Sikap Mom Shaming yang Meracuni Ibu-Ibu

Infografik Kasus Mom-Shaming
Ilustrasi ibu dan anak. FOTO/Istockphoto
Oleh: Yulaika Ramadhani - 16 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Pakai pengasuh, dikomentari. Menyusui susu formula atau ASI, dikomentari. Bahkan empeng pun jadi bahan nyinyiran.
tirto.id - Bertukar pikiran tentang pengasuhan anak tentu amat berguna. Seorang ibu dapat meninjau, membandingkan, serta menimbang baik-buruk soal ini-itu terkait anak. Namun, menyampaikan sesuatu sebagai jalan bertukar pikiran lain dengan kenyinyiran, apalagi yang disertai kesinisan.

Pesohor Sandra Dewi turut merisaukan perkara ini. Ibu dari Raphael Moeis ini bercerita ia sering mendapat komentar tidak mengenakkan dari warganet terkait pola asuh anak.

"Saya pernah nonton ke bioskop berdua suami, langsung ada yang komentar 'kok bisa ya anaknya ditinggalin, tega banget. Kok bisa ya punya anak tapi tetap cantik, pasti enggak ngurusin anaknya deh'," ujar Sandra Dewi, seperti dikutip Antara.

Me-time, bagi Sandra Dewi, adalah hal wajar—bahkan perlu—untuk siapa pun, termasuk bagi ibu yang juga butuh waktu menenangkan pikiran di antara kesibukannya membesarkan anak. Meski pandangan soal pembagian peran suami-istri sudah bergeser, umumnya beban mengasuh anak masih dianggap berada di tangan ibu.

Jika Sandra Dewi dipertanyakan keibuannya gara-gara pergi ke bioskop, lain lagi yang disaksikan Hayati, pegawai pabrik berusia 27 tahun yang tengah hamil muda. Hayati bercerita kegemasannya terhadap komentar rekan-rekan kerjanya yang menurutnya sangat mengganggu, terlebih beberapa bulan lagi ia juga akan menjadi ibu.

“Baru hamil beberapa minggu saja sudah dapat omongan, 'Besok kalau bisa jangan lahiran caesar, kalau mau benar-benar ngrasain jadi ibu sih’,” tutur Hayati menirukan nasihat teman satu pabriknya.

Belum lagi orangtuanya yang sudah mendikte dalam berbagai topik, mulai dari nasihat untuk menitipkan sang anak nanti ke mereka, alih-alih diasuh ART, sampai saran-saran sepele macam, "jangan diempengi", "jangan sering diajak main keluar rumah", dan lain sebagainya.

“Kata Mama, dititipkan ke Mama saja biar enggak jadi 'anak pembantu'. Sarannya baik, tapi sangat-sangat mengganggu buatku yang baru akan belajar jadi ibu,” tandas Hayati.


Penghakiman dan gaya mendikte tak hanya dilakukan keluarga, kerabat, dan teman. Media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Facebook juga menjadi tempat paling mudah menghakimi orang lain terkait cara mengasuh anak.

Hal ini menimpa Mariah Carey, saat ia mengunggah foto anaknya yang masih menggunakan pacifier alias empeng. Warganet menilai penggunaan empeng tidak baik untuk pertumbuhan gigi anak. Mila Kunis, aktor sekaligus istri Ashton Kutcher juga mengalami hal semacam ini. Vanity Fair menulis Kunis menghadapi komentar negatif karena ia memutuskan menyusui anaknya di ruang-ruang publik.

"Saya mendukung pilihan setiap perempuan untuk melakukan apa yang membuat mereka bahagia. Bagi saya sendiri, saya akan menyusui anak saya. Dan benar, saya akan tetap menyusui di mana pun anak saya butuh," tegas Kunis.


Pelakunya Orang-Orang Terdekat

Mom-shaming atau perilaku merendahkan atau menghakimi cara asuh dan membesarkan anak, ironisnya, kerap dilakukan oleh orang-orang terdekat.

Sebuah survei yang terbit pada 2017 dengan responden ibu-ibu bermomongan balita di Amerika Serikat menyebut mom-shaming kerap dilakukan oleh orangtua. Berdasarkan polling ini, 37 persen pelaku mom shaming adalah bapak atau ibu, 36 persen datang dari suami/pasangan/orangtua wali, dan 31 persen dari mertua.

Survei ini juga mencatat bahwa ibu-ibu koresponden banyak mendapat kritik dari teman sebayanya (14 persen), ibu tak dikenal yang mereka jumpai di ruang publik (12 persen), juga komentator di sosial media (7 persen).

Survei Mott Children’s Hospital Michigan ini juga melaporkan topik yang paling banyak dijadikan bahan kritik, yakni cara ibu mendisiplinkan anak mereka, sebesar 70 persen. Topik lainnya: nutrisi yang diatur orangtua untuk anaknya (52 persen), cara menidurkan anak (46 persen), menyusui langsung atau susu botol (39 persen), soal keamanan anak (20 persen), dan tentang pengasuhan anak (16 persen).


Perbedaan cara pandang orangtua dalam membesarkan anak ini bisa dipahami. Setiap orangtua dilatari norma budaya, motivasi, dan tujuan pengasuhan anak yang juga beragam.

