tirto.id - Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel telah memasuki hari ke-14 pada Jumat (13/3/2026). Serangan militer masih terus terjadi di kawasan Teluk, jumlah korban terbunuh terus meningkat, dan belum ada indikasi de-eskalasi konflik dalam waktu dekat.
Pada Jumat pagi, Teheran digempur serangan udara. Seturut Al Jazeera, militer Israel melakukan gelombang serangan ekstensif ke ibu kota Iran tersebut. Asap tebal dilaporkan terlihat di banyak wilayah.
Serangan itu dilancarkan Israel sehari pasca-pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, merilis pesan publik pada Kamis (12/3/2026) malam. Ini jadi pernyataan publik perdana Mojtaba sejak menjabat.
Pesan perdana Mojtaba berisi penegasan bahwa Iran akan terus melakukan serangan balasan dengan menargetkan aset militer AS-Israel di kawasan Teluk dan Mediterania. Mojtaba juga menuntut ganti rugi kepada Washington dan mendesak negara tetangga untuk menyetop pangkalan militer AS di wilayah mereka.
Pasca perilisan pernyataan publik perdana pemimpin tertinggi mereka yang baru, Iran juga melancarkan serangan baru ke kawasan Teluk. Serangan baru ini dilakukan dengan target fasilitas minyak negara-negara Teluk yang terkait dengan AS.
Arab Saudi, misalnya, mengumumkan pada Jumat bahwa sistem pertahanan udaranya telah mencegat 10 drone di bagian timur wilayah mereka. Dalam laporan terpisah, Saudi juga menyebut bahwa mereka telah menghancurkan 28 drone yang memasuki wilayah mereka.
Selain Saudi, Iran juga menyerang Israel pada Jumat dini hari. Militer Israel menyebut bahwa Iran telah meluncurkan rentetan serangan rudal ke Israel, membuat penduduk di wilayah terdampak diminta untuk mengevakuasi diri.
Israel Ancam Bubarkan Rezim Iran dan Australia Minta Warganya Evakuasi
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, membuat keterangan publik dan menyebut bahwa negara Zionis itu bisa saja menciptakan kondisi untuk memaksa Iran melakukan perubahan rezim.
Akan tetapi, Netanyahu menyebut bahwa dilakukan atau tidaknya operasi perubahan rezim Iran akan bergantung pada kesediaan rakyat Iran untuk turun ke jalan. Netanyahu juga menyatakan bahwa Israel kini tengah berusaha menghentikan upaya pemindahan proyek nuklir dan rudal balistik Iran di bawah tanah.
Di tengah situasi tersebut, Australia mengeluarkan perintah kepada pejabat "yang tidak esensial untuk meninggalkan Uni Emirat Arab dan Israel". Perintah evakuasi itu juga berlaku bagi warga negara Australia yang tinggal di Asia Barat.
Dalam pernyataannya, Pemerintah Australia mendorong warganya mengevakuasi selagi masih ada jalur yang aman untuk melakukannya.
Sementara itu, wilayah udara Qatar secara resmi telah ditutup. Penerbangan komersial di sana dilarang, namun masih ada 140 penerbangan Qatar Airways yang telah dijadwalkan untuk membantu pemulangan penduduk dan warga terdampar.
Politik Dalam Negeri AS Bergejolak
Di AS, jalannya peperangan di Iran telah memicu lebih banyak perdebatan di dalam negeri. Banyak pihak mulai mempertanyakan urgensi perang dan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuknya.
Lebih dari 250 organisasi AS baru saja mengirim surat bersama untuk mendesak Kongres menghentikan pendanaan perang. Mereka berpendapat bahwa biaya USD11,3 miliar yang dihabiskan AS dalam enam hari pertama Perang Iran akan lebih berguna jika digunakan untuk kebutuhan dalam negeri yang mendesak.
Senator AS Lindsey Graham juga membuat pernyataan bahwa kemungkinan AS mengerahkan pasukan darat ke Iran kini mengecil. Meski begitu, senator dari Partai Republik itu menyebut bahwa perang masih dapat terus berlanjut dalam beberapa waktu.
Ketika situasi politik dalam negeri AS mulai bergolak, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa situasi perang di Iran akan "bergerak sangat cepat". Ia mengeklaim bahwa militer AS "tak tertandingi" dan menyebut operasi militer di Iran "berjalan sangat baik".
Pernyataan Trump itu dikeluarkan meskipun Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis keterangan bahwa pesawat pengisi bahan bakar AS KC-135 telah jatuh di Irak bagian barat pada Jumat.
Organisasi Perlawanan Islam di Irak mengklaim bahwa jatuhnya pesawat itu adalah tindakan mereka. Hanya saja, CENTCOM menyebut KC-135 jatuh di "wilayah udara bersahabat" dan bukan akibat tembakan musuh.
Perang Iran vs AS-Israel Belum Menunjukkan De-eskalasi
Baik Trump, Mojtaba, maupun Netanyahu hingga kini tak menunjukkan indikasi kesediaan mereka untuk melakukan de-eskalasi konflik. Namun, di tengah hal tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat pernyataan pada Jumat bahwa seorang tentara Prancis tewas di Erbil, Irak.
Tentara yang terbunuh itu diidentifikasi sebagai Arnaud Frion. Ia jadi korban tewas dalam sebuah serangan drone di Irak yang juga membuat beberapa tentara lain terluka, sebagaimana dinukil dari CNN.
Macron menyebut bahwa pasukan Prancis yang terluka itu adalah tentara yang ditugaskan dalam misi internasional membantu militer Irak memberantas sisa-sisa simpatisan ISIS di wilayah tersebut.
Laporan korban yang terbunuh karena serangan tak hanya diungkap Macron. Lebanon juga merilis laporan korban jiwa baru dalam serangan Israel ke sebuah universitas di sana pada Kamis. Setidaknya, dua akademisi universitas itu terbunuh.
Serangan Israel di desa Arki, Lebanon juga membunuh sembilan orang. Lima di antaranya adalah anak-anak.
Para pejabat Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel di wilayah tersebut telah membunuh setidaknya 687 orang, 98 di antaranya adalah anak-anak. Serangan intensif Israel juga dilaporkan telah memaksa sekitar 700.000 hingga 750.000 orang Lebanon terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Jumlah korban yang terbunuh juga meningkat di Iran. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyebut bahwa setidaknya 1.348 warga sipil Iran telah terbunuh. Para korban ini memiliki usia yang variatif, antara delapan bulan hingga 88 tahun.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































