tirto.id - Risiko beli baju bekas thrifting kini semakin sering dibicarakan seiring maraknya tren menggunakan pakaian bekas impor di kalangan anak muda, terutama kalangan Gen Z. Salah satu risiko yang penting diperhatikan adalah risiko kesehatan, yaitu rentan kena penyakit menular.
Fenomena baju thrifting yang sebelumnya hanya digemari oleh segelintir orang, kini berubah menjadi gaya hidup baru yang dinilai lebih ekonomis, unik, dan ramah lingkungan. Tak dapat dipungkiri, harga baju thrifting memang jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli barang baru.
Dengan membeli baju bekas thrifting, pembeli bisa mendapatkan baju branded dengan harga terjangkau, model langka, hingga kualitas bahan premium dengan harga miring. Ini adalah salah satu alasan thrifting diganderungi di kalangan Gen Z. Selain itu, alasan ramah lingkungan juga menjadi hal penting yang patut dipertimbangkan, mengingat produk fast-fashion sangat cepat peralihannya.
Namun, para pakar kesehatan yang terhimpun dalam Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), mengungkapkan sejumlah risiko kesehatan beli baju bekas thrifting yang mungkin bisa terjadi pada pemakainya. Penyakit menular akibat pakaian bekas menjadi salah satu risiko kesehatan yang patut diwaspadai apalagi jika pakaian thrifting tidak disimpan, dan dibersihkan dengan benar.
Apa Itu Pakaian Thrifting?
Sebelum membahas lebih jauh soal risiko kesehatan beli baju bekas thrifting, penting memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pakaian thrifting.
Menurut penjelasan dari Kementerian Perdagangan RI, baju thrift adalah pakaian yang sudah pernah dipakai orang lain, kemudian masuk ke pasar melalui jalur donasi, limbah tekstil, maupun gudang penampungan pakaian bekas impor. Biasanya baju thrift berasal dari luar negeri, lalu dijual kembali dengan harga murah.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, menyebutkan bahwa baju thrift paling banyak di Indonesia berasal dari Jepang dan Australia. Hal ini terus meningkat seiring tren mengenakan pakaian thrift sangat tinggi di kalangan Gen Z.
Dari data BPS, jumlah pembeli baju thrift adalah sebanyak 90% gen Z, 77% gen X, dan 66% baby boomers. Padahal, risiko kesehatan beli baju bekas thrifting ini cukup besar. Pemerintah sendiri telah melarang penjualan baju thrifting melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40 Tahun 2022.
Nyatanya, meski sudah dilarang dan edukasi mengenai risiko beli baju bekas thrifting gencar digalakkan, peminat baju thrifting masih eksis hingga saat ini.

Penyakit yang Mungkin Menular Lewat Pakaian Bekas Thrifting
Risiko kesehatan beli baju bekas thrifing bukan sekadar isapan jempol semata. Banyak penelitian dan pakar medis yang terhimpun dalam Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) menyebut bahwa benda berbahan kain dapat menjadi media penyebaran bakteri, jamur, parasit, hingga virus tertentu.
Sebagaimana dirujuk dari laman Antara News, menurut dr. Arii Widodo, SM, SpDVE, ada banyak risiko kesehatan yang mungkin dihadapi oleh pengguna baju thrifting. Salah satu penyebabnya adalah tidak terjaminnya kebersihan dari baju thrift yang diterima. Mulai dari proses penjualannya, pengirimannya, hingga kebersihan dari pemakai sebelumnya.
Berikut ini merupakan beberapa penyakit akibat pakaian bekas yang mungkin dialami oleh pengguna baju thrifting, terutama pakaian bekas thrifting yang tidak dikelola dengan benar sebelum dijual ke konsumen:
1. Kudis (Scabies)
Kudis atau scabies menjadi salah satu penyakit akibat pakaian bekas yang paling sering dijumpai. Tungau Sarcoptes scabiei dapat hidup di serat kain selama beberapa hari dan berpindah ketika seseorang mengenakan pakaian yang terkontaminasi. Inilah salah satu alasan mengapa risiko beli baju bekas thrifting sangat tinggi, terutama jika baju thrift tidak dicuci secara benar atau langsung dipakai setelah dibeli. Tungau dapat menggali liang di kulit, menyebabkan iritasi dan infeksi lanjutan jika digaruk terus-menerus.Gejala kudis sering kali berupa rasa gatal intens yang semakin parah pada malam hari, disertai ruam merah dan bintil kecil. Menurut banyak studi dermatologi, scabies mudah menular di lingkungan padat, termasuk toko pakaian bekas yang memungkinkan satu pakaian dicoba oleh banyak orang.
Itulah sebabnya risiko kesehatan beli baju bekas thrifting sangat perlu diperhatikan, karena penularannya tidak membutuhkan kontak fisik dengan penderita. Penularan bisa terjadi hanya dengan menyentuh pakaian atau kain yang sudah terkontaminasi.
2. Dermatofitosis (Tinea)
Risiko penyakit akibat pakaian bekas selanjutnya adalah dermatofitosis atau tinea. Penyakit ini merupakan infeksi jamur yang menyerang kulit, rambut, atau kuku. Jamur dermatoft mampu bertahan lama pada pakaian, terutama pada pakaian yang disimpan dalam kondisi lembap dan tertumpuk dalam karung balpres.Risiko beli baju bekas thrifting menjadi sangat tinggi, karena tidak ada jaminan pakaian-pakaian tersebut bebas jamur sebelum sampai ke tangan pembeli. Bahkan saat mencoba baju thrift sebelum dibeli bisa meningkatkan risiko penularan tersebut.
Gejala peyakit akibat pakaian bekas ini diantaranya bercak merah bersisik, rasa gatal, dan iritasi yang bisa menyebar ke bagian tubuh yang lain. Jika tidak ditangani dengan benar, penyakit ini bisa meningkatkan infeksi kronis dan menyebabkan komplikasi.
3. Infeksi Bakteri (Impetigo)
Infeksi bakteri impetigo merupakan salah satu risiko kesehatan beli baju bekas yang patut diwaspadai. Penyakit akibat pakaian bekas ini disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes yang bisa bertahan hidup pada permukaan kain.Ketika pakaian bekas tidak dicuci dengan benar, bakteri ini dapat berpindah ke kulit dan menyebabkan luka lepuh berisi cairan yang kemudian mengeras menjadi kerak berwarna kuning.
Dalam kasus tertentu, impetigo bisa menyebar cepat terutama pada anak-anak atau orang dengan imunitas rendah. Baju thrift yang terlihat bersih belum tentu bebas bakteri, karena proses penyortiran dan pengemasan pakaian bekas tidak selalu mengikuti standar higienis.
4. Herpes Simpleks (HSV),
Meskipun jarang, herpes simpleks dapat menular melalui pakaian, dalam kondisi tertentu. Penyakit akibat pakaian bekas ini disebabkan oleh virus HSV yang mudah bertahan hidup pada permukaan basah terutama pada kain.Lesi herpes biasanya berupa lenting berisi cairan yang terasa nyeri dan mudah pecah. Bila pakaian bekas thrift pernah dipakai oleh penderita aktif, risiko penularannya semakin meningkat.
5. Molluscum Contagiosum
Penyakit akibat pakaian bekas berikutnya adalah Molluscumcontagiosum, merupakan infeksi virus pox yang mudah menular melalui sentuhan atau benda pribadi seperti handuk atau pakaian.Risiko beli baju bekas thrifting ini tidak boleh dianggap sepele, mengingat molluscum sering menyerang anak-anak dan orang dengan imunitas rendah.
Gejala penyakit akibat pakaian bekas ini yaitu terdapat benjolan kecil berbentuk kubah dengan permukaan licin. Dalam beberapa kasus, jika pakaian thrift tidak dicuci dengan air panas atau disterilkan, penularannya dapat terjadi sangat cepat dan menyebar.
6. Pedikulosis (Kutu)
Risiko beli baju bekas thrifting lainnya pada kesehatan adalah terkena penyakit pedikulosis (kutu). Kutu kepala dan kutu badan adalah parasit yang mudah berpindah melalui pakaian, topi, jaket, hingga aksesori bekas lainnya.Gejala penyakit akibat pakaian bekas ini diantaranya rasa gatal yang sangat mengganggu, luka garukan, dan iritasi kulit yang makin parah. Kutu dapat bertelur di lipatan kain atau jahitan pakaian, dan telurnya mampu bertahan hidup lebih lama.
7. Eksim dan Iritasi Kulit
Pakaian bekas yang disimpan terlalu lama, berdebu, atau terpapar bahan kimia dari proses pengawetan juga dapat memicu eksim kontak. Menurut penjelasan dr. Arini Widodo, SM, SpDVE, iritasi ini dapat berkembang menjadi peradangan serius jika terus digaruk.Bahan kimia yang disemprotkan pedagang untuk menghilangkan bau pada baju thrift juga dapat memperburuk kondisi kulit sensitif. Ini menambah daftar besar risiko kesehatan beli baju bekas thrifting yang harus diperhatikan pembeli.
Eksim bukan hanya dipicu oleh jamur atau bakteri, tetapi juga oleh residu detergen, pewangi, atau zat kimia lainnya yang menempel pada kain. Bila pakaian thrift tidak dicuci dengan benar, bahan-bahan ini dapat menimbulkan reaksi alergi, kemerahan, hingga lepuh.

Melihat berbagai fakta di atas, jelas bahwa risiko beli baju bekas thrifting sangatlah nyata. Tren beli baju bekas thrifting ini memang menawarkan harga miring dan pilihan barang menarik, tetapi risiko kesehatan beli baju bekas thrifting, mulai dari jamur, infeksi bakteri, hingga terpapar parasit tidak boleh diabaikan.
Jadi, supaya tetap bisa bergaya dengan pakaian bekas thrifting dan risiko kesehatan bisa diminimalisir, pastikan selalu mencuci pakaian thrift dengan benar. Jangan lupa untuk selalu memilih penjual terpercaya. Terakhir, pastikan untuk selalu memahami risiko penyakit akibat pakaian bekas dan cara mengatasinya sebelum memutuskan membeli baju thrift.
Ingin membaca artikel kesehatan kulit lainnya? Simak selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Penulis: Robiatul Kamelia
Editor: Robiatul Kamelia & Lucia Dianawuri
Masuk tirto.id































