tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, akan mengaktifkan mekanisme stabilisasi obligasi negara atau bond stabilization untuk meredam arus modal keluar (capital outflow) dari pasar surat utang yang dinilai mulai mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah.
Langkah ini diambil meskipun jumlah kepemilikan asing atas obligasi pemerintah saat ini tergolong rendah. Menurut Purbaya, yang menjadi pemicu utama adalah pelemahan tajam imbal hasil (yield) obligasi sebesar 1 persen dalam periode Januari hingga saat ini.
"Anda lihat, dari Januari ke sekarang, yield-nya melemah dengan cepat, dalam 1 persen. Ternyata ada kapital keluar dari bond market," kata Purbaya di Kompleks Bank Indonesia (BI), Kamis (7/4/2026).
Ia mengakui nilai kapital yang keluar tidak terlalu besar. Namun, pergerakan tersebut dinilai sudah cukup memberikan tekanan pada stabilitas rupiah.
"Jumlahnya enggak terlalu besar, tapi itu sudah ikut mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah. Kalau cuma Rp1-2 triliun seharusnya kita bisa kendalikan dengan mudah. Jadi, saya akan coba ikut berkontribusi, membantu bank sentral untuk mengendalikan kalau bisa," tuturnya.
Meski demikian, Purbaya menekankan bahwa kondisi saat ini masih terkendali dan stabilitas tetap terjaga. Mekanisme stabilisasi obligasi ini dirancang sebagai instrumen mitigasi yang akan dijalankan hanya jika diperlukan.
"Statusnya keadaan masih terkendali. Stabilitas masih terjaga. Status hanya kita sampaikan ke Presiden," kata dia.
Pemerintah, lanjut Purbaya, akan mengembangkan sistem peringatan dini untuk memantau pergerakan pasar dari waktu ke waktu. Keputusan untuk menjalankan mekanisme stabilisasi akan didasarkan pada indikator dari sistem tersebut.
"Kami akan kembangkan early warning system yang melihat itu dari waktu ke waktu," urainya.
Mekanisme teknis pelaksanaan bond stabilization, termasuk apakah akan berupa buyback obligasi atau instrumen lainnya, masih dalam tahap diskusi dan pendalaman sebelum resmi dijalankan.
“Nanti kami diskusikan, setelah kita diskusikan, kami matangkan,” katanya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id



































