Sejarah Revolusi Industri dari 1.0 hingga 4.0

Penulis: Yantina Debora - 1 Nov 2021 11:40 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Revolusi industri pertama (1.0) terjadi pada abad 18. Timeline revolusi industri kini mencapai 4.0. Berikut ini urutan dan penjelasannya masing-masing.
tirto.id - Timeline revolusi industri dimulai pada abad 18 saat ditemukan mesin uap. Peristiwa ini adalah revolusi industri pertama atau 1.0. Berikut ini timeline revolusi industri dari 1.0 hingga 4.0.

Timeline Revolusi Industri (1.0-4.0)


Dikutip dari situs web Menperin, revolusi industri pertama atau 1.0 dimulai pada abad ke-18. Hal itu ditandai dengan penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tinggi.

Misalnya di Inggris, saat itu, perusahaan tenun menggunakan mesin uap untuk menghasilkan produk tekstil.


Pada revolusi industri kedua atau 2.0 dimulai pada tahun 1900-an. Revolusi industri 2.0 ditandai dengan ditemukannya tenaga listrik.

Menurut Menperin Airlangga Hartarto, pada fase ekonomi ini, beberapa industri di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signfikan, seperti sektor agro dan pertambangan. Jadi, revolusi yang kedua ini terkait dengan teknologi di lini produksi.

Kemudian, di era revolusi industri ketiga atau 3.0, saat otomatisasi dilakukan pada tahun 1970 atau 1990-an hingga saat ini karena sebagian negara masih menerapkan industri ini.

Pada revolusi industri keempat atau 4.0, Menperin menyampaikan, efisiensi mesin dan manusia sudah mulai terkonektivitas dengan internet of things.

Dikutip dari situs web UI, Industri 4.0 adalah nama yang diberikan untuk tren otomatisasi dan pertukaran data saat ini.

Hal ini termasuk sistem cyber-fisik, Internet, komputasi awan dan komputasi kognitif. Industri 4.0 biasanya disebut sebagai revolusi industri keempat.

Ragam AI di antaranya Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IOT), Unmanned Vehicles (UAV), Mobile Technology (5G), Shared Platform, Block Chain, Robotics dan Bio-Technology.

Industri 4.0 bakal menghasilkan banyak kreativitas dan kebaruan, yaitu kekayaan intelektual yang perlu dilindungi dan ditegakkan.

Airlangga juga menjelaskan, perbedaan penerapan Industri 3.0 dengan Industri 4.0 adalah dari faktor penggeraknya.


Industri 3.0 digerakkan oleh profit, sedangkan 4.0 lebih didorong oleh harga dan biaya.

“Bedanya Industri 3.0 dengan 4.0 adalah value chain-nya. Banyak produk-produk yang dari cost itu tentunya berujung pada value added dan supply chain," terangnya.

Roadmap Industri 4.0 Indonesia


Presiden Joko Widodo meresmikan Making Indonesia 4.0 sebagai peta jalan (roadmap) Industri 4.0 untuk meningkatkan nilai tambah industri manufaktur dalam negeri sehingga bisa bersaing secara global.

Untuk penerapan awalnya, roadmap ini bakal berfokus pada lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik.

Pemilihan kelima sektor itu mencakup ukuran PDB (Produk Domestik Bruto), perdagangan, potensi dampaknya terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

“Tentu saja ini direncanakan dengan baik, ada roadmap yang jelas, tahapan-tahapan apa yang harus kita siapkan. Arahnya sudah jelas seperti itu. Lebih mudah menggarapnya,” kata Jokowi pada 4 April 2018.

Menurut Jokowi, pemilihan kelima sektor tersebut dapat membawa keuntungan bagi Indonesia. Pasalnya, konsentrasi industri bisa lebih terkontrol sehingga tidak semua sektor jadi dikerjakan.


Baca juga artikel terkait REVOLUSI INDUSTRI atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Yantina Debora
Editor: Agung DH
Penyelaras: Ibnu Azis
DarkLight