Al-Ilmu Nuurun

Samir Amin: Kumandang Ekonomi Marxis dalam Spirit Pembebasan Islam

Samir Amin. tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 1 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Wacana ekonomi marxis akhir abad ke-20 diramaikan pemikiran Samir Amin. Banyak terinspirasi dari KAA Bandung 1955.
Setengah abad setelah Malek Bennabi menerbitkan L’Afro-Asiatisme (1956), Samir Amin menyebut suatu masa yang ia sebut sebagai “Era Bandung”. Era ini merupakan dampak dari Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung.

Dalam bukunya, L’éveil du Sud: lère de Bandoung, 1955-1980; panorama politique et personnel de l’époque (2008), Amin membahas soal transformasi dunia Selatan. Dunia Selatan di sini mengacu pada "dunia ketiga" bekas kawasan terjajah yang banyak terhampar di Asia dan Afrika; berkebalikan dengan dunia Utara yang maju termasuk di antaranya Israel, Korsel, Singapura, dan Australia yang secara geografis ada di belahan bumi selatan.

Dunia Selatan yang bangkit dengan logika dan kehendaknya sendiri, termasuk industrialisasi selama era Bandung, tampaknya sengaja diungkit Amin untuk menandingi dominasi wacana Perang Dingin. Bagi Amin, itu adalah sejenis kebangkitan yang digerakkan bangsa-bangsa yang menang di dunia Selatan, bukan perpanjangan tangan dari imperialisme Barat.

“Kesuksesan peristiwa Bandung itu,” tulis Samir Amin di buku tersebut, “adalah asal muasal lompatan besar bagi masyarakat Selatan, dalam bidang pendidikan dan kesehatan, pembangunan negara modern, sering kali pengentasan kesenjangan sosial dan akhirnya masuk ke era industrialisasi.”

Pada urutannya, lanjut Amin, berbagai keterbatasan dari prestasi yang telah dicapai, misalnya soal defisit demokratis dan masyarakat yang tuna kuasa, harus dipertimbangkan. Sistem Bandung yang ditandai dengan gerakan non-blok itu ikut menjadi pikiran alternatif dari dua sistem besar pasca-Perang Dunia II, yakni Sovietisme (dan Maoisme) dan juga Kesejahteraan Sosial yang digaungkan demokrasi sosial di Barat. Mempertanyakan seputar kapitalisme menjadi kebutuhan mendesak dalam upaya pembebasan yang diperjuangkan bangsa-bangsa Selatan.

Kehadiran Kwame Nkrumah, garda depan Pan-Afrikanisme, di Bandung menjadi simbol penting dalam kebangkitan bangsa Afrika. Kesatuan Afrika pada mulanya lebih banyak disuarakan dalam komunitas diaspora Afrika di benua Amerika untuk kemerdekaan negara-negara di benua Afrika. Tapi, mulai 1955, visi itu berbelok menjadi agenda persatuan sekawasan, sebagaimana diungkapkan ekonom dan intelektual publik Thandika Mkandawire. Amin pun menganggap periode ini sebagai periode Renaisans Afrika. Selama masa ini, sebagaimana terjadi di dunia Selatan lain, pembebasan terinspirasi oleh semangat dan nilai sosialis untuk lepas dari jerat kapitalisme.


Pada periode 1960-an sosialisme bahkan sudah menjadi wacana umum yang diperdebatkan di Afrika. Setidaknya ada dua arus besar yang muncul. Arus pertama diwakili Jomo Kenyatta dari Kenya dan Julius Nyerere dari Tanzania yang menganggap sosialisme Afrika sebagai bagian perjuangan kelas. Sementara arus kedua menentang perjuangan jenis ini melalui apa yang disebut sosialisme ilmiah, terutama yang terwakili oleh Nkrumah dan Ahmed Sékou Touré dari Guinea. Dalam sudut pandang Nkrumah, nilai objektif dari sosialisme ilmiah itu perlu diupayakan di bawah payung egalitarianisme dan ini tak bakal terwujud tanpa suatu "Uni Afrika".

Eurosentrisme dan "Dunia Alternatif"

Tentu saja, sorotan ekonomi politik Amin tak berkutat pada Afrika saja, melainkan melebar ke masalah umum di dunia Selatan, termasuk Asia dan Amerika Latin. Ekonom marxis berpengaruh ini mempercanggih kritik radikalnya atas Barat dengan apa yang ia sebut pada 1970-an sebagai 'Eurosentrisme' (dalam leksikon Perancis awalnya disebut européocentrique), lalu ia ketengahkan khusus dalam bukunya pada 1989.

Menurut Amin, Eurosentrisme adalah cara pandang dunia yang diproduksi dominasi kapitalisme Barat yang menganggap kebudayaan Eropa sejak zaman Yunani hingga masa modern mencerminkan perwujudan tunggal dan paling progresif. Dalam sejarah pemikiran Barat, ini salah satunya terwakili oleh filsuf Hegel yang punya dampak besar dalam kerangka "akhir sejarah" yang ditulis Francis Fukuyama. Di sini menarik, Amin sudah membukukan kritiknya empat tahun sebelum Fukuyama menerbitkan The End of History and the Last Man (1992). Maka, Amin hakulyakin menjelaskan bahwa Eurosentrime ialah distrosi ideologis, mitologi luar biasa, dan parodi sejarah dan moral.

Eurosentisme jadi pisau analisis yang mendasar dalam menghadirkan "dunia alternatif" dalam sejarah dan masa kini. Kritik Amin, seperti ia ungkit sendiri, menekankan narasi lain dalam perjalanan dunia Islam Arab yang menjadi fase penting dalam perjalanan peradaban umat manusia. Istilah ini menjadi salah satu leksikon favorit dalam kritik ilmu sosial mutakhir. Tak salah jika perannya, ditambah dengan kritik atas struktur pengetahuan yang eurosentris dari Immanuel Wallerstein, merembes ke berbagai bidang pengetahuan. Kita lalu mengenal konsep provincializing Europe dari Dipesh Chakrabarty.

Dalam studi sejarah dan kajian Islam, penerimaan akan narasi alternatif ini semakin dipertimbangkan. Studi mengenai Mediterania tak dimonopoli bias Eropa saja, misalnya, tetapi juga Islam yang memainkan peran penting seperti tampak dalam karya Cristophe Picard, sejarawan Perancis yang menelisik dunia Mediterania abad pertengahan—bergeser dari anggapan umum setelah Fernand Braudel menulis tentang itu beberapa dekade sebelumnya. Para sejarawan Barat kini mulai hati-hati, terlebih setelah muncul tren sejarah global yang mulai melirik narasi alternatif dari dunia Islam atau dunia terpinggirkan lain dari wilayah Selatan.

Sementara itu bayangan dunia alternatif untuk masa kini jelas menjadi bagian erat aktivisme Amin. Dari keanggotaannya di Partai Komunis Perancis dan periode kuliah di Paris pada 1950-an yang penuh gejolak hingga masa ketika ia kembali ke Mesir. Setelah itu ia bolak-balik mengajar di Perancis, kemudian banyak berkiprah dari Afrika barat.

Amin banyak memberi nasihat kepada pemerintah-pemerintah negara dunia ketiga dan dipercaya. Belakangan kita mengenalnya sebagai pendiri dan direktur Third World Forum yang dibentuk pada 1975 dan berpusat di Dakar, Senegal. Mungkin Amin memilih Dakar karena iklim intelektual dan politik yang mendukung. Presiden pertama Senegal yang berkuasa hingga 1980, Léopold Sédar Senghor, ialah pendukung sosialisme Afrika sekaligus penyair dan filsuf ternama yang memengaruhi pemikiran keafrikaan saat ini.

Sebagai jaringan intelektual di seantero Afrika, Asia, dan Amerika Latin, Third World Forum berkiprah penting dalam diseminasi gagasan alternatif dalam pembangunan, geopolitik, serta krisis lingkungan. Forum ini turut memperbesar gerakan sosial dan masyarakat sipil yang menjadi basis perjuangan kelompok kiri, termasuk dari Indonesia yang banyak melahap teori ketergantungan seperti almarhum Arief Budiman.


Islamisme Tak Bekerja dengan Logika Kiri

Latar belakang Amin sebagai keturunan campuran antara Mesir dan Perancis menjadikannya salah satu wakil kosmopolitan kelompok kiri yang, tanpa batas negara, menjangkau berbagai perbedaan budaya dan identitas tanah air. Tentu saja pemikiran Amin banyak menyebar ke berbagai penjuru sebab, berbeda dengan pemikir kiri dan eksistensialis yang jarang disorot seperti Muta Safadi dengan audiens Arab, ia menulis dalam bahasa Perancis dan Inggris serta bekerja untuk jangkauan yang lebih luas.

Bukan berarti manakala Amin memperjuangkan dunia alternatif ia setuju dengan Islamisme, misalnya yang terwakili kelompok kecil namun vokal dan terorganisasi di Mesir bernama al-Ikhwan al-Muslimun. Dalam berbagai tulisannya, ia beberapa kali mengkritik Islam politik yang kerap tak bekerja dengan logika kiri, malahan bekerja sama dalam banyak kesempatan dengan imperialisme Barat. Ini memunculkan rumor yang tidak benar mengenai konflik di Timur Tengah.

Cendekiawan Nahdlatul Ulama lulusan Paris, Muhammad Al-Fayyadl, pernah melaporkan pandangan Amin itu melalui wawancara langsung pada 2013 yang ditayangkan di Indoprogress. Aktivis Islamisme yang kiri mungkin akan bimbang jika disuguhkan pilihan ala Matrix: pil biru atau merah. Pil biru mewakili ketidaktahuan yang melenakan, sementara pil merah berarti kebenaran yang tak menyenangkan.

Ibarat muazin memukul kentongan dan menggemakan azan dari masjid, Samir Amin membunyikan denting bel dan mengumandangkan antikapitalisme dari Afrika. Ia adalah salah satu gema keras atas upaya pembangunan dunia yang berbeda, kritikus globalisasi yang rakus dan memaksa, dan penyeru kebangkitan dunia Selatan. Tak lelah ia mengajak pada suatu narasi untuk mewarisi spirit “Era Bandung”.


Kepada Guswandi, ekonom heterodoks yang juga lulusan Paris, saya bertanya sekaligus berkelakar.

“Gus, setahu lu Samir Amin muslim atau bukan?”

“Dalam budaya Perancis tak penting soal agama, Jacques (ia lama memanggil saya demikian). Terus lu gak mau nulis kalau dia tak beragama?”

“Bukan begitu. Soalnya gue sedang menulis soal cendekiawan muslim.”

Saya membalas Guswandi sambil membatin: bagi saya, Amin mewakili aspirasi kiri dari semangat pembebasan Islam. Lagi pula, pada 2009, ia terpilih mendapatkan Ibn Rushd Prize for Freedom of Thought di Berlin.

==========

Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight