Menuju konten utama

Kurs Tembus Rp16.246 per Dolar AS, Harga Barang Impor Bakal Naik

Bhima Yudhistira menyebut pelemahan kurs rupiah akhir-akhir akan membuat harga barang-barang impor naik.

Kurs Tembus Rp16.246 per Dolar AS, Harga Barang Impor Bakal Naik
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024).

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Saat ini kurs mencapai level Rp16.246 per dolar AS seperti dikutip dari Bloomberg.

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyebut pelemahan kurs rupiah akhir-akhir akan membuat harga barang-barang impor naik, termasuk elektronik seperti laptop, smartphone dan aksesoris lainnya.

Menurut dia, setiap depresiasi rupiah, penjual barang elektronik akan membebankan kenaikan harga kepada konsumen di tingkat akhir. Kenaikan harga lantaran adanya efek naiknya biaya yang dikeluarkan pada barang impor yang menggunakan transaksi mata uang internasional.

"Setiap rupiah melemah, penjual barang elektronik akan bebankan ke konsumen retail di akhir," ucap Bhima saat dihubungi, Rabu (17/4/2024).

Dia juga memproyeksikan, jika pelemahan rupiah menyentuh range Rp16.500 hingga Rp16.900 per dolar AS, maka kenaikan barang elektronik, seperti HP, menembus 5-10 persen. Kondisi demikian secara langsung menimbulkan efek domino lain ke pola konsumsi masyarakat.

"Jika rupiah melemah di range Rp16.500-Rp16.900 maka harga barang elektronik bisa naik 5-10 persen," kata Bhima.

"Ini juga akan mengubah pola konsumsi masyarakat dengan membeli barang elektronik berkualitas rendah," imbuhnya.

Secara terpisah, Ekonom sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menyebut efek dari pelemahan rupiah yang kian di atas level Rp16 ribu akan menaikkan harga barang-barang impor yang cukup signifikan.

"Akan berdampak terhadap inflasi kenaikan harga," ucap Ibrahim.

Menurut dia, kenaikan inflasi yang tinggi juga membuat Bank Indonesia (BI) berpotensi mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate.

"Kalau kenaikan inflasi tinggi berarti BI akan menaikkan suku bunga. Ini cukup luar biasa bahkan saya lihat mungkin harga elektronik seperti televisi, kemudian laptop, kemudian HP ini pun juga mungkin akan segera naik," ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah merosot 0,46 persen menjadi Rp16.250 per dolar AS, Rabu, (17/4/2024) hari ini. Pengamat Pasar Keuangan, Ariston Tjandra, menyebut potensi pelemahan akan terus terjadi hingga menyentuh level Rp17.000 seperti kondisi saat krisis moneter 1998.

Menurut dia, indeks dolar AS yang masih di level tinggi kisaran 106 masih menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Kemudian, konflik Timur Tengah antara Iran dengan Israel juga menjadi sentimen depresiasi rupiah terus berlanjut.

"Kalau konflik terus memanas dan meluas, bukan tidak mungkin pelemahan berlanjut ke level tertinggi 1998," ucap Ariston saat dihubungi, Rabu (17/4/2024).

Menurutnya, kurs rupiah saat krisis moneter 1998 tidak jauh dari level kurs rupiah saat ini. Ditambah, sentimen yang mendorong pasar mencari aman di dolar AS berpotensi mengarah ke pelemahan rupiah yang masih terbuka lebar.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Faesal Mubarok

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Faesal Mubarok
Penulis: Faesal Mubarok
Editor: Anggun P Situmorang