Sejarah Ormas GARIS Bentukan Chep Hernawan: Apakah Juga Pro-ISIS?

Oleh: Iswara N Raditya - 14 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Gerakan Reformasi Islam (GARIS) dibentuk oleh Chep Hernawan, yang pernah terhubung pro-ISIS, pada 1998. Kini, ia mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019.
tirto.id - Chep Hernawan alias Chep Dapet menyewakan mobil kepada Prabowo Subianto untuk berkampanye di Cianjur, Selasa (12/3/2019) lalu. Chep adalah pendiri Gerakan Reformasi Islam (GARIS). Bagaimana sejarah berdirinya gerakan ini? Apakah GARIS juga pro-ISIS seperti Chep Hernawan selaku pendirinya yang mengaku pernah terhubung dengan gerakan radikal di Suriah itu?

Pembentukan GARIS digagas Cecep atau Chep Hernawan pada 24 Juni 1998 atau hanya beberapa pekan setelah runtuhnya rezim Soeharto yang menandai awal reformasi. Dikutip dari Religion Industrial Complex in Indonesia (2014) karya Hesti Wulandari, GARIS merupakan organisasi massa Islam radikal yang didirikan di Cianjur.

Disebutkan pula, GARIS mengklaim punya puluhan ribu anggota. Sebanyak 28 ribu di antaranya di Cianjur, yang menjadi pusat gerakan ini juga tempat kediaman Chep Hernawan selaku pendirinya, 5 ribu lainnya di Sukabumi, dan ribuan atau ratusan di sejumlah daerah lainnya di Jawa Barat yang menjadi basis gerakan ini.

Selain itu, dalam penelitian Reza Rachmat Ramadhan berjudul “Gerakan Sosial dalam Transisi Demokrasi” (2016), diungkapkan, anggota GARIS juga tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan ada permintaan untuk membuka sayap di Jawa Tengah.

Tujuan dibentuknya GARIS, menurut Chep Hernawan, adalah untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia. Chep merupakan putra putra sulung Ahmad Syafe’i alias Haji Dapet yang pernah terlibat peristiwa kerusuhan Tanjung Priok pada 1984 silam. Chep bertekad meneruskan garis jihad yang pernah dilakoni sang ayah.


Aksi "Perjuangan" GARIS

Masih dalam bukunya, Hesti Wulandari menuliskan, banyak agresi yang dilakukan GARIS dan telah mengangkat nama mereka sebagai salah satu kelompok radikal di Jawa Barat. Tanggal 4 Desember 2010, misalnya, GARIS membubarkan Mukernas Ahmadiyah yang digelar di Hotel Setia, Cipanas, Cianjur.

Sebelumnya, tanggal 19 September 2005, ratusan orang anggota dan simpatisan GARIS menyerang empat desa di Cianjur yang ditengarai sebagai basis Ahmadiyah, yakni Panyairan, Cicakra, Neglasari, dan Ciparay. Sekitar 43 rumah, empat masjid, tiga madrasah, lima kios, hingga kandang ayam, dihancurkan.

Selain itu, di bawah komando Chep Hernawan, GARIS sering melakukan sweeping tempat-tempat hiburan malam di Cianjur, termasuk menggeruduk warung-warung yang menjual minuman keras. Tahun 2011, GARIS juga ikut menuntut penutupan Gereja Yasmin di Bogor.

Namun, menurut putra Chep Hernawan yang bernama Lucky Permana, GARIS sebenarnya dibentuk dengan tujuan untuk mempromosikan amar ma’ruf nahi munkar atau seruan untuk menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi umat.

Lucky mengatakan, kelompoknya juga mengkampanyekan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bersyariah. GARIS didirikan karena melihat adanya keperluan untuk mengimbangi kebijakan pemerintah daerah dan pusat ketika ada kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan rakyat kecil.

GARIS, ungkap Reza Rachmat Ramadhan dalam penelitiannya, berperan besar dalam mewujudkan penerapan Peraturan Daerah (Perda) Syariah di Kabupaten Cianjur. Reza mewawancarai sejumlah anggota GARIS. Dari situ, diperoleh pernyataan bahwa salah satu misi GARIS adalah membantu fakir miskin dan umat Islam yang terkena musibah.

Selain itu, GARIS juga bertugas menjaga kemurnian akidah umat Islam, memberantas segala bentuk aliran sesat, serta menolak bangkitnya paham komunisme, sekularisme, plurarisme, dan liberalisme.


Benarkah GARIS Pro-ISIS?

Adalah benar bahwa Chep Hernawan pernah terhubung dengan gerakan ISIS yang berpusat di Suriah. Bahkan, seperti diberitakan Detik.com (13 Agustus 2014), Chep pernah mengklaim dirinya telah didaulat sebagai pemimpin regional ISIS di Indonesia pada Maret 2014 lalu.

Di tahun yang sama, Chep Hernawan juga memberangkatkan 156 orang WNI ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Dikutip dari Tempo.co edisi 18 Maret 2015, Chep mengaku mengeluarkan uang sekitar 1 miliar rupiah untuk mendanai keberangkatan itu.

Bersama beberapa rekannya, Chep ditangkap di Cilacap pada 12 Agustus 2014 dan ditemukan bendera ISIS di dalam mobilnya. Namun, ia hanya diinterogasi saja, tidak ditahan.

Chep tidak mengelak bahwa ia memang terkait dengan ISIS pada saat itu. Dalam wawancara khusus dengan CNN Indonesia (19 Maret 2015), ia bahkan mengakui menjadi salah satu kandidat yang bakal berangkat ke Suriah meskipun belum terlaksana.

Jika Chep Hernawan mengaku memang pernah berkaitan dengan ISIS di Suriah, apakah demikian pula dengan GARIS, organisasi yang didirikannya?


Reza Rachmat Ramadhan dalam risetnya menyebut bahwa sejumlah anggota GARIS beberapa kali pernah dipanggil pihak kepolisian karena organisasi ini disebut-sebut terlibat dalam aksi terorisme dan berkaitan dengan ISIS.

Dari wawancara yang dilakukan Reza dengan beberapa anggota GARIS diperoleh statement bahwa mereka mendukung tegaknya Khilafah Islamiyah di Indonesia maupun di Indonesia. Mereka juga mendukung ISIS, bahkan diakui banyak anggota GARIS yang ke Suriah untuk berperang.

Namun, setelah ramai pemberitaan tentang mobilnya yang dipakai Prabowo Subianto dalam safari politik di Cianjur pada Selasa (12/3/2019) lalu, Chep Hernawan menegaskan bahwa ISIS sudah menjadi masa lalunya, begitu pula GARIS yang sudah tidak lagi terpaut dengan gerakan radikal itu.

Chep Hernawan juga mengatakan, ISIS sekarang sudah tidak segaris lagi dengan perjuangannya maupun GARIS. Chep bahkan mengklaim menyuruh anggota GARIS keluar dari ISIS dan orang yang bersangkutan tidak diperkenankan lagi bergabung dengan ormas bentukannya itu.

Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih
DarkLight