Sejarah Revolusi Industri dari 1.0 hingga 4.0

Oleh: Yantina Debora - 18 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Perbedaan Revolusi Industri 1.0 yang dimulai abad ke-18 hingga Industri 4.0.
tirto.id - Industri 4.0 menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Debat Kedua Capres 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Minggu (17/2/2019).

Dalam debat itu, capres nomor urut 02, Prabowo Subianto menilai Revolusi Industri 4.0 belum berpihak kepada petani. Harga-harga pangan, kata dia, juga belum terjangkau pada era Revolusi Industri 4.0.

"Kita sama-sama memahami dahsyatnya perkembangan Industri 4.0 yang akan datang. [Era] robotik ini akan berdampak. [Tapi] belum berpihak kepada petani," ungkap dia.

Jokowi menilai, pernyataan Probowo tersebut kurang optimis. Jokowi menilai, strategi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang telah dirancang dengan dukungan infrastruktur membuatnya optimis menyongsong Revolusi Industri 4.0.

"Produk petani masuk ke marketplace, dari produsen [langsung] ke konsumen, sehingga harganya juga diangkat. Juga kredit fintech, peer to peer, sudah bisa langsung dilakukan ke petani. Ini membuka kesempatan petani untuk langsung pruduksi. Jadi tidak lewat agen-agen lagi," kata dia.

Revolusi Industri 1.0-4.0

Dikutip dari situs web Menperin, revolusi industri pertama atau 1.0 dimulai pada abad ke-18. Hal itu ditandai dengan penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tinggi.

Misalnya di Inggris, saat itu, perusahaan tenun menggunakan mesin uap untuk menghasilkan produk tekstil.


Pada revolusi industri kedua atau 2.0 dimulai pada tahun 1900-an. Revolusi industri 2.0 ditandai dengan ditemukannya tenaga listrik.

Menurut Menperin Airlangga Hartarto, pada fase ekonomi ini, beberapa industri di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signfikan, seperti sektor agro dan pertambangan. Jadi, revolusi yang kedua ini terkait dengan teknologi di lini produksi.

Kemudian, di era revolusi industri ketiga atau 3.0, saat otomatisasi dilakukan pada tahun 1970 atau 1990-an hingga saat ini karena sebagian negara masih menerapkan industri ini.

Pada revolusi industri keempat atau 4.0, Menperin menyampaikan, efisiensi mesin dan manusia sudah mulai terkonektivitas dengan internet of things.

Dikutip dari situs web UI, Industri 4.0 adalah nama yang diberikan untuk tren otomatisasi dan pertukaran data saat ini.

Hal ini termasuk sistem cyber-fisik, Internet, komputasi awan dan komputasi kognitif. Industri 4.0 biasanya disebut sebagai revolusi industri keempat.

Ragam AI diantaranya Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IOT), Unmanned Vehicles (UAV), Mobile Technology (5G), Shared Platform, Block Chain, Robotics dan Bio-Technology.

Industri 4.0 bakal menghasilkan banyak kreativitas dan kebaruan, yaitu kekayaan intelektual yang perlu dilindungi dan ditegakkan.

Airlangga juga menjelaskan, perbedaan penerapan Industri 3.0 dengan Industri 4.0 adalah dari faktor penggeraknya.


Industri 3.0 digerakkan oleh profit, sedangkan 4.0 lebih didorong oleh harga dan biaya.
“Bedanya Industri 3.0 dengan 4.0 adalah value chain-nya. Banyak produk-produk yang dari cost itu tentunya berujung pada value added dan supply chain," terangnya.

Roadmap Industri 4.0 Indonesia

Presiden Joko Widodo meresmikan Making Indonesia 4.0 sebagai peta jalan (roadmap) Industri 4.0 untuk meningkatkan nilai tambah industri manufaktur dalam negeri sehingga bisa bersaing secara global.

Untuk penerapan awalnya, roadmap ini bakal berfokus pada lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik.

Pemilihan kelima sektor itu mencakup ukuran PDB (Produk Domestik Bruto), perdagangan, potensi dampaknya terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

“Tentu saja ini direncanakan dengan baik, ada roadmap yang jelas, tahapan-tahapan apa yang harus kita siapkan. Arahnya sudah jelas seperti itu. Lebih mudah menggarapnya,” kata Jokowi di Jakarta Convention Center, Jakarta pada Rabu (4/4/2018).

Menurut Jokowi, pemilihan kelima sektor tersebut dapat membawa keuntungan bagi Indonesia. Pasalnya, konsentrasi industri bisa lebih terkontrol sehingga tidak semua sektor jadi dikerjakan.


Baca juga artikel terkait REVOLUSI INDUSTRI atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Yantina Debora
Editor: Agung DH
DarkLight