tirto.id - Rupiah ditutup di posisi Rp16.896 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (15/1/2026), turun 31 basis poin (bps) dari perdagangan sebelumnya, yang ditutup di posisi Rp16.865.
Menyikapi kondisi rupiah yang terus mengalami pelemahan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta agar pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga agar nilai mata uang Garuda tidak anjlok ke level Rp17.000 per dolar AS.
Sebab, turunnya rupiah lebih dalam akan berdampak pada dunia usaha, khususnya dalam menjalankan aktivitas ekspor dan impor.
"Memang kalau kita berharap jangan sampai itu sampai Rp17.000 atau lebih ya. Karena memang itu akan berdampak pada dunia usaha," kata Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Aviliani dalam acara Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Tidak hanya itu, tekanan rupiah terhadap dolar AS yang semakin besar juga dinilai akan membuat utang luar negeri, baik yang harus ditanggung pemerintah maupun sektor swasta, semakin berat. Pada akhirnya, pelemahan nilai tukar rupiah dikhawatirkan akan mengerek tingkat inflasi nasional menjadi lebih tinggi.
"Satu, adalah mungkin terkait dengan utang luar negeri, yang kedua juga berdampak pada impor, di mana kita 70 persen industri kita masih tergantung impor. Jadi, kalau itu melebihi dari angka itu memang beban jadi berat dan itu akan mempengaruhi juga inflasi," tambahnya.
Aviliani mengakui, sebagai otoritas yang bertugas menjaga agar nilai tukar rupiah tetap stabil, Bank Indonesia memang telah berusaha agar tekanan dolar terhadap mata uang Garuda tidak semakin besar.
Upaya stabilisasi nilai tukar rupiah pun sudah terlihat dari keluarnya investor asing dari pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga Surat Berharga Negara (SBN).
Mengutip data Bank Indonesia, hingga 4 Desember 2025, investor nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp 27,93 triliun di pasar saham, Rp 2,79 triliun di pasar SBN, dan Rp 122,14 triliun di SRBI.
Namun, dengan akan diberlakukannya kebijakan penempatan 100 persen Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selama 1 tahun, diharapkan dapat mempertebal cadangan devisa (cadev) Indonesia. Sebab, semakin tebal cadangan devisa Indonesia, rupiah bisa dijaga agar dapat bergerak lebih stabil.
"Tapi memang di sini Bank Indonesia harus mempersiapkan juga likuditas dolar. Karena kan sekarang sudah mulai kan 4 persen kan bunga dananya itu. Nah, itu agak mahal," lanjut dia.
Sebagai informasi, bank memberikan bunga sebagai kompensasi atas penempatan dana tersebut, dan ada mekanisme pemanfaatan dana seperti konversi ke rupiah untuk operasional atau pembayaran kewajiban. Karenanya, ketika bunga dana yang dipatok bank-bank Himbara terlalu mahal, diperkirakan akan berdampak pada minat dunia usaha dalam mengajukan kredit.
"Sehingga, kalau mahal itu juga akan berdampak pada kredit dalam USD. Jadi ini harus dijaga keseimbangan antara peraturan DHE dengan likuditas dolar di pasar, itu yang harus dijaga," tutup Aviliani.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id



































