Menuju konten utama

Purbaya Sebut Popularitas Presiden Tinggi Karena BBM Tak Naik

Menurut Purbaya, peningkatan popularitas Presiden berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi, dan memberi ruang untuk menjalankan program prioritas.

Purbaya Sebut Popularitas Presiden Tinggi Karena BBM Tak Naik
Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri), Menhan Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto (kedua kiri) saat menghadiri penyerahan uang pengganti kerugian negara hasil korupsi minyak kelapa sawit (CPO) di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (20/10/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU

tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kebijakan pemerintah menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut mendongkrak popularitas Presiden. Hal itu dinilai berdampak positif terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah ancaman lonjakan harga minyak dunia imbas Perang di Timur Tengah.

Lantaran itu, menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dapat berperan optimal sebagai peredam gejolak (shock absorber) sekaligus pendorong pertumbuhan (engine) ekonomi.

“Jadi shock absorber sekarang nih, ketika harga minyak dunia naik, kita serap di sini. Jadi gara-gara itu BBM gak naik, sekarang populitas pemerintah naik kencang sekali ke atas, populitas presiden utamanya,” ujar Purbaya Dalam pidato Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya Kementerian Keuangan, Jumat (27/3/2026)

Menurutnya, peningkatan popularitas tersebut berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi, yang pada akhirnya memberi ruang bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai program prioritas.

“Itu akan menambah komponen stabilitas di ekonomi kita. Itu kita perlu sehingga kita bisa fokus menjalankan program-program yang ada,” katanya.

Meski demikian, Purbaya menekankan bahwa optimalisasi peran APBN sebagai peredam dan penggerak ekonom hanya dapat dicapai melalui kerja terkoordinasi di dalam pemerintah.

“Jadi shock absorber sekaligus engine, itu harus balance keduanya. Dan balance itu tidak mungkin tercapai kalau kita kerja sendiri-sendiri,” ujarnya.

Bendahara Negara juga menegaskan bahwa Kementerian Keuangan bukan sekadar “penonton” dalam pengelolaan ekonomi nasional. Pasalnya, meski berada di belakang layar, kebijakan fiskal yang dirancang memiliki dampak langsung terhadap arah perekonomian.

Karena itu, penting bagi kementeriannya terus mengantisipasi berbagai risiko secara cermat, termasuk potensi krisis akibat dinamika global. “Kita di luar tenang,tapi di dalam kita hitung terus. Jangan sampai ada sesuatu yang kita salah hitung. Jadi kalau orang bilang, kita mau krisis 2 bulan, 3 bulan lagi, itu gak benar,” tegas Purbaya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana