tirto.id - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim berjanji akan menjaga kedaulatan Sabah dalam perundingan dengan Indonesia. Sebelumnya, pada akhir Juli 2025 lalu, Anwar Ibrahim bertemu Prabowo Subianto untuk membahas sejumlah topik, termasuk sengketa blok Ambalat—wilayah kaya minyak di Laut Sulawesi yang dekat lepas pantai Sabah.
Pernyataan Anwar Ibrahim untuk menjaga kedaulatan Sabah tersebut disampaikan di tengah anggota parlemen yang mempertanyakan hasil konsultasi tahunan Indonesia-Malaysia pada Juli lalu.
"Kami akan merundingkannya dengan baik, tanpa menyerah. Ini semua ada dalam pertemuan, bukan sekadar pembicaraan rahasia," kata Anwar pada Minggu (3/8/2025), dikutip dari Channel News Asia.
Dalam keterangannya itu, Anwar Ibrahim menyatakan bahwa dirinya akan terus melindungi kedaulatan Sabah dalam perundingan-perundingan dengan Indonesia di kemudian hari.
"Kami akan melindungi setiap jengkal Sabah. Saya akan mempertahankan prinsip ini. Saya memilih untuk menjawab pertanyaan ini sekarang karena kami membela Sabah atas nama pemerintah federal," katanya.
Sengketa yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia di blok Ambalat merupakan konflik batas maritim. Kedua negara saling tumpang tindih klaim teritorial terkait wilayah kaya minyak dan gas di perbatasan Kalimantan Utara dan Sabah tersebut.
Diskusi Indonesia & Malaysia Soal Ambalat
Dalam Konsultasi Tahunan Ke-13 Indonesia-Malaysia pada akhir Juli lalu, Anwar Ibrahim dan Prabowo Subianto disebut tengah menjajaki peluang pemanfaatan bersama blok Ambalat.
Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dalam keterangannya pada Selasa (29/7) lalu.
Menurut Menlu Sugiono, PM Malaysia dan Presiden Indonesia tersebut telah membuka dialog mengenai solusi atas sengketa blok Ambalat, meskipun masih memerlukan forum lebih lanjut.
"Kita masih melakukan exploratory talk sebenarnya, modalitasnya seperti apa, teknisnya seperti apa, masih panjang perjalanan," kata Sugiono, dikutip dari Antara.
Menurutnya, sejauh yang telah dibicarakan kedua pemimpin negara tersebut, Anwar Ibrahim dan Prabowo Subianto sama-sama memahami besarnya potensi di kawasan perbatasan itu dan memandang perlunya kerja sama, termasuk di bidang kelautan dan perikanan.
Hal serupa juga disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Menurut keterangannya, dialog Indonesia dan Malaysia terkait kerja sama di blok Ambalat masih dalam kajian.
"Ini belum final, ini masih dalam kajian. Sekali lagi saya katakan bahwa ini masih dalam kajian," kata Bahlil pada Rabu (30/7).
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menyatakan bahwa jikalau nanti disepakati bersama, maka teknis kerja sama Indonesia-Malaysia di blok Ambalat akan dilakukan antara BUMN Malaysia dan BUMN Indonesia.
"Di mana representasi untuk bidang migas adalah Petronas dari Malaysia dan Pertamina dari Indonesia," katanya.
Sementara itu, Pertamina merespons positif rencana kerja sama Indonesia-Malaysia di blok Ambalat dan menyatakan kesiapannya untuk menggarap potensi minyak dan gas bumi di sana.
"Kami operator siap sih, kalau memang diperintah untuk melakukan eksplorasi. Tapi kami menunggu [keputusan pemerintah]," kata Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial PT Pertamina Hulu Energi Edi Karyanto pada Rabu (30/7), dikutip dari Antara.
Menurut Edi, Pertamina telah memiliki kompetensi dan pengalaman untuk menggarap blok Ambalat, baik secara teknis maupun finansial.
"Kami siap karena punya pengalaman dan kompetensi untuk melakukan itu," tuturnya.
Jika berhasil mencapai kesepakatan, sengketa blok Ambalat akan menemui babak baru.
Sejak 1980, Indonesia mengklaim Ambalat sebagai bagian dari Indonesia dengan dasar Deklarasi Djuanda 1957. Sementara itu, Malaysia juga mengklaim hal serupa dengan dasar putusan Mahkamah Internasional (ICJ) tahun 2002.
Oleh Malaysia, wilayah kaya minyak dan gas bumi ini dinamai dengan sebutan Blok ND6 dan ND7.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id






























