Rekam Jejak Staf Khusus Jokowi: Putri Tanjung, Angkie Yudistia, dll

Oleh: Widia Primastika - 22 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Putri Indahsari Tanjung, 23 tahun, anak konglomerat Chairul Tanjung, adalah paling muda dari 12 staf khusus Jokowi.
tirto.id - Kamis petang (21/11) kemarin, di Istana Merdeka Jakarta, Presiden Joko Widodo mengumumkan tujuh dari 12 staf khusus untuk mendampinginya selama pemerintah periode kedua 2019-2024.

Mengenakan busana putih, ketujuh staf khusus itu adalah muka-muka baru, usianya 20-an hingga 30-an tahun, yang ditunjuk Jokowi untuk bertugas "mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang."

"Di sini juga kita lihat anak-anak muda semuanya,” imbuh Jokowi.

Jokowi mengenalkan satu demi satu nama-nama mereka serta mengumumkan latar belakang pendidikan dan kiprah mereka, umumnya adalah entrepreneur, sociopreneur, dan edupreneur—aktivitas bisnis yang dipadu dengan pengembangan sosial, pendidikan, filantropi, dan ekonomi anak muda; pendeknya, merepresentasikan generasi Milenial.

Mereka adalah Angkie Yudistia, Aminuddin Maruf, Adamas Belva Syah Devara, Ayu Kartika Dewi, Putri Indahsari Tanjung, Andi Taufan Garuda Putra, dan Gracia Billy Mambrasar.

"Ketujuh anak muda ini akan jadi teman diskusi saya, harian, mingguan, bulanan," ujar Jokowi setelah mengenalkan mereka, "memberikan gagasan-gagasan segar yang inovatif, sehingga kita bisa mencari cara-cara baru, cara-cara out-of-the-box, yang melompat, untuk mengejar kemajuan negara kita.”

“Saya juga minta mereka untuk menjadi jembatan saya dengan anak-anak muda, para santri muda, para diaspora, yang tersebar di berbagai tempat."

"Dan saya yakin, dengan gagasan-gagasan segar, yang kreatif, untuk mengembangkan negara ini, kita akan lihat nanti gagasan-gagasan itu apakah bisa diterapkan dalam pemerintahan," ujar Jokowi.

Entrepreneur

Saat mengenalkan Putri Indahsari Tanjung, Jokowi berkata, "umur masih sangat muda, 23 tahun. Saya juga kaget."

Jokowi boleh saja mengutarakan keterkejutannya. Meski begitu, nama keluarga Tanjung bukanlah nama asing dalam lingkaran pengusaha di Indonesia. Ayah Putri Indahsari adalah Chairul Tanjung, baron media lewat konglomerasi CT Corp. Lulusan Academy of Art University di San Francisco, California, ini dipilih Jokowi dalam kapasitasnya sebagai pendiri Creativepreneur Event Creator.

Dalam laman website, Putri Indahsari mendirikan Creativepreneur saat berusia 17 tahun, yang kemudian berkembang sebagai salah satunya "agensi kreatif bagi perusahaan di Indonesia yang ingin merambah pasar milenial."

Staf khusus dari kalangan entrepeneur lain adalah Andi Taufan Garuda Putra, 32 tahun, pendiri dan CEO Amartha, perusahaan teknologi finansial peer-to-peer landing. Alumnus Institut Teknologi Bandung dan lulusan Harvard Kennedy School ini mendirikan Amartha pada 2010. Lewat perusahaan fintek itu ia menghubungkan investor dengan pengusaha mikro perempuan di perdesaan.

Edupreneur

Sosok pertama yang diperkenalkan Jokowi adalah Adamas Belva Syah Devara, 29 tahun, lulusan Massachusetts Institute of Technology, Stanford University, dan Harvard university, secara berturut-turut. Pada 2014, Belva Devara bersama koleganya Iman Usman mendirikan Ruang Guru, perusahaan teknologi yang berfokus pada layanan berbasis pendidikan.

Di laman website, platform edukasi Ruang Guru disebut telah menggaet lebih dari 6 juta pengguna serta "mengelola lebih dari 150.000 guru yang menawarkan jasa di lebih dari 100 bidang pelajaran." Belva Devara dan Iman Usman dipilih sebagai pengusaha sukses di bawah 30 tahun melalui 'Forbes 30 under 30' untuk teknologi konsumen di Asia.

Ada juga sosok Gracia Bily Mambrasar, 31 tahun, anak muda Papua dari suku Biak, yang mendirikan Kitong Bisa, organisasi nirlaba yang menyediakan inisiatif sosial dalam bidang pendidikan. Mambrasar, yang studi di Oxford, mendirikan Kitong Bisa pada 2009 demi membantu anak-anak Papua mendapatkan "pendidikan yang layak, yang mampu sukses dan terangkat dari garis kemiskinan," tulis laman di website.

Sociopreneur

Sosok menarik lain adalah Angkie Yudistia, 32 tahun, disabilitas tunarungu sejak usia 10 tahun. Pada 2011, Angkie mendirikan Thisable Enterprise yang berfokus "memberdayakan disabilitas Indonesia secara ekonomi di dunia kerja," tulis laman di website.

Saat memperkenalkan diri, sembari tangan kanananya membentuk bahasa isyarat, Angkie berkata, "The one and only woman with disability, perempuan berkebutuhan khusus di tengah-tengah, diberikan kesempatan terbaik oleh Bapak Presiden, berdiri di sini menyuarakan 21 juta jiwa disabilitas di seluruh Indonesia."

Mengembangkan Thisabel sejak 8 tahun lalu, Angkie berkata "sudah waktunya disabilitas bukan kelompok minoritas, tetapi kita dianggap setara. Membentuk lingkungan inklusi."

"Dengan melalui staf khusus presiden," tambahnya, "mudah-mudahan saya bisa bekerja lebih baik."


Filantropi dan Santri

Dua nama lain yang disebut Jokowi adalah Ayu Kartika Dewi, 36 tahun, pendiri SabangMerauke, program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia dengan tujuan menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan. Kartika Dewi juga adalah direktur pelaksana Indika Foundation, lembaga filantropi PT Indika Energy Tbk, anak usaha Indika Group. Ia juga pernah membantu Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Sementara Aminuddin Maruf, 33 tahun, adalah mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (2014-2017), dikenal sebagai organisasi kemahasiswaan yang dekat dengan kalangan nahdliyin dan Partai Kebangkitan Bangsa. Lulusan Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Trisakti ini juga pernah menjabat Sekjen Solidaritas Ulama Muda Jokowi.

Staf Khusus Jokowi dan Golongan Pendukungnya

Ketujuh nama staf baru itu akan bekerja bersama dengan tiga staf lama Jokowi periode pertama, yakni Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, dan Sukardi Rinakit.

AAGN Ari Dwipayana mengisi pos tim komunikasi presiden, sementara Sukardi Rinakit dalam bidang politik dan pers.

Sementara Diaz Hendropriyono adalah putra Abdullah Makhmud Hendropriyono, purnawirawan jenderal di lingkaran dekat Presiden Jokowi. Hendropriyono merupakan mantan Kepala Badan Intelijen Negara. Andika Perkasa, saudara ipar Diaz, adalah jenderal menjabat Kepala Staf Angkatan Darat, yang dilantik Jokowi pada November 2018.

Diaz pernah menjabat staf khusus bidang intelijen di Kemenko Polhukam. Sebelumnya pernah menjadi anggota dewan analis strategis di Badan Intelijen Negara.

Diaz adalah Ketua umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), yang didirikan oleh para purnawirawan militer sejak Pemilu 1999.

Sekjen PKPI Verry Surya Hendrawan dalam keterangan pers kepada reporter Tirto mengungkapkan terima kasih kepada Jokowi karena memercayakan kadernya menjadi staf khusus, meskipun bukan jabatan menteri ataupun wakil menteri.

"Ini merupakan kehormatan dan bentuk nyata kepercayaan langsung dari presiden kepada PKPI," kata Verry.



Dua nama lain yang dipilih Jokowi sebagai staf khusus 2019-2024 adalah Arif Budimanta dan Dini Shanti Purwono. Keduanya berasal dari partai pendukungnya.

Budimanta adalah politikus PDI Perjuangan, Wakil Ketua Fraksi PDIP (2009-2014), dan Ketua DPP PDIP (2005-2010). Sejak 2008, ia menjabat Direktur Megawati Institute.

Politikus kelahiran Medan, Sumatera Utara, 15 Maret 1968 ini pernah mengenyam pendidikan sarjana di IPB, serta magister dan doktoral di Universitas Indonesia.

Sementara Dini Shanti Purwono adalah politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Perempuan berusia 45 tahun ini merupakan praktisi hukum dengan spesialisasi permasalahan hukum korporasi yang terkait investasi, pasar modal, merger, dan akuisisi.

Dini pernah menempuh pendidikan di Universitas Indonesia dan Harvard Law School. Pada Pileg 2019, Dini mencalonkan diri dari Dapil Jawa Tengah I.

Baca juga artikel terkait STAF KHUSUS PRESIDEN atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Politik)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Fahri Salam
DarkLight