tirto.id - Managing Director Khazanah Nasional Berhad, Dato’ Feisal Zahir, mengatakan bahwa Sovereign Wealth Fund (SWF) atau dana kekayaan negara harus memiliki batasan yang jelas antara mandat investasi komersial dan membantu pemerintah sebagai agen pembangunan.
Feisal menekankan bahwa kejelasan mandat sejak awal adalah kunci agar sebuah SWF dapat menjalankan fungsinya secara optimal dan disiplin tanpa intervensi berlebih dari pemangku kepentingan.
“Anda harus sangat disiplin tentang itu. Dan tidak hanya disiplin, tetapi memberi tahu pemangku kepentingan Anda bahwa ini adalah batas kami, dan ini adalah yang dapat kami lakukan,” kata Feisal dalam acara Indonesia Economic Summit di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, SWF seperti Khazanah dan juga Danantara, menghadapi tugas ganda: mengkatalisasi investasi asing dengan tetap mengejar pengembalian komersial yang kompetitif, sekaligus mendukung tujuan pembangunan nasional dan mengikuti arahan kebijakan pemerintah.
Berdasarkan pengalaman Malaysia, kejelasan ini harus dirumuskan dengan tegas. Saat didirikan pada 1993, Khazanah memang memikul peran ganda tersebut.
Namun, Feisal mengingatkan, terlalu banyak mandat tanpa kejelasan justru menciptakan kebingungan, baik secara internal maupun di mata publik. Oleh karena itu, Khazanah kemudian menyusun kerangka “Advancing Malaysia” sebagai landasan agar pembangunan ekonomi dan keuntungan komersial dapat berjalan beriringan.
Untuk mengelola kompleksitas ini, Khazanah menerapkan pemisahan portofolio yang ketat. Lembaga ini membagi dananya ke dalam dua kategori utama: dana yang berfokus pada pengembalian komersial murni, dan dana yang dirancang untuk pembangunan ekonomi dengan horizon investasi jangka lebih panjang.
“Pemisahan ini menjaga disiplin manajemen risiko sekaligus memberi sinyal jelas kepada seluruh pemangku kepentingan mengenai batasan ruang gerak SWF dalam menjalankan mandatnya,” papar Feisal.
Strategi alokasi aset Khazanah juga dirancang untuk menyeimbangkan kedua mandat tersebut. Sebanyak 60 persen aset ditempatkan di dalam negeri dengan fokus pada sektor-sektor yang memberikan dampak langsung bagi pembangunan, seperti konektivitas penerbangan (meliputi maskapai, bandara, dan aset pariwisata), utilitas, dan transisi energi.
Meski berorientasi pembangunan, semua investasi domestik ini tetap dikelola dengan prinsip komersial. Sementara itu, 40 persen portofolio lainnya dialokasikan untuk investasi internasional.
Fokusnya adalah meraih pengembalian yang kompetitif, sekaligus membangun jaringan global dan memperoleh pengetahuan serta teknologi mutakhir yang dapat ditransfer kembali untuk mendukung inovasi di dalam negeri.
“Ini bukan tugas yang mudah, tetapi harus dijalankan dengan disiplin dan kejelasan,” tuturnya.
Adapun, Khazanah Nasional Berhad menyajikan keterbukaan pengelolaan investasinya secara publik. Melihat laman resminya, SWF Pemerintah Malaysia yang didirikan pada 1993, hingga akhir 2024 ini memiliki nilai portofolio Realisable Asset Value (RAV) sekitar RM140,9 miliar (lebih dari US$30 miliar).
Lembaga ini juga mencatat kinerja yang baik dengan Net Asset Value Time Weighted Rate of Return (NAV TWRR) sebesar 24,6 persen pada tahun 2024.
Investor Global Desak Danantara Buka Akses Investasi
Sementara itu, investor global mendorong Danantara untuk membuka akses investasi seluas-luasnya bagi mitra asing. Mereka meyakini, keterbukaan ini akan mengkatalisasi pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang kerja yang masif.
Founder dan CEO BlueFive Capital, Hazem Ben-Gacem, menyampaikan dengan aset sekitar satu triliun dolar AS, Danantara memiliki modal awal yang fantastis untuk menjadi katalis fase kedua perekonomian Indonesia.
"Ini adalah waktu bagi Danantara untuk mulai melihat membawa mitra. Itu tidak harus investor asing, bisa perusahaan sektor swasta lokal, bisa internasional," katanya.
Ia menekankan, untuk meningkatkan nilai aset menjadi dua hingga tiga triliun dolar dalam dekade mendatang, partisipasi modal dan keahlian asing sangat dibutuhkan. Caranya, dengan membuka kepemilikan sejumlah aset strategis kepada investor dan operator kelas dunia.
"Lepaskan saja. Biarkan skema bisnis. Biarkan investor asing mengambilnya. Biarkan operator kelas dunia terbaik di seluruh dunia memiliki bisnis-bisnis itu," ujarnya.
Dampaknya, menurut Ben-Gacem, akan sangat signifikan. Kesuksesan pengelolaan aset oleh pihak terbaik tidak hanya akan mendongkrak PDB, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi 280 juta penduduk Indonesia.
"Jika mereka berhasil, mereka akan membuat PDB Indonesia 1,4 triliun dolar AS itu sangat sukses. Akan ada 280 juta orang semoga memiliki pekerjaan yang lebih baik, pekerjaan yang lebih besar, dan itu membuat negara pada dasarnya lebih sukses," ucapnya.
Ia menilai, modal, pengetahuan, dan kolaborasi investor global sudah ada. Tinggal Danantara yang perlu memanfaatkannya dengan membuka peluang partisipasi seluas-luasnya untuk menciptakan nilai bersama.
“Biarkan mereka (investor asing) datang, berpartisipasi, membangun bersama Anda, dan menciptakan nilai bersama,” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































