Menuju konten utama

Kata Rakyat Palestina Soal New Gaza: Hak Hidup Kami Tak Dipenuhi

Rakyat Palestina bersuara tentang rencana Trump dengan New Gaza dan New Rafah yang masuk agenda Board of Peace. Mereka merasa tak dipenuhi haknya.

Kata Rakyat Palestina Soal New Gaza: Hak Hidup Kami Tak Dipenuhi
Warga Palestina berduka atas kematian petugas medis yang menjadi sasaran tembakan Israel saat menjalankan misi penyelamatan, setelah jenazah mereka ditemukan, menurut Bulan Sabit Merah, di rumah sakit Nasser di Khan Younis di Jalur Gaza selatan pada 31 Maret 2025. REUTERS/Hatem Khaled/Foto File

tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menantunya, Jared Kushner memperkenalkan master plan yang disebut sebagai “New Gaza” dalam acara peresmian piagam Board of Peace pada Kamis, 22 Januari 2026. Rakyat Palestina merasa rencana ini semakin menindas mereka.

Trump membentuk Dewan Perdamaian dengan merilis piagam Board of Peace di Davos, Swiss kemarin. Pada kesempatan itu, Kushner yang merupakan pengembang properti memperkenalkan konsep New Gaza, yakni rencana pembangunan kembali wilayah Gaza yang telah hancur lebur akibat konflik.

Jared Kushner menunjukkan konsep “New Gaza”, termasuk pembangunan kembali kota Rafah atau “New Rafah” yang ditaksir membutuhkan biaya hingga 30 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp505 triliun dengan kurs hari ini.

Respons Rakyat Palestina Soal New Gaza dan Board of Peace

Rakyat Palestina turut bersuara terhadap pembentukan “Board of Peace” dan New Gaza ini. Inisiatif yang diklaim akan membantu rekonstruksi Gaza dan menyelesaikan konflik regional ini dianggap oleh rakyat Palestina sebagai upaya yang mengabaikan suara mereka.

Al Jazeera melaporkan, rakyat Gaza merasakan bahwa mereka hanya dibicarakan sebagai masalah yang harus dikelola, bukan sebagai manusia yang hak-haknya harus dipenuhi.

Hal ini menimbulkan rasa ketidakadilan yang mendalam, terlebih karena tidak ada perwakilan Palestina di struktur utama Board of Peace, padahal tokoh-tokoh kontroversial seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin masuk sebagai anggota.

Warga Palestina juga menyuarakan keraguan besar terhadap janji keamanan dan pembangunan yang menjadi fokus utama inisiatif tersebut.

Jared Kushner, penasihat senior Gedung Putih, menekankan pentingnya keamanan dan demiliterisasi Hamas sebagai syarat untuk menarik investasi dan membangun kembali Gaza, termasuk rencana pembangunan 100.000 unit perumahan di Rafah dan “New Gaza”.

Namun, rakyat yang terdampak konflik menilai janji-janji ini tidak sesuai dengan realitas di lapangan, di mana kekurangan pangan, air, obat-obatan, dan kerusakan infrastruktur masih menjadi masalah akut.

Seorang ibu pengungsi, Manal al-Qouqa, menggambarkan situasi itu sebagai “tragedi nyata” dan menyebutnya sebagai “Nakba modern,” menekankan bahwa klaim adanya perdamaian dan bantuan besar-besaran yang diucapkan Trump jauh dari kenyataan sehari-hari.

“Setiap kali mereka mengumumkan sesuatu mengenai rakyat Palestina, penderitaan kami hanya meningkat,” katanya.

Kelaparan di Gaza

Warga Palestina berkerumun di titik distribusi sup miju-miju di Kota Gaza, Jalur Gaza utara, pada 27 Juli 2025. AFP/Omar AL-QATTAA

“Perdamaian macam apa yang mereka bicarakan, ketika di lapangan tidak ada perdamaian maupun keamanan? Kami sedang mengalami tragedi nyata. Ini seperti Nakba 1948 yang pernah kami alami – ini adalah Nakba modern yang baru, lebih maju dalam setiap aspek kehidupan. Tidak ada kebutuhan dasar untuk hidup,” sambungnya.

Nakba 1948 merujuk pada peristiwa pengusiran massal dan pengungsian besar-besaran warga Palestina akibat perang Arab-Israel, saat berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Selain itu, banyak warga Palestina memandang Board of Peace sebagai simbol politik dan alat legitimasi bagi Trump dan Netanyahu, bukan inisiatif yang benar-benar akan meringankan penderitaan mereka.

Suhail al-Hanawi, pengungsi lain, menyatakan bahwa tidak ada hal konkret yang membuat mereka percaya bahwa inisiatif ini akan memperbaiki hidup atau mengurangi penderitaan mereka.

“Mengenai Dewan Perdamaian dan kami, para pengungsi di kamp, tidak ada hal nyata yang membuat kami merasa bahwa sesuatu akan benar-benar diperbaiki atau penderitaan kami akan berkurang,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait PALESTINA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra