomena yang dapat diamati dari perspektif kimia dapat dijadikan dasar untuk menciptakan aktivitas multisensori bagi anak berkebutuhan khusus.
Pendekatan tersebut menempatkan fenomena kimia sebagai media stimulasi, bukan semata-mata sebagai materi akademik. Perubahan warna, misalnya, dapat menjadi stimulus visual. Proses menuang, mencampur, atau mengikuti aliran dapat melibatkan aspek motorik. Sementara mengamati perubahan dan menghubungkan tindakan dengan hasilnya dapat menjadi bagian dari pengalaman kognitif.
Dengan demikian, aktivitas sains sederhana dapat memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan suatu fenomena eksperimen.
Orang Tua Jadi Bagian dari Ekosistem Pembelajaran
Rangkaian kegiatan berlanjut pada 9 Agustus 2026 melalui pelatihan bagi orang tua dan pendamping. Pada tahap ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan media pembelajaran berbasis sains serta bagaimana fenomena sederhana di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari aktivitas stimulasi anak.
Pembekalan juga mencakup pengenalan terhadap label makanan, sehingga orang tua memperoleh perspektif tambahan mengenai informasi yang dapat diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan dilengkapi dengan focus group discussion (FGD) untuk menggali kebutuhan orang tua terkait tumbuh kembang anak, termasuk kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
Pelibatan orang tua menjadi bagian penting karena stimulasi tidak semestinya hanya berlangsung di ruang terapi. Pengalaman belajar dapat dilanjutkan di rumah melalui aktivitas sederhana yang aman, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik anak.
Ketika ABK Belasar Bersama dengan Anak Lainnya
Puncak kegiatan dilaksanakan pada 9 Agustus 2026 melalui science experience yang mempertemukan anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak dengan perkembangan tipikal. Sebanyak 27 anak dengan latar belakang dan karakteristik yang beragam, termasuk anak berkebutuhan khusus dan anak tanpa kebutuhan khusus, mengikuti kegiatan tersebut dalam satu ruang pengalaman sains.
Penggabungan peserta ini bukan sekadar untuk membuat kegiatan menjadi lebih ramai. Lebih jauh, kegiatan dirancang sebagai bentuk exposure terhadap lingkungan sosial pembelajaran yang inklusif.
Anak berkebutuhan khusus tidak hanya diajak melakukan aktivitas yang secara khusus dirancang untuk kebutuhan mereka, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berada dalam kelompok bersama anak lainnya, mengikuti instruksi, mengamati aktivitas teman, berinteraksi, serta berpartisipasi dalam pengalaman belajar yang sama. Di sinilah konsep inklusi diperluas.
Kesiapan menuju pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk mengenali lingkungan, beradaptasi terhadap situasi sosial, mengikuti dinamika kelompok, dan merasa nyaman ketika belajar bersama.
Aktivitas sains menjadi salah satu medium untuk menciptakan pengalaman tersebut. Selain eksplorasi warna alami dan indikator asam-basa, anak-anak juga diperkenalkan dengan fenomena fotokatalisis sederhana melalui kotak fotokatalisis dengan sumber cahaya.
Aktivitas ini memperkenalkan secara visual bahwa cahaya dapat berperan dalam suatu proses kimia. Dengan cara tersebut, cahaya, warna, air, dan perubahan yang terjadi di dalam alat tidak sekadar menjadi objek eksperimen, tetapi menjadi pengalaman visual yang dapat diamati dan dieksplorasi oleh anak.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi lintas disiplin. Tim pelaksana utama diketuai oleh Risya Sasri, S.Si., M.Sc., dengan anggota Dr. Lia Destiarti, M.Si. dan Ariyani Ramadhani, S.T., M.Pd., serta anggota mahasiswa Defi Sriwulandari, Radwa Adila Tsabita, dan Jennifer.
Risya Sasri dan Lia Destiarti merupakan dosen Jurusan Kimia FMIPA Universitas Tanjungpura, sementara Ariyani Ramadhani merupakan dosen Program Studi PG PAUD FKIP Universitas Tanjungpura.
Kolaborasi ini mempertemukan perspektif kimia dan pendidikan anak usia dini, sehingga pengembangan aktivitas tidak hanya mempertimbangkan fenomena ilmiah, tetapi juga aspek pendidikan dan kebutuhan perkembangan anak.
Program bermitra dengan Griya Anak Gang Sehat, sebuah klinik tumbuh kembang dan layanan multisensori bagi anak berkebutuhan khusus. Griya Anak Gang Sehat terlibat secara kolaboratif dalam rangkaian kegiatan, mulai dari pelaksanaan aktivitas bersama anak, pelatihan terapis dan pendamping, hingga kegiatan bersama orang tua.
Kemitraan tersebut menjadi bagian penting dari program karena pengalaman dan kebutuhan praktis dari lingkungan layanan tumbuh kembang menjadi salah satu dasar dalam menerjemahkan konsep sains ke dalam aktivitas yang lebih sesuai bagi anak.
Pelaksanaan program juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Chemistry Insight Center Jurusan Kimia UNTAN serta dukungan keluarga besar Jurusan Kimia. Kolaborasi ini mendapat dukungan penuh dari Ketua Jurusan Kimia, Dr. Anis Shofiyani, M.Si., serta Koordinator Program Studi Kimia, Dr. Winda Rahmalia, M.Si.
Dukungan teknis kegiatan turut diberikan oleh Yoga dan Titik selaku laboran, mahasiswa S2 Syf. Jubaidah dan Faiza, serta mahasiswa S1 Jumaidi, Irfan Riva'i, Syf. Fadhilah, Resha Tasia, Owen, Isyara, Syifa Aulia, Aysya, Yanti, Chris John, Akbar, Irfan Yusuf, Dheana dan Salsa.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa sebuah inovasi pembelajaran tidak lahir dari kerja satu orang atau satu bidang ilmu saja. Ketika dosen, mahasiswa, tenaga laboratorium, praktisi, orang tua, dan mitra masyarakat berada dalam satu ekosistem kolaborasi, pengetahuan dapat bergerak keluar dari ruang akademik dan hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dari Eskperiman Menuju Pengalaman
Rangkaian kegiatan Rainbow in Nature, pelatihan terapis, pelibatan orang tua, hingga science experience menunjukkan sebuah alur yang saling berkesinambungan.
Anak-anak mendapatkan pengalaman sains, terapis dan mentor memperoleh pemahaman mengenai bagaimana fenomena sains dapat diterjemahkan menjadi media stimulasi, serta orang tua memiliki bekal untuk melanjutkan pengalaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahap berikutnya, anak berkebutuhan khusus diharapkan memperoleh kesempatan untuk membawa pengalaman tersebut ke dalam lingkungan sosial bersama anak lainnya. Dengan demikian, tujuan program tidak berhenti pada kemampuan anak mengenal warna, asam-basa, atau cahaya.
Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa sains kimia dapat mengambil peran yang lebih luas dalam pendidikan inklusif. Kimia tidak hanya menjadi ilmu yang dipelajari di ruang kelas dan laboratorium, tetapi dapat menjadi media untuk membuka ruang eksplorasi, stimulasi, komunikasi, dan interaksi.
Setiap anak mungkin memiliki cara yang berbeda untuk melihat, merasakan, memahami, dan merespons dunia. Karena itu, menghadirkan pengalaman belajar yang inklusif bukan berarti membuat semua anak belajar dengan cara yang sama, melainkan menyediakan ruang agar setiap anak dapat berpartisipasi dan berkembang sesuai potensinya.
Dari warna alami hingga cahaya, dari eksperimen sederhana hingga interaksi bersama teman sebaya, kimia dihadirkan sebagai pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak.
Masuk tirto.id
































