tirto.id - Teka-teki pengganti Enzo Maresca telah memuai. Liam Rosenior kini resmi menjabat sebagai pelatih kepala Chelsea. Berikut profil pelatih muda eks pemain Ipswich Town itu.
Kabar penunjukkan Liam Rosenior sebagai pelatih baru Chelsea telah diumumkan secara resmi oleh tim berjuluk The Blues itu pada Selasa (6/1/2026) melalui kanal Instagram resmi mereka, @chelseafc.
"Chelsea dengan senang hati mengumumkan pengangkatan Liam Rosenior sebagai pelatih kepala tim putra. Selamat datang di Chelsea, Liam!" tulis keterangan klub peraih 2 gelar Liga Champions itu.
Liam Rosenior sendiri sebelumnya merupakan pelatih tim Liga Prancis, RC Strasbourg. Klub yang kini menghuni papan tengah Ligue 1 itu merupakan tim yang dimiliki oleh BlueCo, konsorsium yang membeli Chelsea pada 2022 lalu.
Lantas, bagaimanakah rekam jejak Liam Rosenior dalam dunia sepak bola, akankah ia punya prestasi mentereng sehingga pantas menjadi pelatih klub sekaliber Chelsea?
Profil Liam Rosenior, Karier, & Prestasinya
Dalam sepak bola, banyak pelatih disegani yang bermula dengan karier bermain yang biasa-biasa saja. Jose Mourinho, Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, Maurizio Sarri, hingga Arrigo Sacchi, bahkan Sir Alex Ferguson, adalah contoh nyatanya.
Pelatih-pelatih tersebut tidak memiliki karier cemerlang sebagai pemain, namun mereka bersinar sebagai pelatih yang disegani. Liam Rosenior, pelatih yang baru saja ditunjuk menukangi Chelsea, kini tampak sedang menapaki jalan serupa.
Rosenior masih tergolong muda sebagai pelatih. Usianya masih 41 tahun. Ia kelahiran 1984, sama seperti bek Brasil Thiago Silva yang kini masih bermain untuk FC Porto di liga teratas Portugal.
Jika dibandingkan dengan Thiago Silva, karier bermain Liam juga kalah mentereng. Satu-satunya trofi non-promosi yang pernah Liam menangkan selama jadi pemain hanya EFL Trophy, kejuaraan domestik Inggris untuk klub divisi tiga ke bawah.
Sebagai pemain, karier terbaiknya adalah bermain untuk klub papan tengah dan papan bawah Liga Primer Inggris (EPL).
Rentang karier Premier League itu dilakukan Liam bersama Fulham, Reading, Hull City, dan Brighton and Hove Albion. Sisanya, Liam menghabiskan karier di klub-klub divisi bawah, seperti Torquay dan Ipswich.
Itulah gambaran karier Liam Rosenior sebagai pemain sepak bola sejak debut profesionalnya pada musim 2002/2003 hingga pensiun pada tahun 2018 lalu.
Namun, setelah gantung sepatu, Liam kemudian meniti karier sebagai pelatih. Dan karier di kursi kepelatihan ini justru tampak lebih berwarna dari karier di atas lapangan hijau.
Oleh Liam, karier bermain sepak bolanya seolah ia gunakan sebagai lab, sebagai cara untuk memahami sisi taktikal sepak bola.
Dalam wawancaranya untuk Skysport, bek Curtis Davies mengenang hal itu ketika ia dan Liam sama-sama bermain untuk Hull City.
"Saya ingat ketika kami berada di Hull, dia sedang membaca buku Pep ketika kami masih berusia akhir 20-an," kata Curtis yang pernah jadi rekan setim dan jadi anak asuh Liam Rosenior.
"Dia mulai mempelajari permainan lebih lanjut, memahami mengapa taktik tertentu berhasil, mengapa yang lain tidak. Dia orang yang sangat teliti," lanjut Curtis.
Pada musim 2018/2019, Liam yang menjadi pemain senior di Brighton, memutuskan untuk gantung sepatu. Ia memutuskan untuk beralih profesi sebagai pelatih dan diberi kepercayaan untuk jadi asisten pelatih tim U-21 Brighton, Simon Rusk.
Pada musim 2019/2020, Rosenior lalu dipinang Derby County FC. Kala itu, Liam direkrut sebagai asisten pelatih Wayne Rooney yang juga baru mencoba peruntungan jadi pelatih.
Curtis Davies kala itu ada dalam skuad Derby dan merasakan langsung bagaimana mantan rekan sesama pesepak bolanya itu melatih.
"Wayne [Rooney] mungkin menyuruh Anda melakukan sebuah operan dengan suatu cara tertentu, tetapi 90 persen penjelasan lain tentang mengapa operan itu perlu dilakukan adalah Liam," tutur Curtis.
Begitulah kemudian, ketika Rooney dipecat manajemen Derby, Liam sempat ditunjuk sebagai pelatih interim. Namun, beberapa bulan berselang, Liam dipinang Hull City sebagai pelatih kepala mereka.
Liam yang dipuja sebagai salah satu pemain yang dihormati para fans Hull, lalu menerima pinangan itu. Tugasnya sebenarnya berat, Hull sedang dilanda krisis keuangan.
Namun, di tengah krisis itu, Liam justru menemukan nilai fundamental dalam taktik kepelatihannya: bergantung pada pengembangan pemain muda.
Dengan mengandalkan pemain muda, Liam berhasil mendongkrak permainan Hull, membuat mereka hampir mencapai babak play-off promosi ke Premier League musim 2024/2025.
Kegagalan meraih tiket play-off itu membuat Hull mendepak Liam sebagai pelatih. Liam kemudian memutuskan satu jalan karier yang tak umum bagi pelatih muda asal Inggris, yakni menerima pinangan klub asal Prancis, RC Strasbourg.
Liam menukangi klub liga teratas Prancis itu pada 2024 lalu. Pada musim perdananya, Liam mampu mengantarkan Strasbourg ke peringkat 7 klasemen dan lolos kualifikasi Conference League UEFA.
Catatan itu terbilang gemilang karena Strasbourg menutup musim 2024/2025 dengan jarak 4 poin dari AS Monaco di posisi ketiga. Timnya berjarak satu setengah kemenangan dari tiket Liga Champions.
Pada setengah musim 2025/2026, Strasbourg di bawah naungan Liam juga bermain dengan atraktif. Selama setengah musim, Strasbourg menjadi klub ketiga dengan operan sukses terbanyak, dan kedua dalam kategori dribble sukses.
Penguasaan bola memang menjadi basis taktik Rosenior. Hal ini sebagaimana diungkap mantan bos Liam di tim U-21 Brighton, Simon Rusk.
"Timnya bersedia bermain di bawah tekanan tinggi dalam permainan berbasis penguasaan bola. Sangat menyenangkan ditonton dan enak dipandang," kata Rusk, dikutip dari Skysport.
Kini Liam Rosenior menapaki anak tangga baru dalam karier kepelatihannya, yakni menukangi klub elit sekaliber Chelsea.
Kisah Liam menukangi Cole Palmer dkk. akan menjadi jawaban akankah Rosenior menapaki jalur juru taktik top macam Mourinho dan Sacchi, atau justru berakhir sebagai "wonderkid" yang gagal sebagai pelatih.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id

































