tirto.id - Pengalaman bersentuhan dengan penyakit kritis melalui sang suami, Randi Bachtiar, membuat penyanyi Tasya Kamila punya perhatian besar terhadap urusan proteksi, asuransi.
Bagaimana tidak, ketika Randi divonis mengidap tumor dan kanker getah bening lima tahun silam, Tasya hanya mengandalkan tabungan dan dana darurat. Situasi terasa semakin berat sebab Randi baru saja memutuskan resign dari pekerjaan, sementara Tasya baru setahun menjalani peran sebagai seorang ibu.
“Produktivitas menurun. Walaupun masih bisa bekerja, energi dan waktu terkuras. Kalau saja saat itu punya asuransi penyakit kritis, akan sangat membantu,” ungkap Tasya Kamila di acara Peluncuran Asuransi Allianz Critical Plus di Jakarta Pusat, Kamis (22/5/2025).
Selain biaya pengobatan yang nominalnya sangat besar, Tasya meyakini bahwa asuransi penyakit kritis bisa memberi solusi bagi keluarga pasien, sebab penyakit kritis tidak pandang bulu. Siapa saja bisa kena, berapa pun usianya.
Randi baru berusia 30 tahun saat divonis kanker, dan pola hidupnya sehat. Ia sedang senang-senangnya menjajal maraton ketika batuk dan pegal-pegal mulai sering mendera. Sebelum situasi memburuk–batuk biasa kemudian berubah menjadi batuk berdarah–urusan pegal punggung Randi anggap sebagai efek olahraga biasa.
“Usia muda dan pola hidup sehat tidak menjamin bahwa risiko itu, penyakit kritis, tidak akan menimpa kita,” sambung Tasya.
Pernyataan Tasya selaras dengan temuan PT Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz Life). Dalam tiga tahun terakhir, Allianz Life mencatat bahwa klaim yang dibayarkan kepada nasabah paling banyak terkait dengan tiga penyakit kritis: kanker, jantung, dan stroke. Pada 2024, klaim manfaat perlindungan penyakit kritis yang diberikan kepada nasabah mencapai Rp560 miliar dengan jumlah kasus di atas 2.800.
“Meski penyakit kritis ini umumnya dianggap sebagai risiko kesehatan bagi generasi tua, data klaim yang dibayarkan Allianz selama periode 2022-2024 menunjukkan bahwa 35 persen klaim penyakit kritis diajukan oleh nasabah yang berusia di bawah 40 tahun,” kata Alexander Grenz, Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia.
Melalui Asuransi Allianz Critical Plus, Grenz berharap Allianz dapat membantu lebih banyak keluarga Indonesia mengurangi risiko dampak finansial, dan tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup, sehingga pasien dan keluarganya dapat fokus pada hal yang paling penting: pemulihan kesehatan.
“Kami memahami bahwa penyakit kritis tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas finansial keluarga,” pungkas Grenz.

Manfaat: Uang Tunai di Muka
Cheang Khai Au, Chief Product Officer Allianz Life Indonesia, menggarisbawahi perbedaan asuransi kesehatan dengan asuransi penyakit kritis. Menurut Khai, jika manfaat asuransi kesehatan tampak pada kemampuannya menanggung biaya pengobatan rumah sakit untuk berbagai jenis penyakit, mulai dari ringan hingga kondisi medis berat–sesuai plafon, tentunya–asuransi penyakit kritis berbeda.
Dengan asuransi penyakit kritis, seseorang yang divonis mengidap penyakit kritis akan diberikan uang tunai tanpa mekanisme reimburse. Artinya, dengan atau tanpa ada tindakan, ketika nasabah asuransi penyakit kritis divonis mengidap penyakit kritis, ia akan mendapatkan uang tunai, lumpsum, di muka.
“Asuransi Allianz Critical Plus diluncurkan bukan hanya karena kami ingin masyarakat sehat secara fisik, tapi juga stabil dan terlindungi secara finansial,” sambung Khai.
Orang dengan penyakit kritis biasanya sukar beraktivitas, sebab itulah manfaat asuransi penyakit kritis juga dimaksudkan sebagai pengganti penghasilan seandainya penerima manfaat tidak bisa lagi bekerja karena harus menuntaskan pengobatan.
Aliyah Natasya, Certified Financial Planner, menyebut bahwa memiliki asuransi sangatlah penting, terutama bagi sebuah keluarga. Menurut Aliyah, tak jarang sebuah keluarga bangkrut dan babak belur gara-gara perkara biaya pengobatan. Ketika salah seorang anggota keluarga menderita penyakit kritis dan tidak punya asuransi, tabungan dan aset yang ada dikorbankan. Padahal, tabungan dan aset juga diperlukan untuk mencapai tujuan dan value sebuah keluarga.
“Hidup jadi lebih berisiko jika tidak bersahabat dgn risiko,” kata Aliyah. Risiko keuangan dalam keluarga, ungkap Aliyah, antara lain adalah utang, penyakit, hilangnya pekerjaan, dan kematian. Dengan adanya proteksi, risiko bisa dihindari.
Jumlah uang tunai yang dapat diterima nasabah Allianz Critical Plus berkisar di angka 500 juta hingga 12 miliar rupiah, tergantung kondisi pasien penyakit kritis itu sendiri. Terakhir, Cheang Khai Au kembali menegaskan bahwa diluncurkannya asuransi Allianz Critical Plus adalah bukti cinta kasih perusahaan bagi nasabah dan keluarganya.
“Ini bukan buat kami, tapi untuk melindungi semua masyarakat Indonesia agar lebih aman, tenang, dan stabil secara keuangan, ketika terkena penyakit kritis. Rencana keuangan yg sudah direncanakan, tidak terganggu karena ada benefit dari asuransi kesehatan kritis,” pungkas Khai.
Berikut adalah manfaat utama Asuransi Allianz Critical Plus untuk perlindungan finansial nasabah:
- Manfaat penyakit kritis yang komprehensif dengan perlindungan hingga 150% Uang Pertanggungan apabila tertanggung didiagnosa penyakit kritis tahap advanced.
- Manfaat penyakit kritis tahap awal memberikan perlindungan sebesar 25% Uang Pertanggungan apabila tertanggung didiagnosa penyakit kritis tahap awal. Selain itu, Pemegang Polis juga akan dibebaskan dari pembayaran premi ke depannya.
- Manfaat pengembalian premi pada akhir pertanggungan atau 150% dari total premi pada saat meninggal dunia.
Editor: Tim Media Service
Masuk tirto.id






































