Menuju konten utama

Siapa Penemu Sound Horeg, Asal-usul, dan Kontroversinya

Simak siapa penemu sound horeg, asal-usul, dan kontroversi tren ini. Sound horeg adalah salah satu tren sound system yang berkembang di Jawa Timur.

Siapa Penemu Sound Horeg, Asal-usul, dan Kontroversinya
Warga menyaksikan gelaran Urek Urek Carnival yang diiringi perangkat audio berkapasitas besar di Desa Urek-urek Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025). ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nym.

tirto.id - Sound horeg adalah sebuah hiburan yang terkenal dari Jawa Timur. Hiburan ini terdiri dari tumpukan sound system besar yang menghasilkan suara menggelegar.

Menurut jurnal dengan judul Perkembangan Sound System sebagai Budaya dan Kompetisi Sosial di

Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, asal-usul sound horeg tidak bisa lepas dari sejarah sound system itu sendiri.

Perkembangan sound system sudah terjadi sejak awal tahun 2000-an hingga muncul tren adu suara atau battle sound system di beberapa kota yaitu Sidoarjo, Malang, dan Surabaya.

Siapa Penemu Sound Horeg dan Asal-usulnya?

Berawal dari kota-kota tersebut, fenomena ini menjadi viral dan sering muncul dalam acara seperti pesta pernikahan, khitanan, atau perayaan di desa dan karnaval.

Kemudian, pada 2014, sound horeg menjadi sebuah parade perayaan yang menggabungkan unsur tradisional dan modern. Fenomena ini kemudian berkembang lebih lanjut, khususnya pada era Covid-19 pada tahun 2020.

Pada perkembangan selanjutnya, fenomena sound horeg terus merambah ke daerah-daerah lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah, seperti Pati, Blitar, Jember, Kudus, Demak, dan Rembang.

Penemu sound horeg tidak merujuk pada satu pendiri tunggal, melainkan lebih kepada sebuah tren yang berkembang di kalangan masyarakat, terutama di Jawa Timur, yang menyukai sistem audio besar dengan suara kencang dan menggetarkan.

Ada beberapa tokoh dan komunitas yang terkait dengan perkembangan sound horeg, seperti Mas Bre (Brewog Audio) dari Blitar, Riswanda Mahardika (Mahardhika Pro Audio) dari Malang, dan komunitas seperti Faskho Sengox dan BJ Hunter di Blitar.

Mengutip Good News From Indonesia, sound horeg biasanya memutar lagu dangdut, campursari, DJ remix atau house music dengan volume besar yang bisa mencapai >135 (dB).

Istilah horeg sendiri berasal dari Bahasa Jawa Kuno. Artinya yakni bergerak atau berputar. Tren sound horeg paling banyak ditemui di wilayah Jawa Timur.

Kontroversi Sound Horeg

Meski menambah keseruan dan menjadi hiburan alternatif, suara keras dari sound horeg menuai kontroversi karena dianggap mengganggu ketenangan warga sekitar.

Ada pula kasus perusakan fasilitas dan rumah warga seperti di Desa Babatan, Demak, di mana warga merusak jembatan agar truk sound horeg bisa lewat. Ada pula kasus kaca jendela rumah pecah ketika sound horeg lewat.

Berdasarkan hasil bahtsul masail perwakilan sejumlah pesantren se-Jawa Madura pada 26-27 Juni 2025 di Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Pasuruan, hukum sound horeg adalah haram mutlak.

Para ulama yang berkumpul dalam Forum Satu Muharram tersebut menyepakati bahwa penggunaan sound horeg mengganggu dan membawa dampak sosial dan moral yang buruk dalam setiap pertunjukan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur melalui salinan Fatwa MUI Jatim Nomor 1/2025 tentang Penggunaan Sound Horeg juga telah menyatakan keharaman sound horeg.

Dasar pertimbangan MUI Jatim adalah intensitas suara yang melebihi batas kewajaran dan gangguan yang ditimbulkan terhadap khalayak umum.

Baca juga artikel terkait VIRAL atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Iswara N Raditya