Menuju konten utama

Pemerintah AS Kecam CNN Gegara Pesan Pemimpin Tertinggi Iran

Media CNN dikecam pemerintah AS lantaran menayangkan pesan-pesan yang disampaikan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Pemerintah AS Kecam CNN Gegara Pesan Pemimpin Tertinggi Iran
kantor pemimpin tertinggi Iran, menunjukkan Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari 2026 . (Foto oleh KHAMENEI.IR / AFP)

tirto.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi mengecam pemberitaan CNN pada Kamis (12/3/2026) karena mempublikasikan pernyataan perdana pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Kecaman ini adalah kali kedua dalam tiga hari yang ditujukan kepada outlet berita itu.

Mojtaba Khamenei, yang selama ini absen dari sorotan publik sejak terpilih jadi pemimpin tertinggi Iran, sebelumnya membuat pernyataan perdana setelah menjabat pada Kamis. Sebagian pernyatan itu lalu ditampilkan CNN dalam sebuah tayangan televisi.

Menukil AP, pemberitaan CNN itu lalu dikecam oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Gedung Putih melabeli CNN sebagai otlet berita palsu dan mengecam penayangan pernyataan Mojtaba selama empat menit di saluran televisi CNN.

"Situs berita palsu CNN baru saja menayangkan TV pemerintah Iran selama empat menit berturut-turut tanpa gangguan, dijalankan oleh rezim psikopat dan pembunuh yang sama yang bangga membantai orang Amerika secara brutal selama 47 tahun," tulis Gedung Putih dalam pernyataan resmi di media sosial.

Kecaman itu kemudian ditanggapi CNN. Outlet berita itu menyebut bahwa CNN bukan satu-satunya media yang menampilkan pernyataan Mojtaba secara langsung.

Selain itu, redaksi CNN menyebut bahwa penayangan pernyataan perdana Mojtaba adalah hal penting bagi publik untuk mengantisipasi ke mana Perang Iran akan mengarah di kemudian hari.

"Pernyataan yang diakui dari pemimpin tertinggi baru Iran adalah komponen penting dalam membantu khalayak memahami ke mana arah konflik ini dan ditayangkan karena nilai berita mereka yang jelas," tulis keterangan CNN.

Kepala Komunikasi Trump Sebelumnya Kritik Wawancara CNN

Dalam iklim "kebebasan berpendapat" di AS, CNN telah lama jadi target kecaman pemerintahan Trump, bahkan sejak masa jabatan pertama Trump pada 2017-2021.

Kecaman Gedung Putih pada Kamis lalu juga merupakan kecaman kedua dalam tiga hari terakhir. Sebelumnya, pada Selasa (10/3), Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung terlebih dahulu mengecam CNN ketika mewawancarai Hossein Mousavian.

Mousavian adalah mantan negosiator nuklir Iran. Dalam tayangan berita, pembawa acara CNN Erin Burnett bertanya kepada Mousavian tentang apakah ia mendengar informasi tentang minat Pemerintah Iran untuk melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Wawancara itu kemudian dikecam oleh Direktur Komunikasi Gedung Putih. Melalui media sosialnya, Steven Cheung menyebut wawancara itu sebagai produk jurnalistik yang "benar-benar memalukan".

"Pernahkah memperhatikan bagaimana CNN memuntahkan kutipan dan informasi yang belum diverifikasi dari teroris Iran?" tulis Cheung di X.

"Benar-benar memalukan. Mereka telah menjadi Pravda versi Rezim Iran yang mematikan," kata Cheung, menyamakan CNN dengan surat kabar resmi Uni Soviet.

CNN tak merespons kecaman Cheung di X.

Isi Pesan Pertama Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei, anak Ayatollah Ali Khamenei yang dibunuh, menggunakan pernyataan publik perdananya sebagai pemimpin tertinggi Iran untuk mengungkapkan bahwa Teheran akan terus melakukan serangan.

Menukil The Guardian, pernyataan perdana Mojtaba itu disiarkan oleh kantor berita resmi Iran tanpa menampilkan sosok Mojtaba, yang belakangan dilaporkan terluka dan dirumorkan tewas. Stasiun televisi milik Pemerintah Iran hanya membacakan pernyataan pemimpin baru Iran itu.

Akan tetapi, isi pesan perdana Mojtaba berisi pernyataan bahwa Teheran tak berniat untuk melakukan de-eskalasi konflik. Mojtaba menyebut Teheran akan terus menyerang sebagai "pembalasan atas darah para syahid".

Mojtaba turut menyatakan secara eksplisit insiden terbunuhnya lebih dari 160 orang—mayoritas siswi usia sekolah dasar—di sekolah putri di Minab akibat serangan rudal. Mojtaba menyebut bahwa insiden itu adalah salah satu dasar balas dendam Iran ke AS-Israel.

"Kejahatan yang sengaja dilakukan oleh musuh terhadap Sekolah Shajara Tayyibah di Minab dan kasus-kasus serupa lainnya akan mendapat perhatian khusus dalam proses pembalasan ini," tulisnya.

Pesan itu juga berisi tuntutan agar Washington membayar ganti rugi yang diderita Iran akibat perang. Tanpanya, Teheran disebut Mojtaba akan menyita atau bahkan menghancurkan aset AS di Teluk.

"Kita akan menuntut ganti rugi dari musuh. Jika mereka menolak, kita akan menyita aset mereka sesuai dengan yang kita anggap pantas, dan jika itu tidak memungkinkan, kita akan menghancurkan aset mereka dalam jumlah yang setara."

Melalui pesan itu, Mojtaba juga menyiratkan keinginan Teheran untuk mencapai hubungan damai dengan negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Mojtaba menyebut Iran "masih percaya pada perlunya persahabatan" antara negara-negara di kawasan Teluk.

Akan tetapi, hal itu disebut Mojtaba dapat terjadi jika negara-negara tersebut dapat terlebih dahulu "memperjelas posisi mereka terhadap para agresor".

Mojtaba menyerukan agar negara-negara di kawasan Teluk untuk menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka.

"Karena mereka [negara kawasan Teluk] pasti sudah menyadari bahwa klaim AS tentang menjamin keamanan dan perdamaian hanyalah kebohongan belaka," bunyi pesan Mojtaba.

Selain itu, pesan itu juga berisi rencana Teheran untuk terus berupaya memblokir Selat Hormuz. Ketiadaan jaminan keamanan pada jalur pengiriman minyak dunia ini sepanjang Perang Iran telah memicu kenaikan harga minyak dunia mencapai USD100 per barel.

"Tentu saja pengaruh pemblokiran Selat Hormuz harus terus digunakan. Studi telah dilakukan tentang pembukaan front lain di mana musuh memiliki sedikit pengalaman dan akan sangat rentan."

Akan tetapi, dalam pernyataan publik perdananya itu, Mojtaba tidak banyak berkomentar tentang isu perpecahan internal di Iran yang dilaporkan terjadi belakangan ini. Terkait hal ini, Mojtaba hanya menyerukan persatuan nasional "di tengah masa sulit".

"Tidak boleh ada kerusakan pada persatuan bangsa di antara individu dan kelompok-kelompok bangsa yang biasanya menjadi sangat jelas di masa-masa sulit."

Mojtaba juga tidak menyampaikan permohonan maaf atas kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan Iran di kawasan Teluk. Namun, ia menyebut bahwa serangan-serangan itu dilakukan tanpa niat "untuk menjajah atau mendominasi".

Selain itu, Mojtaba secara eksplisit menyatakan ucapan terima kasih kepada kelompok bersenjata Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon. Kedua organisasi itu disebut Mojtaba telah membantu Iran dalam jalannya pertempuran sejak 28 Februari lalu.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar