Menuju konten utama

Puncak Haji Tuntas, Menag: Terima Kasih & Mohon Maaf

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, bersyukur rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) telah selesai dilaksanakan.

Puncak Haji Tuntas, Menag: Terima Kasih & Mohon Maaf
Menteri Agama Nasaruddin Umar memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah menjalani wukuf di Arafah, meskipun sempat menghadapi kendala terkait tenda dan transportasi. “Bisa dipastikan tidak ada satu pun jemaah yang tidak berangkat ke Arafah kemarin,” ujarnya di Mina, Arab Saudi, Jumat (6/6/2025) sore. MCH 2025/Fahreza

tirto.id - Menteri Agama sekaligus Amirulhaj, Nasaruddin Umar, bersyukur rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) telah selesai dilaksanakan. Ia menyebut 95 persen pengaturan haji berjalan sesuai rencana, meskipun terdapat beberapa kendala teknis.

"Karena yang kita targetkan insyaallah tidak ada yang meleset kecuali ada beberapa hal yang mungkin terlambat satu setengah jam dan itu karena masih dalam rangkaian program kita memang," ujar Nasaruddin di Makkah, Selasa (10/6/2025).

Ia memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah melaksanakan wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah, dilanjutkan mabit di Muzdalifah dan Mina serta lempar jumrah. Setelah itu, jemaah kembali ke hotel masing-masing di Kota Makkah.

"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan itu juga bisa disaksikan oleh banyak media-media kita di sini. Seluruh jemaah haji Indonesia sudah berada di Kota Makkah untuk menuntaskan rangkaian ibadah haji selanjutnya, tawaf ifadah dan beribadah di Masjidil Haram," tuturnya.

Menurut Nasaruddin, pemerintah telah berupaya maksimal dalam melayani jemaah, mulai dari penyesuaian kebijakan hingga teknis lapangan. Namun, ia mengakui adanya regulasi baru dari Otoritas Arab Saudi yang berdampak pada teknis pelaksanaan.

"Dan itu bukan hanya dialami oleh Indonesia, tapi juga jemaah-jemaah [dari negara] lain," ungkapnya.

Ia juga tidak menampik adanya ketidaknyamanan yang dirasakan jemaah, seperti keterlambatan bus, kemacetan, pemisahan jemaah dari pendamping, serta penempatan tenda di Arafah. Namun, seluruh persoalan tersebut akhirnya dapat diatasi.

"Maka itu dari lubuk hati kami yang sangat dalam, kami menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan beberapa kloter, beberapa orang mengalami keterlambatan, terpisah di Makkah, masalah penempatan tenda di Arafah, serta terjadinya keterlambatan di Muzdalifah dan kemacetan," ucapnya.

Menurut dia, kemacetan tidak dapat sepenuhnya dihindari karena seluruh jalan sangat padat. Masalah tersebut juga rutin terjadi setiap tahun.

"Alhamdulillah pada akhirnya kita bisa sinkronkan kembali, kemacetan itu memang bukan tidak bisa kita hindari karena seluruhnya jalan-jalan itu sangat padat. Keterlambatan ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, tapi semua jemaah. Jadi itu persoalan rutin setiap tahun di Saudi Arabia," lanjut Nasaruddin.

Secara umum, ia menilai penyelenggaraan haji tahun ini lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan kenyamanan juga didukung oleh perbaikan infrastruktur dari pihak Arab Saudi.

"Tapi general di atas 95 persen itu berjalan seperti apa yang kita rencanakan," jelasnya.

Perbaikan infrastruktur, seperti pengurangan kemacetan, ketersediaan air, dan kecukupan makanan, turut menekan angka kematian jemaah.

"Angka kematian juga sampai hari ini hampir separuh lebih sedikit dari tahun-tahun lalu, apalagi tahun 2023 itu hampir 800 orang. Kita per hari ini 183 orang. Padahal hari yang sama tahun lalu itu sudah melewati 200 orang ya," imbuh Menag.

Di akhir pernyataannya, ia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Arab Saudi, DPR RI, kementerian/lembaga, petugas haji, hingga jemaah Indonesia. Penyelenggaraan haji di masa mendatang diyakini akan terus membaik.

Baca juga artikel terkait HAJI 2025 atau tulisan lainnya dari Fahreza Rizky

tirto.id - Flash News
Reporter: Fahreza Rizky
Penulis: Fahreza Rizky
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama