tirto.id - Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.604 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi hari tadi, Jumat (15/5/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 75 poin atau 0,43 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.529 per dolar AS.
Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia terhadap dolar juga melemah. Pukul 11.00 WIB, Rupee India (INR) melemah 0,17 persen, Yuan Cina (CNY) melemah 0,13 persen, dan Ringgit Malaysia (MYR) melemah 0,37 persen.
Kemudian Baht Thailand (THB) melemah 0,23 persen, Dolar Singapura (SGD) melemah tipis 0,09 persen, dan Peso Filipina (PHP) melemah 0,01 persen. Adapun dolar Taiwan (TWD) tercatat menguat 0,10 persen dan Dolar Hong Kong (HKD) menguat 0,02 persen.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan terbatasnya ruang intervensi Bank Indonesia di pasar internasional akibat libur panjang. Meski demikian, ia menilai BI tetap aktif melakukan stabilisasi agar rupiah tidak melemah lebih dalam.
Ibrahim memperkirakan Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan mendatang demi menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Sementara itu, dari eksternal, penguatan dolar AS dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik di Selat Hormuz serta kenaikan harga minyak dunia. Menurut Ibrahim, ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di Selat Hormuz. Situasi semakin memanas menyusul insiden tenggelamnya kapal kargo di lepas pantai Oman dan penahanan sejumlah kapal oleh Iran.
Di sisi lain, pasar juga mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping yang membahas perang dagang dan konflik Timur Tengah. Ibrahim mengatakan, kondisi geopolitik tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Ia juga menilai kenaikan harga minyak memperbesar tekanan terhadap rupiah karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak mentah.
“Dari 1,5 juta barel minyak mentah yang diimpor, 85 persen adalah untuk subsidi bahan bakar minyak untuk masyarakat. Sehingga kekuatan dolar cukup tinggi dan ini berdampak negatif terhadap mata uang rupiah,” ujarnya.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































