Sejarah Indonesia

Pemberontakan Sadeng vs Majapahit: Dendam Sejarah Kematian Nambi

Oleh: Iswara N Raditya - 17 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah pemberontakan Sadeng melawan Kerajaan Majapahit merupakan aksi pembalasan atas kematian Nambi.
tirto.id - Sejarah pemberontakan Sadeng melawan Kerajaan Majapahit merupakan aksi pembalasan atas kematian Nambi. Bersama Keta, orang-orang Sadeng terlibat konfrontasi dengan pasukan Majapahit pada 1331 Masehi. Gajah Mada punya peran dalam upaya memadamkan perlawanan ini.

Sadeng dan Keta juga Lamajang (Lumajang) merupakan wilayah taklukan Kerajaan Majapahit. Sadeng, Keta, dan Lamajang yang sama-sama merupakan daerah pelabuhan terhubung lewat jalur-jalur sungai. Ketiganya berperan penting sebagai bandar dagang sekaligus pemasok stok pangan untuk Majapahit

M. Nasruddin Anshoriy Ch & Dri Arbaningsih Soeleiman dalam Negara Maritim Nusantara: Jejak Sejarah yang Terhapus (2008) menyebut Sadeng terletak di sebelah selatan Probolinggo. Ada pula yang meyakini bahwa Sadeng kini termasuk wilayah Jember bagian pesisir selatan.

Dua pendapat tersebut barangkali tidak salah dan saling terkait. Jember memang berada di sebelah selatan Probolinggo dan berbatasan langsung dengan Lumajang yang sama-sama merupakan kawasan pantai selatan di Jawa Timur.

Sementara Keta, seperti yang disebutkan dalam Sejarah Birokrasi Pemerintahan Indonesia Dahulu dan Sekarang (1989) karya P.J. Suwarno, terletak di sekitar Besuki atau wilayah Situbondo di pesisir utara Jawa Timur. Situbondo berada di seberang selatan Pulau Madura.


Tragedi Nambi Berujung Dendam

Kematian Nambi terjadi di Lamajang pada 1316 Masehi atau 15 tahun sebelum terjadinya pergolakan yang dikobarkan oleh Sadeng dan Keta terhadap dominasi Kerajaan Majapahit yang beribukota di Trowulan, Mojokerto.

Menurut Purwadi dalam Sejarah Raja-raja Jawa (2007), pemberontakan Nambi adalah peristiwa serupa ke-3 sejak riwayat Kerajaan Majapahit berdiri setelah pemberontakan Ranggalawe pada 1295 dan Lembu Sora tahun 1330.

Nambi adalah rakryan patih alias perdana menteri (mahapatih) pertama Majapahit yang ditunjuk langsung oleh Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309), sang raja pertama sekaligus pendiri kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang didirikan di tepi Sungai Brantas itu.

Tragedi yang menyebabkan tewasnya Nambi terjadi pada masa pemerintahan Prabu Sri Jayanagara (1309-1328), raja ke-2 Majapahit yang juga anak dari Raden Wijaya. Banyak pendapat yang meyakini peristiwa Nambi, Ranggalawe, maupun Lembu Sora bukanlah aksi pemberontakan.


Nambi, Ranggalawe, dan Lembu Sora difitnah oleh sosok berpengaruh bernama Dyah Halayuda alias Mahapati. Dyah Halayuda merupakan sepupu Raden Wijaya yang berarti juga paman Jayanagara. Ia mengincar jabatan rakryan patih.

Raka Revolt dalam Konflik Berdarah di Tanah Jawa: Kisah Para Pemberontak (2008) menuliskan, lempengan tembaga Sidateka bertarikh tahun saka 1245 atau 1323 Masehi menyebutkan bahwa yang menjadi Mahapatih Majapahit adalah Dyah Halayuda.

Tewasnya Nambi, yang menurut Nagarakertagama disebabkan karena dikeroyok oleh tiga panglima perang Majapahit, yakni Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang, menyisakan pahit yang mendalam bagi orang-orang Sadeng dan Keta.


Geger di Timur Majapahit

Sadeng dan Keta menaruh dendam mendalam terhadap Majapahit akibat tewasnya Nambi. Pasalnya, Nambi adalah orang yang berjasa mengangkat derajat orang-orang Sadeng dan Keta menjadi para prajurit pilihan dalam angkatan perang Majapahit.

Terlebih, insiden yang disebut pemberontakan Nambi itu sekaligus meruntuhkan Lamajang yang terhubung kuat dengan Sadeng dan Keta. Selama belasan tahun, orang-orang Sadeng dan Keta menyimpan murka sembari menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam.

Masa itu akhirnya tiba ketika Majapahit dipimpin oleh Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350). Dikutip dari Ken Arok-Ken Dedes (2004) yang ditulis Purwadi, Tribhuwana adalah adik mendiang Prabu Jayanagara yang telah mangkat pada 1328 Masehi.


Lantaran Jayanagara tidak memiliki anak, maka yang dinobatkan sebagai pemimpin Majapahit berikutnya adalah Tribhuwana Tunggadewi. Nantinya, takhta kerajaan diserahkan kepada putranya yang bernama Hayam Wuruk.

Tribhuwana Tunggadewi paham bahwa Sadeng dan Keta terus bergolak bak api dalam sekam. Namun, ia menginginkan agar persoalan ini dapat diselesaikan dengan cara baik-baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang Sadeng dan Keta pernah menjadi bagian dari perjuangan Majapahit.

Terlebih, Sadeng dan Keta diperkuat oleh banyak prajurit tangguh dan ada beberapa di antaranya yang pernah menjadi panglima perang andalan Majapahit, termasuk Wirota Wiragati, sang pemimpin Sadeng. Angkatan perang Sadeng dikenal hebat karena diperkuat pasukan gajah.


Polemik Gajah Mada vs Ra Kembar

Gajah Mada, yang saat itu belum menjadi mahapatih, diutus untuk mengupayakan rekonsiliasi dengan Sadeng dan Keta. Namun, alangkah kecewanya Gajah Mada lantaran ternyata ada yang mengacaukan rencananya sehingga membuat Sadeng dan Keta bergerak melawan.

Pasukan Majapahit yang dipimpin Ra Kembar terlebih dulu mengepung Sadeng dan Keta sebelum kedatangan Gajah Mada yang membawa misi damai. Ra Kembar adalah salah satu perwira tinggi Majapahit dan menganggap Gajah Mada sebagai pesaingnya.

Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang yang dulu mengeroyok Nambi hingga tewas adalah bawahan Ra Kembar.


Ra Kembar berpendapat bahwa Sadeng dan Keta harus dihancurkan karena ingin melepaskan diri dari naungan Majapahit. Sadeng dan Keta bersiap melancarkan pemberontakan dengan melakukan perekrutan besar-besaran penduduk sipil untuk dijadikan prajurit.

Mulyono Atmosiswartoputra dalam Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah (2020) menyebutkan, agar pertikaian antara Ra Kembar kontra Gajah Mada itu tidak berujung gawat, maka Tribhuwana Tunggadewi memimpin langsung pasukan Majapahit untuk meredakan pergolakan di Sadeng dan Keta.

Kronologi rinci pemberontakan Sadeng dan Keta memang tidak terlalu banyak yang bisa diketahui. Namun yang jelas, pergolakan yang akhirnya berhasil dipadamkan itu kian melapangkan jalan Gajah Mada untuk menempati posisi prestisius sebagai mahapatih Kerajaan Majapahit.


Baca juga artikel terkait SEJARAH MAJAPAHIT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
DarkLight