tirto.id - Sumarni resmi ditunjuk sebagai Plt. Bupati Muara Enim pada Rabu (10/6/2026). Ia merupakan wakil Edison sebelum sang bupati ditangkap lewat OTT KPK. Lantas, bagaimana rekam jejak Sumarni selama ini?
Sebelumnya, Bupati Muara Enim Edison ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT). Ia kini dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus suap dan gratifikasi.
Hal itu membuat Edison dinonaktifkan dari jabatannya dan kini Sumarni ditunjuk untuk mengisi kekosongan jabatan. Penunjukkan Sumarni telah diresmikan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru pada Rabu.
Dalam keterangannya pasca dilantik, Sumarni menyebut bahwa kasus korupsi yang kini menjerat Edison merupakan persoalan personal. Oleh karenanya, ia menyebut bahwa pemerintahan “harus tetap berjalan”.
Ia juga menyebut bahwa pengawasan terhadap program-program pemerintah ke depan harus diperketat. Menurut Sumarni proses tersebut harus berjalan secara akuntabel, terutama dalam proyek pengadaan barang dan jasa di Muara Enim.
“Ini alarm keras bagi kita semua untuk memperkuat komitmen. Ke depan akan diperketat pengawasan dan seluruh proses pengadaan barang dan jasa dilakukan secara transparan dan akuntabel,” katanya.
Jabatan Bupati Muara Enim sebelumnya jadi sorotan publik. Edison merupakan bupati keempat yang terjerat kasus korupsi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Lantas, bagaimana dengan Sumarni, seperti apa latar belakangnya?
Profil Sumarni
Di ranah politik praktis, Sumarni terbilang sebagai nama baru. Ia tercatat masuk politik pada 2021 lalu sebagai kader Demokrat. Namun, dunia ini sebenarnya tak asing bagi Sumarni lantaran sebelum kini dikenal sebagai pejabat karena ia lebih dulu dikenal sebagai istri pejabat.
Sumarni sebelumnya dikenal publik Muara Enim sebagai istri dari Bupati Muara Enim periode 2018-2019, Ahmad Yani. Latar belakang ini membuat Sumarni tak asing dengan dunia politik.
Selain itu, menjadi istri Ahmad Yani juga membuat Sumarni tidak asing dengan KPK. Hal ini dikarenakan Ahmad Yani ditangkap dalam OTT KPK pada 2019.
Suami Sumarni kedapatan menerima suap 16 paket proyek Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Muara Enim. Ahmad Yani lalu terbukti menerima suap sebesar Rp3,1 miliar.
Setelah sang suami masuk bui, Sumarni lalu mengikuti jejak langkahnya sebagai politikus dengan masuk Demokrat pada 2021. Namun, pada 2024 lalu, ia berpindah partai dan jadi kader PDI Perjuangan.
Perpindahan partai terjadi seiring keputusannya untuk mencalonkan diri dalam Pilkada Muara Enim 2024. Kala itu, ia maju sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Edison sebagai yang menjadi bupatinya.
Pasangan Edison-Sumarni kemudian berhasil menang dalam pemilu. Mereka resmi dilantik di Istana Negara pada 20 Februari 2025.
Namun, setahun berselang pasca-pelantikan, Edison ditangkap KPK lewat OTT. Ia rupanya terjerat kasus suap proyek pengadaan barang dan jasa.
Peristiwa ini kemudian membuat Sumarni naik untuk menggantikan jabatan Bupati Muara Enim. Istri eks bupati itu menyebut, ia akan melanjutkan program yang telah ada dan memastikan pemerintahan, layanan publik, dan pembangunan di Muara Enim terus berjalan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































