Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.188 Imbas Eskalasi Perang AS-Iran

Rupiah melemah 50 poin atau 0,29 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.138.

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.188 Imbas Eskalasi Perang AS-Iran
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Pada akhir perdagangan Jumat (11/10/2024). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.188 pada perdagangan hari ini, Jumat (17/4/2026). Rupiah melemah 50 poin atau 0,29 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.138.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Ekonomi Indonesia dibuka dengan cukup meyakinkan pagi tadi. Kata Ibrahim, inflasi terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia (BI), konsumsi rumah tangga relatif cukup solid, dan tertopang kuat momentum Ramadhan-Lebaran 2026.

"Neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus, sementara sektor komoditas dari batu bara hingga minyak kelapa sawit juga masih memberi bantalan terhadap tekanan global," tuturnya dalam keterangan yang diterima, Jumat.

Namun, ia berujar, tekanan eksternal terjadi saat menginjak akhir kuartal I-2026. Eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut membuat kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang jadi dasar perhitungan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Ibrahim mengingatkan, harga minyak brent sempat menembus 118 dolar AS per barel pada beberapa pekan awal perang. Perang telah berlangsung selama tujuh pekan dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.

Kata dia, walaupun harga minyak mentah naik, pemerintah berkomitmen untuk tidak menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi. Transmisi itu dijaga pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Sebab, jika tidak terjaga, inflasi dinilai akan semakin tak terbendung.

Di satu sisi, pemerintah bertemu dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor's (S&P) di AS dan menekankan komitmen Indonesia dalam menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Defisit APBN 2026 yang sebelumnya diperkirakan akan melebar ke kisaran 2,9 persen karena kenaikan harga minyak, bahkan diperkirakan bisa turun sedikit ke kisaran 2,8 persen terhadap PDB," ucap Ibrahim.

"Meskipun angka itu masih lebih tinggi dari rancangan awal 2,68 persen. Namun, pemerintah konsisten untuk menjaga defisit di bawah 3 persen dari PDB," lanjut dia.

Sementara itu, faktor eksternal melemahnya rupiah, optimisme konflik Timur Tengah berpotensi segera berakhir setelah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku. Presiden AS Donald Trump mengatakan pihaknya dan Iran berpotensi bertemu untuk melakukan pembicaraan.

Ibrahim merespons salah satu poin penting dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran tersebut, yakni Trump yang mengatakan Teheran bersedia untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun.

Namun, kata Ibrahim, serangan Israel di Lebanon telah menjadi hambatan utama dalam kesepakatan tersebut. Di sisi lain, negosiator AS dan Iran telah mengurangi harapan mereka akan kesepakatan perdamaian.

Sebagai gantinya, mereka berupaya untuk mencapai memorandum sementara guna mencegah ledakan konflik susulan.

Ibrahim menambahkan, faktor lain pelemahan rupiah terhadap dolar AS adalah klaim pengangguran AS yang turun menjadi 207 ribu orang. Angka itu berada di bawah prediksi, yakni 215 ribu orang. Sebuah prediksi, yang sebetulnya lebih rendah dari catatan pada pekan kemarin, yaitu 218 ribu pengangguran.

"Data ketenagakerjaan dan JOLTS baru-baru ini menunjukkan periode perekrutan dan PHK yang rendah," urai Ibrahim.

"Sementara itu, Para pejabat Federal Reserve memperkuat jalur kebijakan bank sentral saat ini. Presiden Fed New York, John Williams, mencatat bahwa konflik di Iran memberikan tekanan ke atas pada harga dan mengantisipasi peningkatan inflasi utama. Ia [John Williams] juga berkomentar bahwa sikap kebijakan bank sentral saat ini telah tepat," tandas Ibrahim.

Baca juga artikel terkait RUPIAH MELEMAH TERHADAP DOLAR AS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah