tirto.id - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan, Senin (19/1/2026), bergerak melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp16.904 per dolar Amerika Serikat (AS), dari sebelumnya Rp16.887 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan mata uang kawasan Asia terpantau bervariasi pada perdagangan pagi ini.
Berdasarkan data Bloomberg, Yen Jepang (JPY) terpantau menguat 0,15 persen, dolar Hongkong (HKD) menguat 0,01 persen, dolar Singapura (SGD) menguat 0,017 persen, dolar Taiwan (TWD) menguat 0,14 persen, dan Won Korea (KRW) melemah 0,07 persen.
Sedangkan, Peso Filipina (PHP) melemah 0,09 persen, Rupee India (INR) melemah 0,63 persen, Yen Cina (CNY) menguat 0,09 persen, Ringgit Malaysia (MYR) menguat 0,01 persen, dan Bath Thailand (THB) menguat 0,52 persen.
Di sisi lain, mata uang negara-negara Eropa juga terpantau bervariasi terhadap dolar. Euro (EUR), terpantau mengalami penurunan 0,06 persen, Pound Sterling (GBP) melemah 0,11 persen, Franc Swiss (CHF) menguat 0,04 persen, Krona Swedia (SEK) melemah 0,04 persen, Kron Denmark (DKK) melemah 0,07 persen.
Pelemahan Rupiah ini sejalan dengan analisis Ibrahim Assuaibi. Pengamat mata uang ini menilai rupiah berpotensi melanjutkan pelemahannya. Ia memperkirakan jika pelemahan terjadi pekan ini, level pertama yang akan dituju adalah Rp16.920 per dolar AS, dengan risiko untuk melemah lebih dalam masih sangat besar.
"Kemungkinan besar pelemahan rupiah minggu depan akan mencapai Rp17.100. Ini menunjukkan bahwa berbagai intervensi Bank Indonesia dan kebijakan pemerintah belum cukup untuk mendorong penguatan signifikan pada rupiah," jelas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Minggu (18/1/2026).
Ibrahim mengidentifikasi lima faktor kunci yang akan mempengaruhi pasar. Pertama, Uni Eropa mulai memberlakukan bea masuk anti-dumping terhadap alumina China, dengan tarif antara 88,7 persen hingga 110,6 persen.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengancam akan mengenakan tarif 20 persen kepada Eropa terkait isu wilayah Greenland. Kemudian, stabilitas internal AS sendiri terganggu oleh pemanggilan Ketua The Fed Jerome Powell oleh Jaksa Agung, serta konflik pemecatan pejabat di lingkaran mantan Presiden Donald Trump.
Faktor eksternal lainnya adalah ketegangan yang meningkat antara Rusia dan Ukraina serta situasi genting di Iran, yang ditandai dengan penutupan wilayah udara dan pergerakan kapal induk AS, Abraham Lincoln, ke kawasan Timur Tengah.
Selain itu, spekulasi penurunan suku bunga AS di tengah masa pensiun Powell tetap menjadi fokus pasar, sementara ketidakpastian global mendorong bank sentral di berbagai negara, seperti China, India, dan negara-negara ASEAN, untuk melakukan pembelian emas besar-besaran yang secara tidak langsung menekan mata uang negara berkembang.
Ibrahim memperingatkan bahwa tanpa dukungan kuat dari faktor eksternal, pelemahan rupiah berisiko berlanjut hingga menyentuh Rp17.500 tahun ini. Menurutnya, data ekonomi domestik yang positif belum mampu menahan tekanan dari sentimen global yang negatif.
Sebagai solusi strategis, ia mendorong pemerintah segera melaksanakan redenominasi atau penyederhanaan nominal rupiah untuk memperkuat nilai tukar. Langkah ini diharapkan dapat dimasukkan dalam Prolegnas DPR 2026, bersamaan dengan pembahasan RUU Perampasan Aset, guna membangun sentimen positif yang lebih mendasar bagi nilai rupiah ke depannya.
"Satu-satunya cara untuk menahan pelemahan rupiah adalah dengan redenominasi. Rencananya, pada 2027 nilai rupiah akan dipangkas, misalnya dari Rp17.000 lebih menjadi setara Rp15 per dolar AS," paparnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id



































