tirto.id - Nama Pontjo Sutowo, kadang ditulis Ponco Sutowo, turut jadi perhatian publik dalam peristiwa pengosongan Hotel Sultan Jakarta pada Kamis (18/6/2026). Ia tercatat sebagai bos PT Indobuildco, perusahaan pemilik Hotel Sultan. Ia juga anak Ibnu Sutowo, bos minyak masa lalu yang mendirikan perusahaan itu. Bagaimana profil Pontjo Sutowo dan rekam jejaknya?
Hotel Sultan yang berdiri di lahan Blok 15 Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan resmi dikosongkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis. Eksekusi lahan ini menandai akhir sengketa yang sudah berlangsung puluhan tahun sejak 2000.
Proses eksekusi pengosongan lahan sempat berlangsung ricuh. Pasalnya, massa pegawai hotel dan pendukung PT Indobuildco terlibat bentrok dengan ratusan personel TNI dan Polri yang turut dikerahkan.
Sengketa lahan yang berlarut ini terjadi karena beda tafsir antara negara dan PT Indobuildco tentang status pengelolaan lahan Blok 15 GBK itu. PT Indobuildco merasa masih memiliki hak guna bangunan (HGB) untuk lahan itu, sementara negara menyebut HGB PT Indobuildco di sana sudah habis.
Perebutan hak pengelolaan lahan ini kemudian berakhir pada November 2025 lalu. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengeluarkan putusan untuk memenangkan negara dan menggugurkan tuntutan PT Indobuildco.
Namun, sengketa ini menarik perhatian publik tak hanya karena berlarut hingga puluhan tahun. Banyak orang tertarik pada polemik ini juga karena adanya keluarga konglomerat ternama yang ikut terseret.
Keluarga itu adalah anak bos minyak dan tokoh militer Indonesia terdahulu Ibnu Sutowo. PT Indobuildco merupakan perusahaan bentukan Ibnu Sutowo di masa jayanya. Namun, bagaimana Pontjo bisa ikut terseret dalam pusaran konflik yang dimulai sejak era bapaknya itu?
Profil Pontjo Sutowo, Generasi Kedua Bos Hotel Sultan
Pertalian sosok Pontjo Sutowo dalam polemik perebutan hak Hotel Sultan bermula dari ayahnya, penggede militer era Orde Baru bernama Ibnu Sutowo. Sejak awal, sengketa itu dilatarbelakangi oleh polemik bagaimana hotel itu bisa terbangun di GBK.
Akan tetapi, Pontjo tak langsung terlibat dalam pusaran sengketa. Jika menengok profil anak pejabat itu, nama Pontjo mula-mula tak terkait dalam pembangunan Hotel Sultan yang jadi muara sengketa lahan.
Dua puluh tiga tahun sebelum Hotel Sultan didirikan, tepatnya pada 1950, Pontjo Sutowo lahir di Palembang. Ia jadi anak keempat dari tujuh anak Ibnu Sutowo yang kala itu masih jadi tentara menengah di Sumatera Selatan.
Pontjo tumbuh di Palembang hingga anak-anak. Ketika ia menginjak usia 5 tahun, Pontjo diboyong Ibnu Sutowo ke Jakarta seiring penugasannya ke sana. Begitulah Pontjo kemudian jadi anak Jakarta selama tumbuh kembang hingga dewasa.
Pontjo tumbuh di ibu kota saat karier bapaknya yang meroket. Kebijakan dwifungsi ABRI telah membawa dokter tentara bernama Ibnu Sutowo masuk ke jajaran pejabat penting bidang pengelolaan minyak bumi.
Hal itu membuat titel yang melekat pada Pontjo pun berubah-ubah. Dari anak kepala jawatan, Pontjo tumbuh jadi anak menteri hingga anak bos PT Pertamina.
Ketika bapaknya jadi Direktur PT Pertamina itu lah sengkarut polemik Hotel Sultan bermula. Tepat ketika 1971, pembangunan hotel yang semula bernama Jakarta Hilton International dimulai.
Pontjo jelas dekat dengan bagaimana hotel itu dibangun, namun ia tidak terlibat dengan hal itu. Ia masih berusia awal 20-an kala itu dan berstatus sebagai mahasiswa teknik mesin.
Meski begitu, Pontjo sudah berbisnis saat Hotel Sultan dibangun. Ia membangun lini usaha bernama PT Adiguna Shipyard bersama adiknya, Adiguna Sutowo. Adiguna merupakan anak sulung Ibnu Sutowo yang kini merupakan mertua aktris Dian Sastrowardoyo dan terpidana kasus pembunuhan pelayan Hotel Sultan pada 2005.
Perusahaan bikinan Pontjo dan Adiguna merupakan pintu masuk bagi karier bisnis dua kakak beradik itu. PT Adiguna Shipyard bergerak di bidang galangan kapal.
Operasi bisnis perusahaan kemudian berkembang cepat sejak awal dibuat. Mulanya perusahaan hanya memproduksi tongkang kecil. Namun pada 1972, PT Adiguna Shipyard mampu memproduksi 500 kapal tanker berbobot 3.500 DWT.
Perkembangan bisnis galangan milik Pontjo dan Adiguna itu berlangsung seiring dengan perkembangan pembangunan dan operasional Hotel Sultan. Hotel itu mulai beroperasi pada 1976 dan kemudian terus berkembang setelahnya.
Namun, pada 1982, operasional Hotel Sultan mulai menunjukkan tanda-tanda kelesuan. Muncul banyak kendala di dalamnya. Pada tahun tersebut, Pontjo lalu mengambil alih manajemennya yang dikelola PT Indobuildco.
Saat itu, Pontjo mengambil alih kepemimpinan PT Indobuildco yang didirikan bapaknya untuk mengoperasikan hotel mewah itu. Perlintasan karier ini kemudian membuat Pontjo turut mendalami bisnis perhotelan.
Ia tercatat sebagai Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pada 1986 dan jadi ketua umum organisasi itu dari 1989 hingga 2001.
Akan tetapi, Pontjo sebenarnya mengambil alih perusahaan yang sudah kontroversial sejak awal didirikan bapaknya. Pendirian Hotel Sultan di Kawasan GBK berawal dari ide Gubernur Jakarta kala itu, Ali Sadikin.
Ali Sadikin menilai Jakarta perlu memiliki lebih banyak hotel bertaraf internasional untuk menjadi tuan rumah konferensi internasional. Ia kemudian mengajukan pembangunan hotel kepada Ibnu Sutowo selaku Direktur PT Pertamina.
Ibnu Sutowo menyanggupi permintaan Ali Sadikin. Lahan di GBK kemudian disediakan Ali Sadikin. Sementara, Ibnu Sutowo membangun hotel sekaligus mengoperasikan hotel itu yang dilimpahkan kepada perusahaan bernama PT Indobuildco.
Namun belakangan, Ali Sadikin memberikan kesaksian bahwa ia semula tak tahu bahwa PT Indobuildco adalah perusahaan swasta milik Ibnu Sutowo pribadi. Ia semula mengira PT Indobuildco adalah anak usaha PT Pertamina dan dimiliki negara.
Hal itu kemudian berlarut jadi sengketa. Pada 2000, masa berlaku HGB Hotel Sultan mulai dipertanyakan. Polemik pun bergulir ke meja hijau. Pontjo Sutowo kemudian memimpin PT Indobuildco sepanjang sengketa itu bergulir hingga akhirnya Hotel Sultan harus dikosongkan dan diambil alih negara.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































