Menuju konten utama

Sejarah Lirik Lagu "Indonesia Raya" dalam Hari Sumpah Pemuda

Bagaimana sejarah lirik lagu Indonesia Raya dalam Hari Sumpah Pemuda di Kongres Pemuda 2 tanggal 28 Oktober 1928? Cek sejarah dan alasan perubahan liriknya.

Sejarah Lirik Lagu
Wage Rudolf Supratman lahir di Somongari, Purworejo pada 19 Maret 1903 dan meninggal di Surabaya, Jawa Timur pada 17 Agustus 1938. Sejarah lirik lagu Indonesia Raya tidak terlepas dari peran WR Supratman dalam Kongres Pemuda 2 di Batavia pada 28 Oktober 1928, yang kemudian jadi Hari Sumpah Pemuda. Foto/istimewa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejarah lirik lagu "Indonesia Raya" merupakan karya komposer sekaligus wartawan Wage Rudolf Supratman. Instrumental lagu tersebut pertama kali muncul dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, yang kelak dikenal sebagai cikal bakal Hari Sumpah Pemuda.

Mulanya, W.R. Supratman adalah wartawan koran Sin Po yang bertugas untuk meliput Kongres Pemuda II, seperti ditulis oleh St. Sularto dalam “Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Fakta Sejarah” di Majalah Prisma edisi 5 Mei 1983.

W.R. Soepratman saat itu tidak sekadar ingin menulis berita, tetapi juga ingin membawakan lagu "Indonesia Raya". Atas inisiatif sendiri, ia menyebarkan salinan lagu itu kepada para pimpinan organisasi pemuda yang hadir di kongres.

Kapan Lagu "Indonesia Raya" Pertama Kali Dinyanyikan?

Bagaimana sejarah lirik lagu "Indonesia Raya"? Lagu "Indonesia Raya" untuk pertama kali diperdengarkan pada acara penutupan Kongres Pemuda II di Gedung Indonesische Clubgebouw, Batavia pada 28 Oktober 1928.

Lagu mendapatkan sambutan hangat. Sugondo, yang waktu itu memimpin Kongres Pemuda Indonesia Kedua, awalnya mengizinkan WR Supratman untuk membawakan lagu ini pada jam istirahat. Ketika membaca secara teliti lirik lagu terebut, Sugondo merasa ragu.

Ia takut pemerintah memboikot acara Kongres sehingga meminta Supratman agar membawakan lagu tersebut dengan instrumen biola saja. Ketika jam istirahat tiba, Supratman maju, membawakan lagu "Indonesia Raya" versi instumental.

Semua peserta kongres tercengang. Mereka terharu mendengar gesekan biolanya. Itulah kali pertama lagu "Indonesia Raya" berkumandang di negara ini tanpa menggunakan lirik.

Wage Rudolf Soepratman memainkan lagu ciptaannya itu di depan peserta kongres dengan gesekan biolanya yang mendayu-dayu. Setelah selesai memainkan "Indonesia Raya", yang kelak menjadi lagu kebangsaan Indonesia, para hadirin meminta agar lagu tersebut dinyanyikan.

Setelah melalui diskusi, keputusan untuk menyanyikan lagu "Indonesia Raya" dengan sedikit perubahan lirik dilakukan. Diskusi memutuskan perubahan lirik demi keamanan karena kongres diawasi oleh aparat kolonial Hindia Belanda.

Mereka mengganti kata “merdeka” dengan kata “mulia. Adapun orang yang pertama kali melantunkan lagu "Indonesia Raya" dalam Kongres Pemuda II itu adalah Dolly Salim, putri Haji Agus Salim.

Lagu itu kembali berkumandang di akhir bulan Desember 1928 saat pembubaran panitia kongres kedua. Pada kesempatan itu, untuk kali pertama lagu tersebut menggunakan iringan paduan suara.

Ketiga kalinya, Kongres PNI 18-20 Desember 1929 kembali membawakan lagu "Indonesia Raya" sebagai pembuka kegiatan. Lagu "Indonesia Raya" kemudian semakin populer dan membuat resah pihak Belanda.

Pemerintahan kolonial saat itu takut jika lagu tersebut mampu membangkitkan semangat kemerdekaan. Oleh karena itu, pada 1930, Belanda melarang nyanyian lagu "Indonesia Raya" di dalam berbagai kesempatan apa pun.

Pemerintah kolonial mengemukakan alasan bahwa lagu tersebut dapat mengganggu ketertiban dan keamanan. WR Supratman selaku pencipta tidak luput dari ancaman, bahkan sempat mengalami penahanan, diinterogasi, dan ditanyakan soal maksud “merdeka, merdeka, merdeka”.

Tetapi kekangan itu cuma sebentar. Setelah muncul protes dari pelbagai kalangan, pemerintah Hindia Belanda mencabutnya dengan syarat hanya boleh dinyanyikan di ruang tertutup.

Supratman kemudian menciptakan lagu "Matahari Terbit". Lagu ini membuatnya kembali merasakan tahanan pemerintah Hindia Belanda. Otoritas kolonial menafsirkan bahwa Supratman ikut memuji Dai Nippon.

Berkat bantuan van Eldik, Supratman bebas dari tuduhan tersebut. Keluar dari masa tahanan, Supratman jatuh sakit. Di masa itu ia berkenalan akrab dengan kakak iparnya, Oerip Kasansengari.

Supratman berkata, “Mas, nasibku sudah begini. Inilah yang disukai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal, saya ikhlas. Saya sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka.”

Pada 17 Agustus 1938, Supratman tutup usia setelah jatuh sakit. Jenazahnya dimakamkan di Kuburan Umum di Jalan Kejeran Surabaya dengan jumlah pelayat tak lebih dari 40 orang.

Supratman telah tiada, tetapi fobia terhadap lagu "Indonesia Raya" tak kunjung reda. Bahkan, ketika Jepang menduduki kawasan Hindia Belanda pada Maret 1942, lagu tersebut kembali dilarang. Lagu itu baru bebas dicekal di ambang kejatuhan pendudukan Jepang pada medio 1945.

Lagu "Indonesia Raya" kembali bergema setelah Sukarno membacakan teks Proklamasi kemerdekaan. Tepatnya pada 17 Agustus 1945 silam.

Lirik Lagu Indonesia Raya

Berikut ini lirik lagu "Indonesia Raya".

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri

Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku

Bangsa dan Tanah Airku

Marilah kita berseru

Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku

Hiduplah negeriku

Bangsaku rakyatku semuanya

Bangunlah jiwanya

Bangunlah badannya

Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya

Merdeka merdeka

Tanahku negeriku yang kucinta

Indonesia Raya

Merdeka merdeka

Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya

Merdeka merdeka

Tanahku negeriku yang kucinta

Indonesia Raya

Merdeka merdeka

Hiduplah Indonesia Raya

Kenapa Lagu Indonesia Raya Diubah?

Lagu yang dinyanyikan saat Kongres Pemuda Kedua adalah "Indonesia Raya". Para peserta berdiri dan bernyanyi mengikuti kur serta iringan biola Supratman, sebagai tanda penghormatan kepada Indonesia Raya.

Lantas, bagaimana sejarah lirik lagu "Indonesia Raya" diubah? Dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda II di Batavia atau Jakarta, panitia mengganti kata "merdeka" dengan "mulia" untuk menghindari larangan pihak Hindia Belanda.

Setelah perubahan pertama di Kongres Pemuda 2 tanggal 28 Oktober 1928 itu, lirik lagu "Indonesia" mengalami perubahan lagi beberapa kali. Satu tahun menjelang kemerdekaan misalnya, 1944, Sukarno sempat mengubah "menjaga pandu ibuku" jadi "jadi pandu ibuku".

Kemudian, mulai menggunakan kata "merdeka" dalam lirik karena sudah tidak dilarang oleh Belanda. Iramanya yang semula memanfaatkan ritme wals lambat mulai diubah dengan tempo yang menggugah semangat.

Sebagai bentuk penghormatan, pada 16 November 1948, dibentuklah Panitia Indonesia Raya. Hasilnya adalah Peraturan Pemerintah RI tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pada 26 Juni 1958.

Peraturan yang berisikan 6 bab ini mengatur tata tertib dalam penggunaan lagu "Indonesia Raya" dilengkapi pasal-pasal penjelasan.

Tentang penting dan nilai luhur "Indonesia Raya", Presiden Sukarno pernah mengatakan:

“... Setia kepada Indonesia Raya, setia kepada lagu 'Indonesia Raya' yang telah kita ikrarkan bukan saja menjadi lagu perjuangan, tetapi menjadi lagu kebangsaan. Bukan saja lagu kebangsaan, tetapi pula menjadi lagu Negara kita. Permintaan batin kita ialah Allah SWT menjadikan lagu Indonesia menjadi lagu Kebangsaan, lagu bangsa kita sampai akhir zaman pula. Jangan ada sesuatu golongan memilih lagu baru, setialah kepada lagu Indonesia Raya, setialah kepada Pancasila.”

Pastikan juga untuk membaca berbagai artikel terbaru mengenai Hari Sumpah Pemuda di sini.

Informasi Hari Sumpah Pemuda Terbaru

Baca juga artikel terkait HARI SUMPAH PEMUDA atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Edusains
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Ibnu Azis, Yulaika Ramadhani & Yuda Prinada