Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.956 per US$, Terburuk sejak 98

Gejolak geopolitik dan kebijakan Amerika Serikat dinilai menjadi pemicu utama pelemahan rupiah hari ini.

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.956 per US$, Terburuk sejak 98
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp16.956 pada perdagangan hari ini, Selasa (20/1/2026). Rupiah terkoreksi sebesar 1,50 poin atau 0,01 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.955.

Meski tak sebesar pelemahan hari sebelumnya yang mencapai 0,40 persen, posisi rupiah pada penutupan hari merupakan depresiasi terburuk sejak 1998, ketika rupiah terjun ke Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan ini terutama didorong oleh serangkaian faktor eksternal yang menguatkan dolar, sementara kekhawatiran atas proyeksi fiskal domestik juga menambah tekanan.

Ia menganalisis bahwa gejolak geopolitik dan kebijakan Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu utama. Indeks dolar AS menguat di tengah ketegangan baru antara Washington dan Eropa, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mempertahankan tuntutannya atas Greenland dan mengancam memberlakukan tarif impor baru terhadap delapan negara Eropa.

“Selama akhir pekan, kekhawatiran akan perang dagang yang diperbarui meningkat setelah Trump mengatakan dia akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai,” kata Ibrahim dalam keterangannya.

Sementara itu mengenai prospek penurunan suku bunga, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve AS (Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.

“Pasar saat ini memperkirakan hanya 5 persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch,” ucapnya.

Sementara itu, di tengah gempuran eksternal, sentimen domestik juga turut membebani rupiah.

Menurut Ibrahim, pelemahan ini terjadi meskipun dua lembaga keuangan global terkemuka, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, secara simultan merevisi ke atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk dua tahun ke depan.

Dalam proyeksi terkininya, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari estimasi untuk tahun 2025 yang diproyeksikan tumbuh 5 persen.

Revisi naik ini mencerminkan optimisme yang lebih besar, dengan angka untuk 2026 naik 0,2 persen poin dan untuk 2027 naik 0,1 persen poin dari ramalan Oktober 2025. Proyeksi ini sejalan dengan perbaikan prospek ekonomi global, di mana IMF juga merevisi pertumbuhan dunia 2026 menjadi 3,3 persen dari sebelumnya 3,1 persen.

“IMF tak mengulas prospek terbarunya itu untuk ekonomi Indonesia. Namun, secara global, ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan gencarnya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif,” katanya.

Optimisme serupa datang dari Bank Dunia, yang memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan terjaga di level 5,1 persen pada 2026, sebelum meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027.

Bank Dunia menilai, terjaganya laju pertumbuhan ini didorong oleh efek kucuran stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah sejak 2025, ditambah dengan investasi yang akan terus dimotori pemerintah.

Secara relatif, jelas Ibrahim, performa ekonomi Indonesia yang diproyeksikan tetap kuat. Laju pertumbuhan 5,1 persen pada 2026 dan 2027 ini masih lebih cepat dibandingkan banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih IMF, dan hanya tertinggal dari Filipina 5,6 persen pada 2026 serta India 6,4 persen pada 2026.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.950-Rp16.980," jelas Ibrahim dalam proyeksinya.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana