tirto.id - Senja perlahan turun di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Hari perlahan mulai gelap ketika sejumlah warga mulai menggelar karpet merah di lantai sebuah bangunan sederhana.
Bukan untuk menyambut pejabat atau perayaan seremonial. Karpet merah itu menjadi alas sujud bagi warga yang bersiap menunaikan salat tarawih malam pertama 1 Ramadhan 1447 Hijriah.
Ramadhan tahun ini terasa jauh berbeda bagi masyarakat Manyang Cut. Masjid desa yang selama ini menjadi pusat ibadah dan aktivitas sosial kini tak lagi bisa digunakan. Bangunan itu hampir sepenuhnya tertimbun tanah dan material kayu setelah banjir besar menerjang wilayah Pidie Jaya pada akhir 2025.
Air bah yang turun dari pegunungan membawa lumpur tebal, potongan kayu, serta material lain yang menghantam permukiman warga. Hampir seluruh rumah terdampak. Banyak yang rusak berat, sebagian nyaris tak bisa dihuni lagi. Halaman rumah berubah menjadi hamparan tanah. Dinding-dinding retak menjadi saksi derasnya arus yang pernah datang tanpa ampun.
Masjid desa mengalami nasib serupa. Bangunan yang dulu kokoh dan selalu ramai setiap Ramadhan kini terdiam, tertimbun, dan menyisakan kesedihan mendalam bagi warga.
Sebagai pengganti sementara, dibangunlah sebuah meunasah atau musala darurat. Bangunannya sederhana dengan ruang terbatas. Dindingnya seadanya, atapnya fungsional. Namun, bagi warga tempat itu lebih dari sekadar bangunan, ia menjadi simbol bahwa kehidupan dan ibadah harus tetap berjalan.
“Dengan adanya musala darurat ini bisa kami salat tarawih malam ini,” kata Wakil Kepala Imam Meunasah Desa Manyang Cut, Jailani, Rabu (18/2/2026) malam.
Nada syukurnya terdengar jelas, meski terselip keharuan. Baginya dan warga lain, keberadaan musala darurat adalah anugerah di tengah keterbatasan. Namun, musala itu tak seluas masjid lama. Kapasitasnya hanya mampu menampung sekitar 50 jamaah laki-laki dan 50 jamaah perempuan.
Ramadhan kali ini bukan hanya tentang suasana yang berubah, tetapi juga tentang kondisi hidup yang belum sepenuhnya pulih. Sejumlah keluarga masih berjuang membersihkan sisa lumpur dari rumah mereka. Ada yang kehilangan perabotan, ada pula yang harus memulai kembali dari nol.
“Ramadhan kali ini sangat banyak bedanya dengan keadaan yang sangat berduka, kita sedang musibah,” ucap Jailani lirih.
Biasanya, kata dia, masjid desa menjadi pusat keramaian. Anak-anak memenuhi saf belakang, suara tadarus terdengar hingga larut malam, dan warga saling berbagi hidangan berbuka. Kini, suasana itu tergantikan oleh ruang yang lebih sempit dan hati yang masih menyimpan duka.
Meski demikian, semangat beribadah tidak surut. Karpet merah yang terhampar di musala darurat menjadi simbol keteguhan. Di atasnya, warga berdiri dalam saf yang rapat, melupakan sejenak beban yang mereka pikul.
Tak ada kemegahan, tak ada pendingin ruangan atau pengeras suara besar seperti dulu. Hanya cahaya lampu sederhana dan suara imam yang menggema di ruang terbatas. Namun justru dalam kesederhanaan itu, kekhusyukan terasa lebih dalam.
Musala darurat kini bukan sekadar tempat salat. Ia menjadi ruang pemulihan batin, tempat warga saling menguatkan dan berbagi cerita tentang rumah yang rusak, tentang harapan membangun kembali masjid, serta tentang keyakinan bahwa setiap musibah menyimpan hikmah.
Di Manyang Cut, Ramadhan tahun ini menjadi ujian sekaligus pengingat. Bahwa ibadah tak bergantung pada megahnya bangunan, melainkan pada keteguhan hati. Di bawah atap darurat, warga menjaga cahaya iman tetap menyala, meski desa mereka masih dalam bayang-bayang duka.
=============
Kontributor: Nadim
Penulis: Nadim
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































