Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp18.049 per US$

Rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp18.049 per dolar AS.

Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp18.049 per US$
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp18.036 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat (5/6/2026). Rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp18.049 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, dalam rilis hariannya mengatakan bahwa data ketenagakerjaan AS, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP), yang diperkirakan menunjukkan perlambatan penciptaan lapangan kerja pada Mei 2026 turut menjadi faktor penguat rupiah hari ini.

Pasalnya, kondisi tersebut berpotensi menekan dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. "Tanda-tanda pelemahan yang mengejutkan di pasar tenaga kerja AS dapat melemahkan dolar AS dan mendukung harga komoditas yang didenominasi dalam dolar AS seperti emas," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pergerakan aset keuangan global. Selain perkembangan konflik di Timur Tengah, investor juga memperhatikan laporan terbaru OECD yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026 dari sebelumnya 4,8 persen.

Selain itu, investor mengamati potensi kenaikan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi global. Menurut Ibrahim, OECD memperkirakan inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,4 persen pada 2026 dari 1,9 persen pada tahun sebelumnya

"OECD memperkirakan inflasi Indonesia naik menjadi 3,4 persen pada 2026 dari sebelumnya 1,9 persen pada 2025. Kenaikan tersebut dipicu dampak lanjutan harga energi global terhadap harga domestik, meski pemerintah masih menahan harga BBM subsidi," urai Ibrahim

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana