Menuju konten utama

Saat Danau Singkarak Jernih Seperti di Swiss usai Banjir Bandang

Ada sejumlah mekanisme yang memungkinkan terjadinya proses penjernihan di Danau Singkarak, di antaranya proses penyaringan alami oleh bebatuan karst.

Saat Danau Singkarak Jernih Seperti di Swiss usai Banjir Bandang
Foto udara sampah dari kayu gelondongan yang hanyut di danau Singkarak di Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025). ANTARA FOTO/Wawan Kurniawan/Lmo/nz

tirto.id - Fenomena jernihnya air Danau Singkarak di Sumatra Barat memicu tanda tanya besar di kalangan masyarakat. Kondisi yang bertepatan dengan bencana besar yang menerjang tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara itu menjadikan pemandangan air danau yang bening ini tampak tak lazim.

Salah satu video yang diunggah oleh @sumbarspot pada akun TikTok misalnya, menunjukkan air yang tampak jernih dengan warnanya yang biru kehijauan. Ramai warganet dibuat takjub dengan pemandangan tersebut dan menyamakannya dengan salah satu sungai di Swiss. Namun, tak sedikit yang menyebutkan bahwa warna tersebut hanya berasal dari efek kamera atau filter, bahkan bantuan dari akal imitasi (AI).

"Fenomena unik dari Danau Singkarak yang airnya berubah menjadi biru muda yang sangat jernih dan indah, seakan menjadikannya seperti Swiss-nya Sumatra Barat," tulis keterangan pada video yang diunggah Selasa (2/12/2025).

Munculnya warna hijau toska pada aliran air dari danau Singkarak menuju Sungai Batang Ombilin ini ternyata tak muncul tanpa sebab.

Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Atriyon Julzarika, mengatakan air yang terlihat jernih itu disebabkan oleh pertumbuhan lebat alga atau fitoplankton berwarna serupa yang keluar dari danau saat pintu air dibuka.

Dimana kondisi ini terjadi ketika volume air danau meningkat signifikan akibat banyaknya pasokan air dari hulu.

"Air Batang Ombilin berwarna hijau toska karena terdapat alga atau fitoplankton yang berwarna hijau toska. Alga tersebut terbawa keluar dari Danau Singkarak pada waktu pelepasan air danau yang meluap (melebihi batas tertinggi danau)," tutur Atriyon saat dihubungi Tirto, Kamis (4/12/2025).

Pertumbuhan lebat alga dipicu oleh naiknya air dari dasar danau yang membawa serta banyak mineral, terutama karena mineral itu mengandung dua unsur yang mempercepat pertumbuhan alga, yakni nitrogen (N) dan fosfor (P). Material galodo -istilah masyarat Sumbar menyebut banjir bandang-yang masuk pun juga mengandung banyak N dan P.

Sementara itu, Pakar Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan ada sejumlah mekanisme yang memungkinkan terjadinya proses penjernihan di Danau Singkarak, di antaranya proses penyaringan alami oleh bebatuan karst yang mengelilingi wilayah hulu danau atau peran dari kawasan Bukit Barisan yang kaya akan kandungan kapur.

"Dan kapur itu menjadi filter alami atau penyaring. ​Jadi air hujan melewati celah, polutannya itu menempel, begitu, sehingga airnya yang menerus itu bersih. ​Jadi sedimen atau suspensinya tuh melekat di kapurnya," ujar Eko.

Dengan volume air yang sangat besar, kemungkinan lainnya seperti terjadinya pengenceran tingkat kekeruhan di dalam danau juga bisa terjadi. Termasuk, berkaitan dengan karakter Danau Singkarak sebagai danau tektonik yang terbentuk akibat aktivitas patahan.

Karena sifatnya tersebut, sedimen berukuran besar tidak mudah tersuspensi dalam air ketika terjadi penambahan volume air.

Sampah kayu gelondongan pascabanjir bandang di Solok

Foto udara sampah dari kayu gelondongan yang hanyut di danau Singkarak di Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025). ANTARA FOTO/Wawan Kurniawan/Lmo/nz

Fenomena jernihnya air yang usai terjadinya bencana banjir juga pernah terjadi di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta pada akhir 2017 lalu. Eko Teguh Paripurno mengatakan fenomena itu terjadi saat Siklon Tropis Cempaka dimana danau jernih secara tiba-tiba muncul di Padukuhan Wediwutah, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul.

Ahli geologi Rovicky Dwi Putrohari, pada 2017 silam menjelaskan danau dadakan tersebut bisa terjadi karena topografi Gunung Kidul sebagai daerah karst. Dia juga menyebut bahwa banjir Gunung Kidul itu adalah limpahan air sungai bawah tanah yang tidak bercampur dengan lempung sehingga jernih.

"Yang sering membuat kotor adalah lempung (tanah liat) sementara di daerah kapur atau gamping jarang dijumpai lempung. Kapur atau gamping itu mudah larut, dan tidak menjadi tanah lempung yang seringkali menjadi "pengotor" air permukaan," urai Rovicky.

Tak hanya di Yogyakarta, fenomena alam terbentuknya sebuah danau baru dengan kategori danau dolina atau danau karst juga terjadi di Tankolo, Sikumana, Kota Kupang, NTT, setelah diterjang Siklon Tropis Seroja pada Minggu, (4/4/2021) silam.

Menurut Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dr. Herry Kota, mengatakan pembentukan danau seperti di Kelurahan Sikumana sering terjadi di daerah yang masuk dalam daerah yang bertopografi karst atau bentangan alam yang memiliki siklus hidrologi yang khas sebagai akibat dari perkembangan batu karbonat.

Menurut Herry Kota yang juga Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Argo Ekologi Universitas Nusa Cendana (Undana), bahwa Kota Kupang merupakan daerah bertopografi karst dengan tingkat keterjalan yang tinggi serta cekungan dan tonjolan dan bukit berbatu yang tidak beraturan, serta memiliki aliran bawah tanah dan adanya gua memiliki potensi adanya pembentukan danau Dolina.

Menurut dia, intensitas hujan yang sangat tinggi ketika terjadi badai siklon tropis seroja memungkinkan terbentuknya danau dolina seperti terjadi di Kelurahan Sikumana.

Jernihnya Danau Tak Permanen, Sesuai Lokasi Air

Peneliti BRIN, Atriyon, menjelaskan bahwa dinamika sedimen di Danau Singkarak sangat dipengaruhi oleh karakter geografis dan ekologis di sekelilingnya.

Terdapat setidaknya empat sungai besar yang bermuara langsung ke danau dan menjadi pemasok utama sedimen. Namun, setiap sisi Danau Singkarak memiliki kondisi alam yang berbeda sehingga volume sedimen yang masuk pun tidak seragam.

Dari sisi selatan —wilayah Kabupaten Solok— pasokan sedimen menjadi yang paling besar karena aliran sungai membawa material dari perbukitan. Sementara dari sisi utara, sedimen lebih banyak berasal dari gunung-gunung yang mengepung danau.

Sementara itu, sisi timur cenderung mengirimkan sedimen dalam jumlah sangat kecil karena kondisi geologi di sana bersifat kering, dengan vegetasi yang jarang dan batuan terbuka. Adapun sisi barat, sedimen dalam jumlah besar biasanya masuk hanya ketika terjadi kejadian ekstrem seperti galodo.

"Keunikan Danau Singkarak ini disebabkan faktor sesar Semangko yang membelahnya. Sisi barat sesar semangkonya memiliki vegetasi hujan tropis, sedangkan sisi timur sesar semangko (danau) memiliki vegetasi semi arid/kering/rerumputan dengan batuan. Ekosistem lokal lebih berpengaruh di sisi barat, selatan, dan utara," jelasnya.

Eko Teguh Paripurno dari UPN Veteran Yogyakarta menilai kejernihan ini sifatnya sangat dinamis tergantung dengan tempat dan sistem yang bekerja di wilayah tersebut. Akan tetapi, katanya, hal ini biasanya tak akan bertahan lama.

"Tapi sering-sering juga enggak jauh hitung bulannya, dia akan kembali lagi," tuturnya.

Air Berbau Belerang hingga Pengaruhi Biota di Danau

Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Luki Subehi, mengatakan bahwa alga yang ada merupakan bagian alami dari ekosistem dan menjadi makanan utama ikan-ikan “belerang” yang hidup di Singkarak, seperti ikan bilih, ikan sasau, dan lebih dari 17 jenis lainnya.

Pada saat pelepasan air, terjadi arus konveksi atau upwelling, ditambah kondisi danau yang sedang mengalami algae blooming serta air yang mengeluarkan bau belerang.

Fenomena seperti ini juga berdampak pada keberadaan biota di Danau tersebut. Ikan-ikan yang dapat beradaptasi dengan kondisi belerang relatif dapat bertahan, sementara ikan yang berasal dari luar—seperti nila dan mujair—cenderung mati karena tidak tahan.

Adapun, ikan belerang yang ikut mati umumnya bukan karena zat kimia, melainkan karena tekanan arus bawah yang sangat deras.

"Untuk yang bukan ikan "belerang" masih tahan terhadap belerang, ikan yang dimasukkan sebelumnya ke danau akan mati karena tidak tahan belerang. Sedangkan yg ikan belerang mati karena tekanan arus yang kencang," katanya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - News Plus
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto