Menuju konten utama

Siap Siaga Lonjakan Kasus COVID-19 di DKI Jakarta Jelang Nataru

Kemenkes sebut perlu ada upaya pencegahan penularan COVID-19 yang dilakukan serentak oleh seluruh elemen masyarakat.

Siap Siaga Lonjakan Kasus COVID-19 di DKI Jakarta Jelang Nataru
Ilustrasi corona virus. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Batuk berkali-kali pecah dari suara parau di ujung telepon. Maaf terlontar berulang karena batuk yang menyela pembicaraan. Nunu, bukan nama sebenarnya, harus bekerja dari rumah karena kondisi badannya yang kurang sehat. Pria berusia 26 tahun itu tak menyangka kembali terinfeksi virus COVID-19 untuk yang kedua kalinya.

“Saya kira memang karena tidak waspada, kita kan anggapnya COVID sudah enggak ada,” kata Nunu ketika dihubungi Tirto, Kamis (15/12/2023).

Pria yang bekerja di sebuah organisasi non-pemerintah ini memprediksi tertular COVID di kantornya. Pasalnya, sebelumnya sudah ada beberapa rekan kerjanya yang menunjukkan keluhan seperti batuk dan radang tenggorokan. Dia pun mengalami gejala yang sama dalam beberapa hari ke belakang.

“Ada dua orang akhirnya yang diminta kerja dari rumah. Saya akhirnya iseng coba untuk tes antigen (COVID) dan memang positif. Tapi enggak parah, hanya diminta istirahat,” ungkap Nunu.

Pada 2021, Nunu mengaku juga sempat terinfeksi COVID-19. Saat itu gelombang infeksi COVID-19 memang tengah melonjak dan menghantam banyak warga. Pria asal Jakarta Barat itu termasuk salah satunya, dan sempat dirawat di rumah sakit hampir sepekan.

“Kalau enggak salah waktu itu kan awal-awal (subvarian) Omicron tuh. Saya sempat agak parah kalau yang itu, sekarang sih kayak flu biasa, mungkin faktor udah (vaksin) booster juga kali ya,” ucap Nunu.

Peningkatan jumlah infeksi COVID-19 di Indonesia, terutama di ibu kota, memang terjadi dalam sebulan terakhir. Berdasarkan data infeksi emerging Kementerian Kesehatan dan laporan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, tercatat ada dua kasus kematian akibat COVID-19 pada awal Desember 2023.

Dua kasus kematian tersebut tercatat dialami oleh pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta. Kedua pasien yang meninggal itu terjadi pada lansia berusia 81 dan 91 tahun. Satu korban meninggal sudah divaksinasi dosis ketiga dan satu lainnya belum vaksinasi sama sekali.

Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta, Ngabila Salama, mengatakan kasus kematian COVID-19 terakhir di DKI terjadi pada September 2023, dengan jumlah tiga kasus. Ngabila menyatakan, kasus positif aktif COVID-19 per Rabu, 13 Desember 2023, mencapai 365 kasus.

“Kami terus pantau dua minggu ke depan untuk prediksi puncak kasus sambil terus sosialisasi ke masyarakat,” kata Ngabila dihubungi reporter Tirto, Kamis (15/12/2023).

Ngabila menambahkan, keterisian tempat tidur rumah sakit masih stabil dibawah lima persen. Dia menyatakan belum ada kenaikan bermakna penggunaan tempat tidur atau rawat inap.

“Per 13 Desember 2023, ada 44 pasien sedang dirawat di RS dengan COVID-19. Ada 32 kasus bergejala sedang di ruang isolasi dan 12 kasus di ICU rumah sakit,” ujar Ngabila.

Dia menjelaskan, positivity rate COVID-19 di DKI Jakarta berkisar 40 persen. Artinya, dari 10 orang tes PCR, ada 4-5 orang positif COVID-19. Ngabila mengimbau masyarakat yang bergejala salah satu dari gejala khas COVID-19 dapat segera ke puskesmas kecamatan terdekat di Jakarta untuk melakukan PCR/antigen secara gratis.

“Seperti gejala demam dan atau disertai nyeri tenggorokan, batuk, pilek, gangguan indera penciuman, atau gejala lainnya atau merupakan kontak erat kasus positif,” ungkap Ngabila.

Penduduk Padat Lebih Berisiko

Epidemiolog dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane, menilai subvarian Omicro EG.5 dan HK.3 diduga menjadi penyebab utama peningkatan kasus beberapa minggu ini di Indonesia. Wilayah padat penduduk seperti Jakarta, menurut dia, memang memiliki risiko penularan COVID-19 yang lebih tinggi.

“Di Jakarta atau di manapun polanya sama, tentu penduduk yang padat lebih tinggi risiko menular,” kata Masdalina dihubungi reporter Tirto.

Menurut Masdalina, di lapangan masih sulit mencari tempat tes yang gratis, selain di DKI Jakarta. Banyaknya kasus yang tercatat di Jakarta, karena hasil deteksi yang baik sehingga kasus dapat teridentifikasi.

“Di banyak daerah akses terhadap tes yang terkendala, susah mencari tempat tes, bahkan dengan membayar juga susah,” ujar dia.

Masdalina menjelaskan, subvarian yang dominan saat ini tentu masih paling rentan kelompok berisiko tinggi. Sebab, masih ada potensi keparahan dan kematian sekalipun pasien telah vaksinasi lengkap.

“Biasanya terjadi karena terlambat dibawa ke layanan kesehatan, dibawa ketika sudah parah, maka sebaiknya jika kelompok rentan ini mengalami gejala sebaiknya segera dibawa ke layanan kesehatan untuk di tes dan dipastikan statusnya,” terang dia.

Masdalina menilai, masyarakat khususnya di DKI, tahu ada peningkatan kasus COVID dan meresponsnya dengan baik karena tidak panik. Pemerintah perlu terus memberikan informasi yang akurat tentang kondisi transmisi (komunikasi risiko), untuk mengedukasi masyarakat agar sementara waktu ini kembali menerapkan protokol kesehatan sewajarnya.

“Sekalipun tidak sakit, menggunakan masker selalu berguna menjaga komunitas rentan agar tidak terinfeksi. Dan bagi yang belum divaksin segera,” ujar Masdalina.

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menyampaikan di masa endemi COVID-19 seperti saat ini, penularan masih akan terjadi meskipun tidak separah saat pandemi berlangsung. Gelombang peningkatan kasus COVID masih akan ditemui dengan jangka waktu musiman.

Tapi kecenderungannya tampaknya akan seperti flu, virus flu yang ledakannya akan tahunan.

“Umumnya akan dikaitkan juga dengan perilaku manusia. Misalnya berkerumunnya lebih banyak, aktivitas mobilitasnya lebih banyak, dengan kepadatannya. Ini juga ditunjang dengan misalnya faktor cuaca,” kata Dicky kepada reporter Tirto, Kamis (14/12/2023).

Dicky menilai, sebetulnya peningkatan kasus juga kemungkinan terjadi di kota-kota selain DKI Jakarta. Namun, deteksi kasus di Jakarta memiliki kemampuan lebih baik sehingga banyak yang dapat teridentifikasi.

Dia menambahkan, vaksinasi COVID memang terbukti mengurangi risiko penularan dan keparahan. Namun, ia mengingatkan, bukan berarti orang yang sudah divaksin tidak bisa tertular. Maka dari itu, Dicky mengingatkan pentingnya tes COVID ketika bergejala dan gerak cepat pemerintah melakukan deteksi dini agar tidak terjadi lonjakan kasus signifikan.

“Vaksin itu level (proteksinya) masih di satu tahunan, enggak lebih dari satu tahunan gitu. Jadi seiring waktu menurun, ini yang akhirnya juga menyebabkan kasus reinfeksi lebih mudah terjadi,” tutur Dicky.

Persiapan Pemerintah

Kementerian Kesehatan menyatakan perlu ada upaya pencegahan penularan yang dilakukan serentak oleh seluruh elemen masyarakat. Kemenkes menyampaikan, COVID-19 di Indonesia menunjukkan peningkatan tren kasus sejak pekan ke-41 atau periode 8-14 Oktober 2023.

“Kendati demikian, peningkatan tren kasus ini tidak diikuti dengan peningkatan rawat inap dan kematian,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Nadia Tarmizi, melalui keterangan tertulis, Kamis kemarin.

Kasus COVID-19 kali ini didominasi oleh subvarian EG.5. Subvarian EG.5 ini masuk dalam kategori variants of interest (VOI) atau varian yang memiliki mutasi genetik yang diprediksi dapat mempengaruhi karakteristik klinis virus.

“Karakteristik dari subvarian ini, yakni dapat menyebabkan peningkatan kasus dan menghindari dari kekebalan sehingga lebih mudah menginfeksi tetapi tidak ada perubahan tingkat keparahan,” jelas Nadia.

Nadia menambahkan, adanya mobilisasi masyarakat saat libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru) dapat berpotensi terhadap lonjakan kasus COVID-19. Maka dari itu, Kemenkes telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Lonjakan Kasus COVID-19.

SE tersebut ditujukan kepada kepala dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), kepala Laboratorium Kesehatan Masyarakat, direktur rumah sakit, kepala Puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di seluruh Indonesia.

“(Untuk) Para pemangku kepentingan terkait peningkatan kewaspadaan lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia,” ujar Nadia.

Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Abdul Aziz