tirto.id - Pasar keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh indikator ekonomi dan kinerja perusahaan, tetapi juga oleh sentimen investor. Setiap hari di pasar trading, orang memutuskan untuk mencari atau menghindari risiko. Ini disebut sentimen risk-on dan risk-off.
Sangat berguna bagi trader untuk memahami mana yang sedang dominan pada waktu tertentu karena membantu menganalisis sinyal trading dan memahami mengapa kelas aset tertentu bergerak demikian.
Apa Itu Risk-On dan Risk-Off?
Strategi risk-on adalah strategi yang berkembang saat investor memiliki ekspektasi positif terhadap ekonomi dan pasar. Di saat seperti ini, trader rela mengambil risiko lebih demi profit lebih besar.
Perilaku risk-off dipicu tumbuhnya ketidakpastian. Isu seperti konflik geopolitik, perlambatan ekonomi, kekhawatiran inflasi, atau hal tak terduga di pasar biasanya membuat investor beralih ke investasi yang lebih aman.
Memahami perbedaan antara kedua pendekatan ini dapat menjadi keuntungan sebelum melakukan investasi apa pun.
Aset yang Sering Kali Mencerminkan Sentimen Pasar
Namun, saat sentimen pasar beralih ke pengambilan risiko, instrumen keuangan memberikan respons berbeda dibandingkan ketika sentimen pasar dicirikan oleh penghindaran risiko.
Aset Risk-On
Saat trader optimis terhadap prospek masa depan, mereka cenderung berinvestasi pada:- Indeks seperti US500, US100, US30
- Saham teknologi dan berkembang
- Mata uang komoditas (AUD, NZD)
- Komoditas industri ekonomi
Aset Risk-Off
Saat ketidakpastian meningkat, investor umumnya berinvestasi di:- Emas (XAU/USD)
- Yen Jepang (JPY)
- Dolar AS (USD)
- Instrumen defensif
Korelasi Utama Pantauan Trader
Ekuitas dan Emas
Hubungan antara pasar saham dan emas adalah salah satu pasangan paling banyak diamati di dunia trading. Saat sentimen pasar mendukung, indeks saham cenderung menarik dana, sementara emas mungkin kurang populer. Sebaliknya, emas bisa lebih menarik untuk trading sebagai sarana proteksi.Dolar AS dan Aversi Risiko
Dolar AS sering kali menguat di tengah gejolak pasar, terutama karena posisi krusialnya dalam sistem keuangan internasional. Saat selera risiko turun, trader cenderung menempatkan uang di aset berbasis USD. Secara umum, penguatan dolar mengisyaratkan indeks saham melemah dan meningkatnya minat terhadap safe haven.Yen Jepang sebagai Mata Uang Trading
Yen Jepang biasanya dianggap sebagai mata uang klasik. Saat kondisi pasar tidak kondusif, sebagian orang memangkas risiko dengan mengalokasikan dana ke yen Jepang. Ini sering memicu depresiasi pasangan mata uang seperti USD/JPY.Membangun Gambaran Besar Pasar
Banyak trader hanya fokus pada satu grafik. Namun, semua pasar saling terhubung dan sentimen pasar selalu menyebar ke berbagai kelas aset secara bersamaan. Memantau saham, pasar foreign exchange, komoditas, dan logam mulia bersama-sama membantu memahami situasi pasar sebelum membuat keputusan trading apa pun.
Berkat trading CFD multiaset, analisis pasar live, dan kemampuan trading canggih dari JustMarkets, trader akan dapat menganalisis sentimen pasar di seluruh dunia dari satu tempat. Mengetahui jenis pasar yang Anda hadapi tidak akan menjamin kesuksesan trading, tetapi akan membantu Anda trading seirama dengan pasar.
----
Penafian: Hanya untuk tujuan informasi. Trading instrumen keuangan melibatkan risiko yang signifikan dan mungkin tidak cocok untuk semua investor. Pastikan Anda memahami risiko yang ada dan trading dengan penuh tanggung jawab.
(JEDA)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































