Menuju konten utama

Siapa Zara & Kenapa Tagar #justiceforzara dari Malaysia Viral?

Tagar #justiceforzara muncul, terkait kematian siswi 13 tahun, Zara Qairina, diduga korban perundungan. Bagaimana kronologi kematian Zara? Simak laporannya.

Siapa Zara & Kenapa Tagar #justiceforzara dari Malaysia Viral?
Ilustrasi Perundungan Anak. foto/sitockphoto

tirto.id - Tagar #justiceforzara sedang ramai di Malaysia terkait meninggalnya seorang siswi bernama Zara Qairina Mahathir (13), diduga karena bullying. Gadis tersebut meninggal di Rumah Sakit Ratu Elizabeth I pada Kamis (17/7), atau sehari setelah ditemukan tak sadarkan diri di saluran pembuangan dekat asrama (lantai 3) sekolahnya di Papar pada Rabu (16/7).

Kematian Zara Qairina juga membuat para petinggi Malaysia angkat suara. Perdana Menteri (PM) Malaysia, Anwar Ibrahim, meminta penegak hukum di negaranya untuk tak pandang bulu terkait pengusutan kasus tersebut. Belakangan, kematian itu juga mengaitkan anak petinggi Malaysia yang diduga sebagai pelaku. Walakin, Anwar juga meminta masyarakat tak sembarangan memberikan tuduhan.

“Siapa pun yang terlibat, tidak peduli siapa pun (berkaitan) Tan Sri, Datuk Seri, menteri, anak menteri, jika terlibat, pembunuhan atau bersengkongkol, tidak akan diberi perlindungan. Tetapi jangan memfitnah [pelakunya],” kata Anwar Ibrahim dikutip dari B Harian, Minggu (3/8).

Penyebab pasti kematian Zara Qairina sejauh ini belum terungkap. Sementara ibu Zara, Noraidah Lamat (45), mengizinkan penggalian kubur putrinya demi mendapatkan keadilan. Zara sebelumnya dimakamkan di hari kematiannya tanpa autopsi lantaran tidak ada pihak yang memintanya.

"Jadi, untuk mendapatkan jawaban dan keadilan baginya, saya menugaskan dua pengacara untuk mengurus proses penggalian kembali makam anak tersebut guna melakukan otopsi jenazahnya," ujar Noraidah Lamat, dikutip dari H Metro, Jumat (1/8).

Sosok Zara, Siswi Malaysia yang Meninggal karena Dugaan Perundungan

(Trigger Warning) tulisan ini mengandung unsur yang triggering atau memicu trauma.

Zara Qairina Mahathir (13) merupakan siswi Sekolah Menengah Kebangsaan Agama Tun Datu Mustapha. Di sekolah itu, Zara tinggal di asrama yang terletak di Papar, Sabah, Malaysia.

Zara berasal dari Stipang, Sabah, Malaysia, yang berjarak sekitar 100 km dari sekolahnya. Ibunya, Noraidah Lamat, juga tinggal di Sitipang saat Zara dilaporkan tak sadarkan diri di asrama sekolahnya. Zara dikebumikan di kampung halamannya tersebut.

Kematian Zara masih menimbulkan teka-teki terkait dugaan perundungan di sekolahnya. Dalam pengusutannya, kepolisian setempat, juga disinyalir tak melakukan prosedur sebagaimana mestinya.

Setelah meninggal tersebut, tak ada perintah untuk dilakukan autopsi. Selain itu, polisi juga tidak meminta atau mengambil pakaian serta barang-barang yang dikenakan Zara saat ditemukan tak sadarkan diri pada Rabu (16/7), hingga diserahkan ke Kamar Jaksa Agung (AGC).

"Kami sangat terkejut dengan hal ini karena berdasarkan pengalaman kami menangani perkara pidana di pengadilan, sudah menjadi prosedur standar bagi polisi untuk menyita semua barang yang dikenakan oleh korban yang diduga meninggal dunia akibat suatu tindak pidana untuk keperluan penyidikan," ujar pengacara Hamid Ismail dan Shahlan Jufri, kuasa hukum Noraidah, dikutip dari CNA, Senin (4/8).

