Mohammad Misbach Sang Haji Merah

Oleh: Iswara N Raditya - 25 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Haji Misbach adalah tokoh fenomenal dalam perjuangan pergerakan Indonesia. Ia memimpin Sarekat Islam, tapi faksi merah. Baginya, Islam bisa bergandengan dengan komunisme.
tirto.id - “Komunisme mengajarkan untuk menentang kapitalisme, itu tercakup di dalam Islam. Saya menerangkan hal itu sebagai (seorang) muslim dan komunis.”

Haji Misbach menuliskan kalimat itu dalam artikel yang tayang di surat kabar Soeara Moeslimin, 1926. Artikel itu ditulis ketika Misbach sudah benar-benar terinternalisasi keyakinan pentingnya nilai-nilai pembebasan yang ia yakini paralel dengan prinsip-prinsip komunisme.

Namun sebelum sampai pada tahap itu, kiprah Misbach dimulai sebagai pembela Islam yang gigih dan penuh gairah.

Ketika Oemar Said Tjokroaminoto membentuk Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM), Misbach turut di dalamnya. Ia tidak terima Nabi Muhammad dilecehkan. Bersama Tjokroaminoto dan rombongan besar Sarekat Islam (SI), Misbach turut menyerukan kepada kaum muslim untuk mengutuk mereka yang diyakini telah menistakan agama, Martodharsono dan Djojodikoro.

Pada pembukaan tahun 1918 itu, situasi di Hindia Belanda (Indonesia), terlebih di Jawa, memang sedang panas-panasnya. Gara-garanya adalah Martodharsono yang menerbitkan tulisan Djojodikoro dalam surat kabar yang dikelolanya, Djawi Hisworo. Umat Islam meradang karena Djojodikoro menulis begini dalam artikel yang terbit pada Januari 1918 itu: “Gusti Kanjeng Nabi Rasul minum gin, minum opium, dan kadang suka mengisap opium.”

Misbach Sang Pembela Islam

Atas tulisan tak senonoh tersebut, Misbach meminta kepada pihak-pihak yang berwenang, yakni pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, agar menjatuhkan tindakan tegas kepada dua jurnalis Solo itu lantaran telah melecehkan Islam.

Misbach bahkan mendirikan laskarnya sendiri yang ia beri nama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV) untuk mendampingi TKNM. Selain itu, ia menyebar seruan tertulis yang menyerang Martodharsono. Segeralah beredar kabar bahwa Misbach akan berhadapan dengan mantan wartawan Medan Prijaji itu di arena debat.

Jantung peradaban Jawa pun berguncang. Tersengat oleh semangat Misbach, kaum muslimin dari berbagai daerah berbondong-bondong menghadiri tabligh akbar yang disponsori TKNM dan SATV di Lapangan Sriwedari Solo pada 24 Februari 1918 (baca selengkapnya: Saat Penistaan Agama Lahirkan Tentara Kandjeng Nabi Muhammad).

Takashi Shiraishi (1997:178) dalam Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, menyebut bahwa pertemuan besar di Sriwedari itu diramaikan oleh lebih dari 20.000 orang. Sangat riuh, persis seperti Aksi Bela Islam 411 dan 212 yang dipusatkan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Misbach memang pembela Islam sejati, yang tak segan-segan menyerang orang-orang yang menistakan agamanya, bukan lewat aksi fisik tentunya tapi melalui debat atau tulisan. “Barangsiapa yang merampas agama Islam, itulah yang wajib kita binasakan!” tukas Misbach di surat kabar Medan Moeslimin (1918).

Bahkan, terhadap sesama muslim yang justru tidak menghargai Islam, Misbach pun siap menerkam. Rekan Misbach sesama pejuang pergerakan nasional, Mas Marco Kartodikromo, pernah berujar begini: “Misbach itu seperti harimau di dalam kalangannya binatang-binatang kecil. Dia tidak takut mencela kelakuan orang-orang yang mengaku Islam tetapi selalu mengisap darah teman sendiri.”

Tak hanya sosok ulama sekaligus muslim taat, Misbach juga seorang komunis. Haji Merah panggilan akrabnya.

Syiar Islam Misbach, Sang Anak Pedagang

Misbach terlahir dengan nama Ahmad, di Kauman, Surakarta, pada 1876. Ia besar di lingkungan keluarga pedagang batik. Sempat berganti nama menjadi Darmodiprono menjelang dewasa, Ahmad dikenal sebagai Haji Mohammad Misbach setelah menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Ia pernah sukses meniti karier sebagai pedagang batik tapi pada akhirnya lebih sering menggumuli dunia jurnalistik dan intelektual di era pergerakan nasional itu. Ketika Sarekat Islam (SI) dibentuk di Solo pada 1912, Misbach menjadi sebagai salah satu anggotanya.

Misbach juga masuk sebagai anggota Muhammadiyah yang berdiri di tahun yang sama. Nantinya, SI dan Muhammadiyah justru dilawan habis-habisan oleh Misbach saat ia berada di kubu Sarekat Rakyat alias Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sejak 1914, ia aktif di Inlandsche Journalisten Bond (IJB) bersama Mas Marco Kartodikromo (Budiawan, Mematahkan Pewarisan Ingatan, 2004:95). Misbach juga menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, mendirikan sekolah-sekolah Islam, dan menggagas ide pengembangan Islam yang sangat maju untuk ukuran zamannya.

Kendurnya perlawanan TKNM dalam memperjuangkan kehormatan Islam membuat Misbach mulai merasa tidak cocok dengan Tjokroaminoto. Misbach menyebut para tokoh TKNM dan SI bukanlah muslim sejati. Merekalah yang dimaksud Misbach dalam golongan Islam Lamisan, kaum muslim terpelajar tapi rela menjadi penjilat demi menyelamatkan diri sendiri.

Menjelang era 1920-an itu, SI sedang bergolak dan akhirnya terpecah menjadi dua sayap: SI Putih pimpinan Tjokroaminoto serta SI Merah yang dimotori oleh Semaoen dan kawan-kawan. Misbach dengan mantap menyeberang ke kubu merah yang segera beralih-rupa menjadi PKI.

Menyandingkan Islam dan Komunisme

Misbach adalah pembenci kapitalisme. Maka, ia menawarkan dua senjata untuk melawannya: Islam dan komunisme. Menurutnya, dua kutub itu tidak selalu harus dipertentangkan bahkan bisa menjadi harmonisasi yang ideal. Bersama komunisme, kata Misbach, Islam menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.

Dalam buku H.M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya karya Nor Hiqmah (2000:36), Misbach mengakui bahwa pemikirannya sebagai seorang muslim semakin terbuka setelah ia mempelajari komunisme.

Tugas muslim sejati adalah berjuang menyelamatkan dunia dari kezaliman dan kekejian orang-orang munafik serta kaum kapitalis. Islam mengajarkan umatnya untuk memberi jiwa dan kehidupan sosial kepada bangsa-bangsa yang terpecah-belah dan peradaban-peradaban yang mati. Jadi, Islam bukan akidah atau ritual semata, tetapi juga cara hidup. Begitu paparan Misbach.

Infografik Haji Misbach Pejuang Islam Dan Komunis


Misbach menyerukan bahwa kaum muslim wajib memerangi kapitalisme, imperialisme, dan kemunafikan, yang oleh Misbach dirupakan sebagai polisi, pemerintah (kolonial dan Kasunanan), serta kaum Islam Lamisan. Polisi adalah penindas, pemerintah adalah pengisap, serta muslim lamisan adalah pengkhianat yang munafik.

Untuk menjalankan misi itu, orang Islam butuh senjata, dan Misbach memilih komunisme. Misbach sepakat dengan cara revolusioner untuk melawan ketidakadilan. Ia juga menyetujui konsep sama rata sama rasa karena semua manusia itu sama derajatnya, tanpa kelas, dan yang mahatinggi hanyalah Tuhan.

Misbach sangat meneladani Nabi Muhammad. Ia juga seorang pengagum Karl Marx. “Beliau memperhatikan betul-betul akan nasib rakyat, beliau tertarik sekali tentang ekonomi dan duduknya kaum miskin. Dari itu tuan Karl Marx dapat tahu dengan terang pokok atau sumber-sumber yang menyebabkan kekalutan dunia,” kata Misbach soal Marx.

Bersenjatakan Islam dan komunisme, kapitalisme harus dilawan karena mereka hanya bernafsu mencari keuntungan demi diri sendiri dengan menghalalkan segala cara. Bagi Misbach, Islam dan komunisme adalah solusi yang paling jitu. Keduanya bersifat kerakyatan, langsung membidik sasaran untuk kepentingan bersama (baca juga: Para Haji yang Menjadi Komunis).

Akibat perlawanannya, Misbach dibui. Namun ia pantang jera dan terus menebar teror terhadap kaum penguasa, baik pejabat kolonial maupun ningrat pribumi. Ia pun dituduh sebagai aktor utama di balik berbagai aksi kerusuhan di Jawa.

Pada 20 Oktober 1923, aparat kolonial menangkap Misbach dan memenjarakannya di Semarang. Beberapa bulan berselang, ia diberangkatkan menuju tanah pengasingan. Misbach dibuang ke Manokwari, Papua, hingga wafat di sana karena terserang malaria pada 24 Mei 1926.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Maulida Sri Handayani