Resep-Resep Pernikahan Awet Hingga Usia Senja

Oleh: Nindias Nur Khalika - 9 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Sering-seringlah tertawa bersama pasangan Anda.
tirto.id - Lansia asal Jepang, Masao Matsumoto dan Miyako Sonoda, berhasil meraih rekor sebagai pasangan suami-istri tertua di dunia berdasarkan umur agregat menurut Guiness World Records. Seperti dilaporkan Reuters, mereka telah menikah selama 80 tahun sejak 1937.

Saat ini, Masao berumur 108 tahun sedangkan Miyako berusia 100 tahun. Umur mereka berdua jika digabungkan sama dengan 208 tahun dan 259 hari.

Reuters menyebutkan rekor pasangan suami istri tertua di dunia berdasarkan usia agregat sebelumnya dipegang oleh suami istri asal Norwegia Karl Doven dan Gurdren Dolven. Umur mereka berdua jika digabungkan sama dengan 210 tahun, satu bulan, dan 34 hari ketika Gurdrun meninggal pada 2004.

“Saya percaya ada saat yang lebih baik di masa mendatang jadi saya terus bertahan. Saya juga melewati masa-masa sulit,” kata Miyako saat ditanya tentang pernikahannya yang awet. “Ini semua terjadi karena kesabaran saya. Saya sangat bersyukur hingga menangis.”


Menurut New York Post, masa-masa sulit yang dimaksud Miyako salah satunya adalah ketika Masao harus pergi ke luar negeri untuk berperang. Ia harus memutar otak untuk menghidupi anak mereka yang kini telah berusia antara 66 sampai 77 tahun. Miyako juga mesti mempersiapkan diri jika sang suami tak lagi kembali dari medan perang.

Rekor yang diraih Masao dan Miyako membuat sang anak Hiromi merasa senang. Ia berharap kedua orangtuanya tetap hidup dengan damai bersama enam anak, 13 cucu, dan 25 cicit.

Dilihat dari data statistik, Jepang termasuk negara dengan angka harapan hidup paling lama di dunia. Seperti dilaporkan Reuters, harapan hidup warga negara matahari terbit tersebut mencapai 84 tahun.

Selain itu, tingkat perceraian di Jepang pun tergolong lebih rendah dibandingkan negara lain seperti Amerika. Menurut data yang dipacak Statista, ada 262.000 kasus perceraian yang terjadi di Jepang pada tahun 2015. Di Amerika Serikat, National Center of Health Statistics (PDF) menyebutkan kasus perceraian yang terjadi pada tahun yang sama mencapai 800.909 buah.

Menurut Statictics Bureu di Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi, angka perceraian di Jepang mengalami peningkatan sejak tahun 1960-an dan mencapai puncaknya pada tahun 2002 (289.836 kasus). Tapi, jumlah tersebut terus mengalami penurunan hingga tahun 2016 angka perceraian menjadi 216.805 kasus.


Melihat tren angka perceraian di atas, Masao dan Miyako adalah satu dari banyak pasangan yang berhasil menjalani pernikahan hingga puluhan tahun lamanya.

Apa yang membikin pernikahan awet?

Keberhasilan sebuah pernikahan di dalam ilmu sosial bisa diukur dengan dua pendekatan, yakni kestabilan pernikahan dan kualitas hubungan perkawinan. Kedua pendekatan ini biasa digunakan ilmuwan sosial untuk melihat apakah sebuah perkawinan berhasil atau gagal.

Menurut Arturo Roizblatt, dkk dalam “Long Lasting Marriages in Chile” (1999), pernikahan masuk dalam kategori stabil apabila perkawinan tersebut diakhiri dengan kematian. Sebaliknya, pernikahan tidak stabil terjadi saat salah satu pasangan secara rela mengakhiri hubungan mereka.

Sementara itu, kualitas perkawinan adalah evaluasi subjektif terhadap hubungan pernikahan pasangan suami istri. Konsep seperti penyesuaian pernikahan, kepuasan perkawinan, dan kebahagiaan pernikahan sering dipakai untuk mendeskripsikan kualitas sebuah perkawinan.

Roizblatt, dkk menjelaskan bahwa kualitas pernikahan adalah konsep yang dinamis sedangkan kestabilan pernikahan merujuk pada hasil proses pembentukan interaksi pasangan dari waktu ke waktu.

Dalam penelitian “The Long-Term Marriage: Perceptions of Stability and Satisfaction” (1990), Roberth H. Lauer, Jeanette C. Laue, serta Sarah T. Kerr menemukan beberapa faktor yang membuat sebuah pernikahan menjadi stabil dan memuaskan.

Hasil ini mereka dapatkan setelah meneliti 100 pasangan yang telah menikah selama 45 tahun hingga 64 tahun dengan rata-rata lama menikah 54,5 tahun.

Mereka diminta mengisi kuesioner yang dibuat menggunakan Dyadic Adjusment Scale. Lauer, dkk mengatakan dalam penelitian bahwa sebanyak 97 persen responden memiliki afiliasi agama dan kebanyakan dari subjek penelitian berasal dari kelas menengah ke atas.

Dari data yang dikumpulkan, sebanyak 91,5 persen responden penelitian mengatakan merasa bahagia dengan pernikahan yang mereka jalani. Namun, kebahagiaan tersebut mengalami masa naik dan turun, terutama saat mereka sedang membesarkan anak.

Infografik Puluhan Tahun Menikah


Lauer, dkk lantas menemukan 78 persen responden mengatakan bahwa mereka selalu atau hampir sering setuju soal keuangan keluarga, masalah agama, penunjukan afeksi, hubungan seksual, perilaku yang pantas, filosofi kehidupan, cara menghadapi hukum, tujuan dalam hidup, pekerjaan rumah tangga, berapa banyak waktu yang dihabiskan bersama, dan rencana pekerjaan.

Selain itu, 80 persen subjek penelitian mengaku mereka tertawa bersama dengan pasangan satu kali atau lebih dalam sehari dan 86% responden mengatakan bahwa mereka bercerita soal apapun dengan pasangan.


Lebih lanjut, sebanyak 98,5 persen subjek penelitian mengaku menyukai pasangan dan menganggap mereka sebagai sahabat (94,5 persen). Tak hanya itu, 98,9 persen responden menyetujui bahwa pernikahan adalah komitmen seumur hidup dan 84 persen mengatakan perkawinan adalah hal yang sakral.

Riset Lauer, dkk pun menunjukkan bahwa faktor seperti menikah dengan seseorang yang disukai sekaligus membuat nyaman dan berkomitmen terhadap pasangan dan pernikahan bisa membuat sebuah pernikahan menjadi stabil dan memuaskan. Selain itu, adanya selera humor serta konsensus terhadap hal penting seperti tujuan hidup juga turut menentukan apakah sebuah pernikahan akan berhasil atau tidak.

Apa yang ditemukan Lauer, dkk dalam penelitian di atas mirip dengan hasil riset yang dilakukan Lauer dan rekan risetnya, Jeanette C. Lauer sebelumnya. Dalam penelitian tersebut, kedua periset tadi meneliti soal faktor yang membuat pernikahan yang berusia 15 tahun atau lebih dapat bertahan.

Ternyata, menyukai pasangan dan menganggapnya sebagai sahabat serta berkomitmen pada suami atau istri adalah hal-hal yang sering diucapkan responden sebagai faktor yang membuat mereka bisa terus bersama.

Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani