Menuju konten utama

Soal Longsor Cisarua, Tito Karnavian: Perlu Ada Reboisasi

Mendagri Tito Karnavian menyebut perlu ada reboisasi di lokasi longsor Cisarua dan masyarakat tidak lagi menempati wilayah tersebut.

Soal Longsor Cisarua, Tito Karnavian: Perlu Ada Reboisasi
Posko evakuasi korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat, menjadi salah satu titik evakuasi warga. tirto.idAkmal Firmansyah/

tirto.id - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menuturkan, akan melakukan penanganan jangka pendek dan jangka panjang soal longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Langkah jangka pendek yaitu pencarian korban yang masih hilang harus dimaksimalkan, disertai dengan pendampingan bagi keluarga korban serta warga yang terdampak dan harus direlokasi.

“Yang pertama jangka pendek dulu, semaksimal mungkin untuk mencari yang hilang. Yang wafat dibantu keluarganya, dan yang direlokasi juga sudah dibantu,” kata Tito.

Adapun jangka panjang, Ia menyebut, pentingnya relokasi permanen ke wilayah yang lebih aman. Tito mengatakan, lokasi terdampak longsor tidak layak lagi untuk dijadikan kawasan permukiman.

“Menurut saya, tempat seperti ini jangan ditempati lagi. Harus direboisasi, ditanam tanaman yang akarnya keras supaya struktur tanahnya bisa menguat kembali. Kalau kembali lagi, nanti akan longsor lagi,” tegasnya.

Ia menambahkan, peristiwa ini harus menjadi pembelajaran bagi daerah lain agar tata ruang diperkuat, khususnya di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.

“Daerah-daerah rawan seperti ini harus kita petakan. Setiap bupati, wali kota, dan gubernur harus memetakan secara nasional untuk mengantisipasi kerawanan hidrometeorologis. Hujan lebat seperti ini bisa terjadi lagi,” tambah dia.

Mengenai kemungkinan langkah hukum, Tito menyebut, hal tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut dan tidak menjadi fokus utama saat ini.

“Kita belum tahu bagaimana tata ruangnya. Itu nanti dulu. Sekarang fokus dulu pada penanganan dan pengamanan,” tuturnya.

Kondisi Cisarua, Tito menuturkan mirip dengan wilayah yang pernah dirinya tinjau, seperti Banjarnegara dan Cilacap.

“Daerah perbukitan yang gembur ini banyak permukiman, dan tanaman pelindung yang akarnya menancap ke dalam banyak berganti menjadi hortikultura dan sayur-sayuran. Itu membuat sangat rentan kalau terjadi hujan keras,” katanya.

Menurutnya, bencana tak semata dipicu hujan ekstrem, melainkan oleh kombinasi struktur tanah yang gembur, kawasan perbukitan yang dipadati permukiman, dan hilangnya vegetasi berakar kuat yang selama ini menjadi penahan alami tanah.

“Tanah di sini subur, tapi tidak kokoh. Sama seperti Banjarnegara dan Cilacap. Kalau hujan keras, sangat mudah bergerak,” ungkap dia.

Baca juga artikel terkait LONGSOR atau tulisan lainnya dari Akmal Firmansyah

tirto.id - Flash News
Kontributor: Akmal Firmansyah
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Dipna Videlia Putsanra