Usai kematian tersebut, Noraidah juga menyebut bahwa dirinya melihat memar di punggung Zara saat memandikan jenazah putrinya. Temuan itu telah dilaporka pihak Noraidah saat melapor ulang ke polisi setempat pada Minggu (3/8), lantaran tak mencantumkan fakta tersebut dalam laporan sebelumnya. Kepergian anaknya membuat Noraidah sangat terpukul sehingga sempat tak mengingat temuan itu.

"Klien kami yakin memar yang dilihatnya merupakan akibat cedera akibat pukulan benda tumpul di punggung Zara sebelum ia ditemukan di ruang bawah tanah asrama sekolahnya pada dini hari tanggal 16 Juli," tutur kuasa hukum Noraidah.

Sementara itu, belakangan muncul rekamanan percakapan Zara dan ibunya. Dalam rekaman berdurasi 44 detik tersebut, Zara sempat mengungkapkan ketakutannya terhadap salah seorang senior di sekolahnya.

"Bu, Zara takut ketemu Kak M... dia masih di sana. Kemarin (hari itu) Zara minta tolong sama orang ini, kan? Coba tanya kakaknya, coba tanya Kak M apa dia masih ada masalah sama aku," isi rekaman itu.

"Setelah itu Kak M bilang, 'iya, saya masih belum maafin Zara', Bu," ujar suara dalam rekaman itu,”masih dalam rekaman yang sama.

Rekaman itu diyakini diambil beberapa hari sebelum insiden yang menyebabkan kematian Zara Qairina. Tim kuasa hukum Noraina telah mengonfirmasi pada Jumat (1/8), bahwa rekaman itu benar milik kliennya.

"Kalau aku touch touch kau ni, berdarah-darah kau ni… kalau dia buat, apa jadi?" bunyi rekaman tersebut.

Terbaru pada Rabu (6/8), AGC telah mengembalikan laporan investigasi pendahuluan lengkap kepada polisi. Jaksa Agung, Mohd Dusuki Mokhtar, mengatakan laporan investigasi telah dikembalikan kepada polisi, agar dapat menyelesaikan investigasinya.

"Yang kami kembalikan bukan KI (berkas investigasi) melainkan laporan (investigasi pendahuluan lengkap). Kami sudah memberikan arahan tertentu, artinya ada beberapa hal yang harus kami 'susun' (atur) kembali,” tutur Mohd Dasuki dikutip dari H Metro.

"Kalau mau detail, saya tidak bisa mengatakannya di sini, tapi ada beberapa hal yang perlu diselesaikan. Saya tidak bisa mengungkapkan apa itu," tambahnya.

Sebelumnya, AGC dilaporkan sedang memeriksa secara mendalam investigasi awal lengkap yang diterima dari Kepolisian Kerajaan Malaysia (PDRM), masing-masing pada 3 Agustus dari Cabang Sabah dan pada 4 Agustus di Markas Besar Putrajaya.

Kronologi Kematian Zara hingga Muncul Tagar #justiceforzara

(Trigger Warning) tulisan ini mengandung unsur yang triggering atau memicu trauma.

Melansir laporan kronologiSinar Harian, Zara Qairina Mahathir ditemukan tak sadarkan diri di saluran pembuangan dekat gedung asrama putri (lantai tiga) yang berada di Papar pada Rabu (16/7) sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Zara diyakini jatuh dari asrama itu.

Insiden itu terjadi saat sebagian besar siswa lainnya masih terjaga.. Sedangkan, tidak ada teriakan, tidak ada saksi, dan tidak ada kamera CCTV yang terkonfirmasi di lokasi. Pagi harinya pukul 08.16, polisi menerima laporan mengenai penemuan pelajar tersebut.

Laporan menyatakan bahwa korban dikirim ke Rumah Sakit Ratu Elizabeth I (HQE I), Kota Kinabalu, untuk perawatan lebih lanjut. Zara dalam keadaan koma di hari tersebut.

Pada Kamis (17/7), Zara dinyatakan meninggal dunia dan jenazahnya disalatkan serta dimakamkan di kampung halamannya di Kampung Kalamauh Mesapol, Sipitang.

Kematian Zara menjadi perhatian setelahnya. Tagar #justiceforzara makin bergema pada Kamis (24/7), seperti disebutkan Sinar Harian, usai munculnya seseorang yang mengaku sebagai anggota keluarga mendiang Zara Qairina dan postingan melalui Facebook terkait kasus tersebut.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Dicky Setyawan

tirto.id - Flash News
Penulis: Dicky Setyawan
Editor: Iswara N Raditya