Menuju konten utama
Edusains

Rahasia Sains di Balik Performa Cyborg Erling Haaland

Haaland menjadi salah satu contoh bagaimana sepak bola modern memadukan bakat alamiah dengan pendekatan ilmiah. 

Rahasia Sains di Balik Performa Cyborg Erling Haaland
Erling Haaland (NOR), JULY 5, 2026 - Football / Soccer : FIFA World Cup 2026 round of 16 match between Brazil - Erling Haaland (NOR), 5 Juli 2026 - Sepak Bola: Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 antara Brasil dan Norwegia di New York New Jersey Stadium di East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat. (Photo by Mutsu KAWAMORI/AFLO)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di babak 16 besar Piala Dunia 2026, pemain belakang Brasil sebenarnya sudah membaca arah aliran bola dan pergerakan Erling Haaland. Namun, penyerang yang tingginya hampir dua meter itu tetap unggul. Ia mencetak dua gol pada menit ke-79 dan ke-90, mengantar Norwegia meraih kemenangan bersejarah.

Haaland kerap bergerak tanpa bola dengan langkah pelan sambil mengamati pertahanan lawan. Dalam sekejap, ia memanfaatkan ruang terbuka, mengecoh penjagaan bek, lalu menyelesaikan peluang dengan efisien. Dua golnya ke gawang Brasil lewat sundulan maupun tembakan jarak jauh memperlihatkan bahwa ancamannya tidak datang dari satu cara saja.

Julukan Cyborg atau Terminator lalu melekat padanya. Ketajaman, konsistensi, postur atletis, serta kombinasi kekuatan dan kecepatan membuatnya kerap dianggap seperti mesin yang diprogram untuk membongkar pertahanan lawan.

Julukan itu tidak muncul semata karena jumlah golnya, tetapi juga karena cara tubuhnya bergerak yang tampak menentang keterbatasan fisik seorang penyerang bertubuh besar.

Apakah dominasi fisik itu semata-mata diwariskan lewat gen, atau ada pendekatan sains olahraga yang bekerja di baliknya?

Tubuh yang Dirancang untuk Berlari dan Mencetak Gol

Secara genetik, Haaland memang memiliki modal kuat sebagai seorang atlet. Ayahnya, Alf-Inge Haaland, adalah mantan pesepak bola profesional yang pernah bermain di Liga Inggris, sedangkan ibunya, Gry Marita Braut, merupakan mantan juara nasional saptalomba Norwegia.

Namun, di level sepak bola elite, modal biologis saja tidak cukup. Atlet bertubuh besar umumnya menghadapi keterbatasan dalam kelincahan, akselerasi, dan waktu reaksi. Karena itu, sepak bola modern memanfaatkan sport science untuk mengoptimalkan setiap aspek performa, mulai dari fisiologi dan biomekanika hingga nutrisi dan pemulihan. Haaland menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana bakat dan sains saling melengkapi.

Dengan tinggi 194–195 sentimeter dan berat sekitar 94 kilogram, Haaland memiliki profil fisik penyerang tradisional. Pemain dengan postur sebesar ini umumnya tidak dikenal karena kecepatannya. Namun, data menunjukkan sebaliknya. Saat membela Borussia Dortmund melawan Paris Saint-Germain, ia menempuh lari 60 meter dalam 6,64 detik. Di kompetisi domestik, kecepatan puncaknya melampaui 36 kilometer per jam, menjadikannya salah satu pesepak bola tercepat di dunia meski bertubuh besar.

Kemampuan itu dapat dijelaskan melalui pola gerak lari. Kecepatan ditentukan oleh keseimbangan antara panjang langkah dan frekuensi langkah. Atlet bertubuh tinggi memiliki keuntungan berupa tungkai lebih panjang sehingga mampu menjangkau jarak lebih jauh dalam setiap langkah. Namun, tungkai panjang juga membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan satu siklus gerak.

Secara biomekanis, akselerasi dipengaruhi kemampuan atlet mengarahkan gaya ke belakang saat kaki menyentuh tanah. Penelitian Jean-Benoît Morin dan kolega (2012) menemukan bahwa pelari tercepat menghasilkan gaya besar dan efektif mengarahkannya secara horizontal. Prinsip ini membantu menjelaskan performa Haaland pada beberapa langkah awal.

Akselerasi tersebut ditopang oleh kekuatan posterior chain, yaitu kelompok otot betis, paha belakang, bokong, dan punggung bawah. Saat berlari, otot-otot ini menghasilkan dorongan utama sekaligus menahan laju tungkai melalui kontraksi eksentrik agar sendi tetap stabil. Latihan penguatan yang terukur membuatnya mampu menyerap tekanan tinggi, mengurangi risiko cedera, dan mempertahankan sprint eksplosif sepanjang pertandingan.

 Erling Haaland

Penyerang Timnas Norwegia Erling Haaland. ANTARA/Xinhua/Sergei Stepanov/aa.

Keunggulan biomekanis itu dipadukan dengan efisiensi gerak dan kecerdasan spasial. Sebelum bola diumpan, Haaland telah memosisikan tubuhnya untuk menciptakan keunggulan sepersekian detik. Ia kerap mengambil satu langkah mundur, memutar pinggul, lalu beralih dari joging ke sprint dalam satu transisi gerak. Pergerakannya menunjukkan kemampuan membaca ruang sebelum bola datang.

Efisiensi yang sama terlihat pada sentuhan pertamanya. Sebelum menerima bola, Haaland lebih dulu memindai posisi lawan, memperkirakan arah dan kecepatan umpan, lalu menggunakan tubuhnya sebagai pelindung. Saat bola datang, ia merilekskan otot kaki atau paha sehingga benturannya terserap dan tetap berada dalam jangkauannya. Teknik ini memungkinkan serangan berlanjut tanpa sentuhan tambahan sekaligus mengurangi peluang tekel lawan.

Mesin biologis yang terus berakselerasi, menahan benturan, dan menghasilkan tenaga eksplosif tentu menerima beban fisik besar. Sprint berulang memicu kelelahan, trauma mikro pada serat otot, dan peradangan jaringan. Tanpa pemulihan memadai, keunggulan biomekanis tersebut akan cepat menurun dan meningkatkan risiko cedera.

Karena itu, performa Haaland tidak hanya ditentukan oleh cara ia bergerak, tetapi juga oleh kemampuan tubuhnya memulihkan diri setelah setiap pertandingan.

Saat Tidur dan Pemulihan Menjadi Bagian dari Latihan

"Bagi saya mungkin hal terpenting dalam hidup adalah tidur—tidak hanya banyak, tapi tidur nyenyak," kata Erling Haaland kepada majalah digital Gentlemen's Quarterly, Januari 2023.

Dalam konsensus pakar mengenai tidur atlet, Neil Walsh dan kolega (2020) menyebut atlet elite rentan mengalami tidur pendek dan terfragmentasi akibat jadwal latihan, perjalanan, serta pertandingan malam. Karena itu, tidur ditempatkan sebagai bagian penting dari pemulihan dan persiapan performa.

Saat memasuki fase deep sleep, kelenjar pituitari melepaskan hormon pertumbuhan dalam jumlah besar untuk memperbaiki serat otot, mempercepat regenerasi tulang, dan memulihkan jaringan saraf. Proses ini bergantung pada ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur siklus bangun dan tidur berdasarkan paparan cahaya.

Tantangan terbesar atlet modern adalah paparan cahaya buatan dari layar gawai, televisi, maupun lampu stadion hingga larut malam. Cahaya biru mengirim sinyal ke otak seolah hari masih berlangsung sehingga produksi melatonin terhambat dan tubuh lebih sulit memasuki fase tidur.

Untuk mengatasinya, Haaland mengenakan kacamata penghalau cahaya biru beberapa jam sebelum tidur. Lensa ini menyaring spektrum cahaya pendek sehingga produksi melatonin tetap terjaga, waktu untuk terlelap menjadi lebih singkat, dan fase tidur dalam dapat dicapai lebih cepat.

Sebuah uji acak di Meksiko (2025) kepada 49 peserta yang mengalami insomnia menunjukkan bahwa penggunaan lensa amber sebelum tidur mampu meningkatkan kualitas tidur subjektif dengan mengurangi paparan cahaya biru pada malam hari. Namun artikel ini menekankan bahwa bukti objektif masih lemah dan tidak konsisten, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.

Haaland juga mengaku menggunakan plester mulut (mouth taping). Bukti manfaatnya bagi atlet sehat masih terbatas, sementara praktik itu dapat berisiko bagi orang dengan gangguan saluran napas. Karena itu, efektivitas dan keamanannya belum menjadi konsensus.

Rutinitas pemulihannya juga mencakup whole-body cryotherapy, yakni paparan udara sekitar minus 110 hingga minus 140 derajat Celsius selama beberapa menit. Suhu ekstrem memicu penyempitan pembuluh darah, lalu peningkatan kembali aliran darah setelah tubuh kembali ke suhu normal. Giovanni Lombardi dkk (2017) menyebut metode ini terutama digunakan untuk pemulihan setelah latihan berat dan cedera. Penelitian menunjukkan potensi pengurangan peradangan dan nyeri, tetapi bukti peningkatan performa secara langsung masih terbatas.

Pemulihan fisik Haaland tidak berhenti pada otot, tetapi juga mencakup kualitas pola gerak. Haaland juga bekerja bersama pakar biomekanika John Haddad, yang mendampinginya sejak masih membela Borussia Dortmund. Pendekatan Haddad berfokus pada evaluasi pola gerak dan koordinasi tubuh untuk membantu mengurangi tekanan mekanis serta menekan risiko cedera.

Pendekatan serupa juga diterapkan Mario Pafundi, seorang terapis olahraga di Manchester City dan Timnas Norwegia.

"Kami bekerja pada pra-aktivasi dan pemulihan pasca pertandingan, memastikan tubuhnya dalam kondisi optimal, dan jika ada sesuatu yang tidak benar, kami melakukan intervensi," kata Pafundi kepada La Gazzeta dellp Sport Italia.

Manchester City Erling Haaland

Sesaat sebelum Erling Haaland mencetak gol untuk Manchester City dalan pertandingan Liga Champions lawan Sparta Praha di Etihad Stadium pada Kamis 24/10/2024). ANTARA/Man City

Cara Sport Science Menjaga Haaland

Segala keunggulan biomekanika, kecepatan reaksi saraf, dan metode pemulihan tidak akan bekerja optimal tanpa asupan nutrisi yang tepat. Kebutuhan gizi atlet elite jauh melampaui pola makan masyarakat umum. Sejumlah laporan menyebut konsumsi hariannya dapat mencapai sekitar 6.000 kalori.

Perbedaannya terletak pada kepadatan mikronutrien dari makanan yang dikonsumsinya. Salah satu menu yang rutin dikonsumsinya adalah organ dalam hewan, terutama hati dan jantung sapi.

Ty Beal dan Flaminia Ortenzi (2022) menempatkan organ hewan di antara sumber terpadat vitamin A, folat, vitamin B12, zat besi, dan seng. Temuan itu menjelaskan nilai gizinya, meski tidak membuktikan bahwa konsumsi organ dalam menjadi penyebab langsung ketajaman Haaland.

Sport science modern juga menggunakan pengawasan berbasis telemetri. Klub-klub elite seperti Manchester City memanfaatkan sensor GPS, akselerometer, dan giroskop untuk merekam setiap pergerakan pemain selama latihan maupun pertandingan.

Data GPS membantu staf mengukur jarak tempuh, sprint, akselerasi, dan deselerasi pemain. Salah satu pendekatan yang pernah banyak digunakan adalah rasio acute:chronic workload, yakni perbandingan beban latihan terkini dengan beban beberapa pekan sebelumnya.

Namun, sejumlah peneliti mengingatkan bahwa rasio tersebut memiliki keterbatasan metodologis sehingga sebaiknya dipakai bersama indikator lain, termasuk kondisi klinis dan penilaian subjektif atlet.

Pendekatan berbasis data ini turut memengaruhi strategi permainan. Dalam sistem Pep Guardiola, Haaland lebih sering menjaga posisi di garis terakhir pertahanan lawan dan menghemat sprint untuk pergerakan menuju kotak penalti ketika peluang mencetak gol terbuka.

Haaland kerap digambarkan sebagai cyborg. Julukan itu muncul karena bakat biologisnya dipoles oleh sport science hingga bekerja mendekati kapasitas maksimal. Dia menjadi contoh bagaimana sepak bola modern memadukan bakat alamiah dengan pendekatan ilmiah. Biomekanika, nutrisi, pemulihan, dan analisis data bekerja sebagai satu sistem untuk menjaga tubuh tetap berada pada kondisi terbaik.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi