Sejarah Indonesia

Sejarah Ekspedisi Pamalayu dan 3 Versi Tujuan Misi Raja Singasari

Penulis: Iswara N Raditya - 2 Agu 2021 15:33 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah Ekspedisi Pamalayu terkait dengan misi Maharaja Kertanegara dari Kerajaan Singasari pada abad ke-13 Masehi.
tirto.id - Ekspedisi Pamalayu terkait dengan misi Maharaja Kertanegara dari Kerajaan Singasari pada abad ke-13 Masehi. Muncul beragam versi terkait tujuan Kertanegara mengirim pasukan besar dari Jawa ke bagian barat Nusantara atau Bumi Melayu alias Sumatera, apakah penaklukan, pertahanan, atau justru tawaran persahabatan?

Singasari (Singhasari) atau Tumapel merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha terbesar di Jawa sebelum munculnya Majapahit. H.M. Nasruddin Anshoriy, Ch. dalam Neo Patriotisme: Etika Kekuasaan dalam Kebudayaan Jawa (2008) memperkirakan lokasi Kerajaan Singasari terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Puncak kejayaan sekaligus akhir Kerajaan Singasari terjadi pada era pemerintahan Raja Kertanegara (1268-1292 Masehi). Sebelum Kertanegara tewas akibat pemberontakan Jayakatwang, Singasari sempat melancarkan Ekspedisi Pamalayu ke Bumi Melayu.

Anthony Reid melalui riset bertajuk "Understanding Melayu (Malay) as a Source of Diverse Modern Identities" dalam Journal of Southeast Asian Studies (2001) mengungkapkan bahwa Ekspedisi Pamalayu dimulai pada 1275 Masehi.


Tujuan Versi 1: Menaklukkan Tanah Melayu

Versi pertama terkait tujuan Kerajaan Singasari melancarkan Ekspedisi Pamalayu adalah misi militer alias penaklukan. Dikutip dari Ensiklopedi Nusantara (1989) yang disusun Widjiono Wasis, Kertanegara ingin menyatukan sebagian wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari.

Interpretasi Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama (2006) menyebutkan, tujuan Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menaklukkan Swarnabhumi dengan baik-baik. Swarnabhumi ternyata memberikan perlawanan sehingga terjadilah agitasi militer yang dimenangkan oleh Singasari.

Swarnabhumi (Suvarnabhumi) atau Suvarnadvipa (Swarnadwipa) kerap dikaitkan dengan wilayah barat Nusantara dan Asia Tenggara, termasuk Sumatera, salah satunya seperti yang ditafsirkan oleh Anna T. N. Bennett lewat penelitian berjudul “Gold in early Southeast Asia” dalam jurnal Archeosciences (2009).

Kerajaan yang berkuasa di Swarnabhumi atau Sumatera ketika Singasari melancarkan Ekspedisi Pamalayu adalah Dharmasraya ketika Sriwijaya semakin melemah. Kerajaan Dharmasraya diyakini berpusat di tepi Sungai Batanghari, antara Sumatera Barat dan Jambi.


Tujuan Versi 2: Mengadang Mongol/Cina

Versi lainnya mengenai tujuan Ekspedisi Pamalayu yang digerakkan Kerajaan Singasari di bawah komando Raja Kertanegara ke Sumatera adalah untuk mengadang serangan pasukan Mongol atau Cina (Tiongkok).

Slamet Muljana dalam bukunya yang lain yakni A Story of Majapahit (1976) menuliskan, Ekspedisi Pamalayu dilaksanakan atas mandat Raja Kertanegara dari Singasari untuk membendung pengaruh ekspansionis dari Tiongkok, tepatnya Dinasti Yuan yang dipimpin oleh Kubilai Khan.

Kubilai Khan adalah Kaisar Mongol (1260-1294 M) yang juga pendiri Dinasti Yuan, dinasti "asing" di Cina pada 1279-1294 M. Kubilai Khan mengerahkan invasi ke berbagai wilayah di luar Cina, dari Korea, Jepang, hingga Asia Tenggara termasuk Vietnam, Kamboja, hingga Jawa atau Nusantara.

Versi yang kedua ini menyebutkan bahwa Raja Kertanegara mengerahkan pasukannya melalui Ekspedisi Pamalayu ke Sumatera untuk mengadang pengaruh kekuasaan Kekaisaran Mongol yang telah menguasai hampir seluruh daratan Asia kala itu.

Infografik SC Ekspedisi Pamalayu
Infografik SC Ekspedisi Pamalayu. tirto.id/Lugas



Tujuan Versi 3: Tawaran Persahabatan

Tujuan Ekspedisi Pamalayu versi ketiga adalah tawaran persahabatan atau kekerabatan dari Kerajaan Singasari kepada saudara-saudara serumpun mereka di Bumi Melayu. Prasasti Padang Roco yang ditemukan pada 1911 di hulu sungai Batanghari, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, bisa menjadi salah satu bukti yang menguatkan versi ini.

Prasasti Padang Roco yang berangka tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi menjadi alas dari Arca Amoghapāśa yang pada 4 sisinya terdapat manuskrip. Di prasasti ini dipahatkan 4 baris tulisan dengan aksara Jawa Kuno dan memakai dua bahasa, yakni bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta.

Berdasarkan penelitian dari manuskrip yang tergurat di prasasti tersebut, Arca Amoghapasa dimaksudkan sebagai hadiah atau persembahan persahabatan dari Raja Kertanegara kepada penguasa Dharmasraya, Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa.

Kemungkinan ini ditegaskan oleh Bambang Budi Utomo, ilmuwan dari Pusat Penelitan Arkeologi Nasional, yang sejak 2019 melakukan ekskavasi di Dharmasraya.

“Kalau dulu disebut penaklukan Singasari atas Melayu. Padahal faktanya tidak begitu. Dari data arkeologi yang kita punya, ada pengiriman Arca Amoghapasa. Di lapik itu jelas bunyinya, di situ sama sekali tidak menyebutkan penaklukan, malahan penyerahan hadiah,” ungkap Bambang Budi Utomo dikutip dari laman resmi Kabupaten Dharmasraya.

Hal senada juga dipaparkan Diansasi Proborini dari Universitas Airlangga Surabaya melalui risetnya bertajuk “Analisis Aspek Diplomasi Kultural dalam Ekspedisi Pamalayu 1275-1294 M” (2017).

Diansasi Proborini menyebut bahwa tidak ditemukan adanya tulisan atau laporan para sejarawan bahwa Ekspedisi Pamalayu dilakukan dalam pertumpahan darah yang sengit.

“Hal-hal yang terjadi dalam ekspedisi tersebut seakan mengindikasikan adanya proses-proses pembuatan kesepakatan antara dua pihak yang dilakukan dalam suasana yang kooperatif,” lanjut Proboni dalam penelitiannya.


Singasari Runtuh Usai Ekspedisi Pamalayu

Kitab Pararaton menyebutkan bahwa dua putri Raja Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa, Dara Petak dan Dara Jingga, ikut ke Jawa bersama rombongan Singasari dari Dharmasraya. Rencananya, dua putri ini akan dinikahkan dengan Raja Kertanegara.

Namun, sesampainya di Jawa pada 1292, Raja Kertanegara telah tewas akibat pemberontakan yang dimotori oleh Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang (Madiun). Kerajaan Singasari pun telah runtuh dan berada di bawah penguasaan Kerajaan Kediri yang telah dibangun kembali oleh Jayakatwang.

Nantinya, Dara Petak menikah dengan Raden Wijaya yang pada 1293 M mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit usai mengalahkan Jayakatwang.

Pernikahan ini melahirkan anak bernama Jayanagara yang pada akhirnya menjadi Raja Majapahit ke-2 sepeninggal Raden Wijaya.

Sedangkan mengenai Dara Jingga ada dua versi. Kakak kandang Dara Petak ini disebut menikah dengan Kebo Anabrang, pemimpin rombongan Singasari di Ekspedisi Pamalayu. Ada pula yang meyakini bahwa Dara Jingga juga dikawini oleh Raden Wijaya.


Baca juga artikel terkait KERAJAAN SINGASARI atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Addi M Idhom

DarkLight