Dalam beberapa kasus, informasi baru dari orang lain bisa memotivasi para ibu untuk belajar lagi dan melakukan inovasi dalam praktik pengasuhan anak mereka. Namun, di sisi lain, meski terkadang kritik itu dimaksudkan untuk membangun, kebanyakan ibu melihat nasihat itu tidak benar-benar membantu dan sia-sia.

Survei di atas menyatakan 62 persen ibu merasa nasihat orang lain tidak banyak membantu menjadikannya orangtua yang lebih baik. Dari survei yang sama, 56 persen ibu menyebut mereka terlalu banyak disalahkan dan tidak diberi cukup otoritas untuk mengatur sendiri perilaku anak-anak mereka.

Masih dari penelitian yang sama, 42 persen ibu yang dikritik mengatakan perilaku mom-shaming itu membuat mereka tidak yakin tentang pilihan pengasuhan anak. Perkara ini tentu semakin bermasalah ketika ibu yang dikritik kehilangan kepercayaan dirinya dan tidak yakin sedang menjadi orangtua yang baik untuk anaknya sendiri.


Mengapa umumnya orang suka mengurusi pilihan orang, lebih-lebih menghakimi pola asuh anak orang lain, dan secara sadar bangga menjadi pelaku mom-shaming?

Melissa Divaris Thompson, seorang terapis di New York City menyatakan mom-shaming adalah satu bentuk seorang ibu memvalidasi kemampuan pengasuhan mereka sendiri.

"Beberapa perempuan merasa mereka perlu mempermalukan ibu lain (mom-shaming) sehingga mereka dapat merasa sedikit lebih baik atas cara pengasuhan mereka sendiri, bahkan jika tidak ia sadari sekalipun," jelas Melissa Divaris Thompson, seperti dicatat laman Parents.

Orang rentan melakukan mom-shaming ketika bosan, lelah, marah, cemburu dengan ibu yang lain, atau ketika mereka kurang yakin dengan kapasitas sebagai ibu sehingga merasa ingin mendapat pengakuan oleh orang-orang di sekitar. Rutinitas mengasuh anak memang sangat melelahkan. Terkadang rutinitas itu membuat seorang ibu kewalahan, sehingga ia hilang kepercayaan dirinya, terlebih ketika anaknya mulai tidak mau mematuhi aturan yang dibuat.

Di antara perasaan lelah dan marah itu, seorang ibu rentan melampiaskan emosi ke ibu yang lain, baik dengan memberi komentar menyebalkan atas di sejumlah unggahan di Instagram atau dengan sedikit-sedikit menyalahkan tetangga sebelah atas cara asuh anaknya.

Perasaan ‘cemburu’ yang berlebihan juga sering memotivasi kita mengutarakan komentar-komentar negatif di media sosial. Misalnya ketika melihat postingan gambar seorang ibu yang tampil cantik dengan pakaian renang sedang bersantai di kolam renang. Ibu yang merasa tidak memiliki kemewahan serupa, baik keluangan waktu untuk merawat diri dan bersantai maupun kelonggaran finansial, bisa tergelincir pada penghakiman. Si ibu di dalam gambar bisa dikata-katai suka berleha-leha, tak mengurus anak, dan seterusnya.



Lalu, bagaimana cara terbaik untuk merespons para pelaku mom-shaming ini?

Susan Newman Ph.D, seorang psikolog yang fokus pada isu kehidupan keluarga, menulis dalam laman Psychology Today sejumlah cara untuk merespons pelaku dan perilaku mom shaming ini.

"Fakta yang harus diterima setiap orangtua adalah, menjadi seseorang yang tidak pernah dihakimi adalah hal yang hampir tidak mungkin. Anggap saja hal itu [mom shaming] sebagai tantangan, sehingga ketika ada orang lain yang tiba-tiba mengkritik, Anda sudah tidak terkejut lagi," sarannya.


Berbicara dengan orang-orang yang menghakimi kita memang bukan hal mudah. Terlebih ketika kita bermaksud mempertahankan pilihan pengasuhan atas anak-anak kita kepada mereka yang tidak sepaham.

Yang perlu kita mengerti, lanjut Newman, adalah bahwa sikap menilai dan mengkritik itu ‘digunakan’ orang lain untuk merasa lebih baik. Ibu dan mertua, misalnya, akan merasa lebih baik ketika sudah mencoba terlibat dalam usaha Anda membesarkan anak dengan menjelaskan pengalamannya sebagai ibu.

"Terkadang juga, mereka mengkritik Anda sebagai pelampiasan atas rasa bersalah terkait hal-hal yang luput mereka lakukan kepada anak-anak mereka," kata Newman.

Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang lebih menghargai upaya kita dalam membesarkan anak adalah cara terbaik untuk menjaga diri kita dari pelaku mom-shaming.

Tidak ada orangtua yang sempurna. Disadari atau tidak, semua orangtua pernah membuat kesalahan. Namun, jika Anda kadung mendapat sikap penghakiman, barangkali respons berbentuk lelucon bisa sesekali diambil. Hal-hal yang dikatakan oleh para pengkritik ini bisa menjadi bahan tertawaan menarik dalam tahun-tahun mendatang.

Baca juga artikel terkait POLA ASUH ANAK atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight