Menuju konten utama

Airlangga Yakin Devisa Hasil Ekspor Perkuat Rupiah yang Anjlok

Airlangga Hartarto, meyakini devisa hasil ekspor (DHE) akan memperkuat nilai rupiah yang melemah belakangan ini.

Airlangga Yakin Devisa Hasil Ekspor Perkuat Rupiah yang Anjlok
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berjalan usai mengikuti rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/3/2025). Rapat tersebut membahas penerimaan negara. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa.

tirto.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, meyakini devisa hasil ekspor (DHE) akan memperkuat nilai rupiah yang melemah belakangan ini. Termutakhir, nilai tukar rupiah mencapai Rp16.611 per dolar Amerika Serikat (AS), Selasa (25/3/2025).

Menurut Airlangga, nilai mata uang memang sudah biasa mengalami penurunan maupun kenaikan.

"Rupiah, kan, seperti biasa berfluktuasi, tetapi tentu kita lihat secara fundamental kuat. Kemudian, juga kita liat nanti secara jangka menengah dan panjang," kata Airlangga di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (26/3/2025).

Airlangga menyebutkan, ekspor tanah air kini sudah membaik. Di satu sisi, Presiden Prabowo Subianto telah meminta DHE sumber daya alam disimpan sepenuhnya di bank dalam negeri.

Airlangga menyatakan melalui peraturan yang berlaku mulai Maret 2025, nilai rupiah akan makin menguat.

"Kan, sudah melaksanakan yang namanya devisa hasil ekspor. Jadi, kami tidak ter-corner ke depan, sehingga dengan demikian fundamental daripada devisa hasil ekspor juga akan memperkuat posisi rupiah," ucap Airlangga.

"Kita (Indonesia) punya ekspor juga bagus, kita punya cadangan devisa juga kuat, neraca perdagangan bagus. Jadi, dengan demikian fundamental kita bagus," imbuh Airlangga.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memastikan bahwa ekonomi nasional tetap dalam kondisi yang baik meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok dan nilai tukar rupiah melemah. Hal ini terlihat dari fundamental yang masih solid.

“Seakan-akan ekonomi kita (RI) itu, dengan tempo hari yang IHSG yang turun drastis, ketahanan nilai tukar, seakan-akan ekonomi kita jelek. Padahal, enggak begitu, ya," kata Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) BI, Solikin M Juhro, dalam Taklimat Media di Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/3/2025).

Solikin menjelaskan dibandingkan dengan dengan sejumlah negara lain kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan kestabilan. Dia mencontohkan India yang inflasinya sebesar 5,52% sedangkan Indonesia hanya berada pada level yang terkendali di angka 1,57%.

Solikin menilai, dalam kebijakan ekonomi, terdapat trade-off yang harus dilakukan. Oleh karena itu, apabila menemukan banyak permasalahan, haruslah dilakukan optimalisasi tanpa mengorbankan satu dimensi lainnya.

BI bahkan menjamin kondisi fundamental saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan periode krisis 1997-1998. Pasalnya, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi hingga inflasi dalam kondisi yang relatif seimbang.

Baca juga artikel terkait DEVISA HASIL EKSPOR atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama