Sejarah Indonesia

Sejarah Hidup Tribhuwana Wijayatunggadewi Sri Ratu Majapahit

Oleh: Iswara N Raditya - 29 April 2021
Dibaca Normal 3 menit
Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah Ratu Kerajaan Majapahit yang memulai sejarah menaklukkan Nusantara.
tirto.id - Tribhuwana Tunggadewi (1328-1351 Masehi) adalah raja perempuan Kerajaan Majapahit yang memulai misi menaklukkan Nusantara. Sejarah mencatat, pada era Sri Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani inilah terucap Sumpah Amukti Palapa oleh Mahapatih Gajah Mada.

Antara Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Gajah Mada memang terjalin hubungan yang saling melengkapi. Sri Ratu Tribhuwana mempercayakan Gajah Mada menempati posisi paling bergengsi di pemerintahan Majapahit. Sementara berkat Gajah Mada, misi sang ratu mulai terlaksana.

Nantinya, Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada di hadapan Tribhuwana Tunggadewi hampir benar-benar terwujud di era selanjutnya, yakni pada masa Hayam Wuruk. Gajah Mada berikrar pantang merasakan kenikmatan duniawi sebelum mempersatukan Nusantara di bawah naungan Kemaharajaan Majapahit.

Putri Raden Wijaya Sang Pendiri Majapahit

Tribhuwana Tunggadewi merupakan putri Raden Wijaya, pendiri sekaligus Raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309 M).

Slamet Muljana dalam Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979) menuliskan, sang ratu menyandang gelar lengkap Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Sebelum bertakhta di Majapahit, namanya adalah Dyah Gitarja. Ibunda Tribhuwana Wijayatunggadewi bernama Gayatri atau Rajapatni, salah satu istri Raden Wijaya yang juga putri Kertanegara, raja terakhir Singasari.

Setelah Kerajaan Singasari hancur akibat pemberontakan Jayakatwang pada 1292 yang menyebabkan Raja Kertanegara tewas, Raden Wijaya mendirikan pemerintahan baru bernama Majapahit di tepi Sungai Brantas, Mojokerto, setahun kemudian.


Penerus Raden Wijaya yang wafat pada 1309 M adalah putranya yang bernama Kalagemet. Raja ke-2 Majapahit ini dinobatkan dengan gelar Sri Jayanegara (1309-1328 M). Dyah Gitarja alias Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Jayanegara merupakan saudara satu ayah tapi lain ibu.

Semasa era Jayanegara, Dyah Gitarja pernah menjabat sebagai Bhre Kahuripan. Kahuripan (sekarang wilayah Sidoarjo) merupakan salah satu dari 12 wilayah utama atau semacam provinsi terpenting Kerajaan Majapahit yang beribukota di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Jayanegara dianggap tidak becus memimpin Kerajaan Majapahit sehingga timbul serangkaian pemberontakan semasa ia berkuasa. Pada akhirnya, raja ke-2 Majapahit ini tewas dibunuh oleh tabib sekaligus pengawalnya sendiri, yakni Ra Tanca, pada 1328.


Gajah Mada yang kala itu adalah anggota Bhayangkara atau pasukan pengawal raja punya peran penting di era Jayanegara yang penuh huru-hara.

Ia pernah menyelamatkan Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti pada 1319. Gajah Mada pula yang mengeksekusi the king slayer, Ra Tanca.

Lantaran Jayanegara tidak punya putra mahkota, yang berhak naik takhta adalah Ratu Gayatri, istri terkasih Raden Wijaya.

Namun, tulis Parakitri Simbolon dalam Menjadi Indonesia: Volume 1 (2006), Gayatri enggan menjadi penguasa, ia sudah melepaskan ambisi duniawi dan memilih jalan religi.

Gayatri melimpahkan takhta kepada putirnya, Dyah Gitarja, yang dinobatkan pada 1328 M dengan menyandang gelar Tribhuwana Wijayatunggadewi. Ia adalah raja perempuan atau rajaputri alias ratu pertama dalam sejarah Kerajaan Majapahit.


Memulai Misi Penaklukkan Nusantara

Purwadi dalam buku Sejarah Raja-raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa (2007) menyebut bahwa jasa besar Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah meletakkan dasar-dasar politik kenegaraan Majapahit.

Naiknya Tribhuwana Tunggadewi ke singgasana Majapahit juga berimbas besar terhadap karier Gajah Mada. Sosok perwira muda ini langsung melejit berkat jasa-jasanya mengamankan negara, termasuk menyelesaikan pemberontakan Sadeng dan Keta yang masih menjadi bagian dari dampak kepemimpinan Jayanegara.

Berkat kesetiaannya terhadap negara juga kecakapannya, Gajah Mada langsung menjadi orang kepercayaan Tribhuwana Wijayatunggadewi.

Pada 1334, Sri Ratu Tribhuwana menunjuk Gajah Mada untuk menempati posisi sebagai rakryan patih atau mahapatih alias perdana menteri menggantikan Arya Tadah yang undur diri karena sudah merasa tua.


Dikutip dari Sedjarah Indonesia Lama (1961) karya Pitono Hardjowardojo, saat dilantik menjadi mahapatih pada 1334, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Ia berikrar pantang merasakan kenikmatan duniawi sebelum berhasil mempersatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.

Era Tribhuwana Wijayatunggadewi memang merupakan masa di mana Majapahit mulai melebarkan sayapnya hingga ke luar Jawa.

Tahun 1343, misalnya seperti dinukil dari buku ‎Sejarah Kebudayaan Bali (1998) yang disusun Supratikno Raharjo dan kawan-kawan, Kerajaan Majapahit menaklukkan Bali.

Berikutnya, giliran kerajaan-kerajaan di kawasan lain di luar Jawa yang ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit di bawah komando Mahapatih Gajah Mada atas perintah Sri Ratu Tribhuwana Tunggadewi.


Tribhuwana Tunggadewi Lengser Keprabon

Kerajaan Majapahit sebenarnya sedang menuju kegemilangan ketika Tribhuwana Wijayatunggadewi memutuskan lengser pada 1350. Keputusan tersebut diambil seiring wafatnya sang ibunda, Gayatri.

Bagi Sri Ratu Tribhuwana, singgasana Majapahit sebenarnya adalah hak sang ibunda yang memberinya mandat untuk menjadi pemimpin. Maka itu, setelah Gayatri tiada, Tribhuwana Tunggadewi menganggap bahwa amanat itu telah ditunaikannya.

Takhta Majapahit selanjutnya diserahkan kepada putra mahkota, Hayam Wuruk, anak Tribhuwana Tunggadewi dari pernikahannya dengan Pangeran Cakradhara atau Kertawardhana, bangsawan keturunan Singasari.


Setelah lengser keprabon, Tribhuwana Tunggadewi kemudian menempati posisi sebagai salah satu anggota Saptaprabhu, semacam dewan pertimbangan agung atau dewan penasihat raja yang beranggotakan keluarga kerajaan.

Hayam Wuruk ditabalkan sebagai raja ke-4 Majapahit dengan gelar Sri Rajasanagara (1350-1389 M). Dengan bimbingan Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Mahapatih Gajah Mada, raja muda ini membawa Majapahit mencapai masa kejayaan, termasuk mewujudkan misi menyatukan Nusantara.

Dikutip dari Nino Oktorino dalam Hikayat Majapahit: Kebangkitan dan Keruntuhan Kerajaan Terbesar di Nusantara (2020), tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya Tribhuwana Wijayatunggadewi meninggal dunia.

Kitab Pararaton hanya memberitakan bahwa mantan Ratu Majapahit itu wafat setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih pada 1371 M.

Jasad Sri Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi disucikan di Candi Pantarapura yang terletak di Desa Panggih, Trowulan, Mojokerto.


Baca juga artikel terkait SEJARAH KERAJAAN MAJAPAHIT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
DarkLight