tirto.id - Matahari pesisir utara Jawa begitu menyiksa. Di tengah debu dan udara, ribuan kuli pribumi dipaksa memecah batu, meregang nyawa, membangun jalan darat sepanjang seribu kilometer dari Anyer hingga Panarukan. Jalur ini kelak dikenal sebagai Jalan Raya Pos, urat nadi militer dan ekonomi.
Di balik penderitaan itu, serdadu Belanda yang terbiasa dengan kabut Eropa harus berhadapan dengan suhu pesisir yang bisa menembus 35 derajat Celcius. Seragam tebal menjadi perangkap panas, tubuh mereka digempur sengatan matahari yang mematikan.
Kuda penarik kereta pos pun tak luput, sering jatuh tersungkur dengan mulut berbusa akibat kelelahan. Maka penanaman pohon asam di sepanjang jalan dipilih sebagai solusi alami, sebuah manuver lanskap yang sederhana namun jitu.
Ketika tajuk pohon asam mulai bertaut dari kiri dan kanan jalan, terbentuklah lorong hijau menyerupai atap katedral. Daun-daunnya yang rapat menurunkan suhu drastis, menghadirkan kesejukan di tengah teriknya siang.
Di bawah naungan itu, kuli yang memanggul logistik, serdadu yang berpatroli, hingga kusir kereta pos yang kelelahan menemukan jeda dari siksa panas. Lorong hijau ini menjadi pelindung setia, memastikan roda ekonomi kolonial dan mesin perang tetap berputar.
Kisal Awal "Kurma dari India"
Meski namanya melekat dengan kata Jawa, pohon ini bukanlah flora asli pulau tersebut. Ia datang dari sabana Afrika dan Madagaskar, dibawa manusia melalui jalur dagang sejak milenium pertama sebelum Masehi. Para pelaut Arab dan Persia menyeberangi Samudra Hindia, membawa benih yang kelak berakar di Asia.
Orang Arab yang pertama mencicipi buahnya di India terpesona oleh daging buah yang lengket dan gelap, mirip kurma, buah kebanggaan padang pasir. Dari kesan itu lahirlah nama tamr hindi (kurma dari India).
Benihnya dibawa kapal dagang ke timur hingga berlabuh di Nusantara. Di tanah tropis yang lembap, pohon ini beradaptasi sempurna dan dibudidayakan turun-temurun jauh sebelum kapal VOC merapat di Banten.
Bukti kehadirannya terekam jelas dalam naskah kuno. Kakawin Ramayana abad ke-10 menyebut pohon ini sebagai bagian dari lanskap budaya Hindu-Buddha. Merujuk Theodore G. Th. Pigeaud dalam Java in the 14th century: a Study in Cultural History the Nāgara-Kĕrtāgama by Rakawi Prapañca of Majapahit, 1365 A.D., Vol. 4 (1962), Nagara Kertagama karya Mpu Prapanca pada 1365 menuliskannya dengan istilah kamal.
"Dalam catatannya... menyebut kisah tentang kesialan Bharada dengan pohon asam kamal sebagai legenda etiologis sederhana yang dimaksudkan untuk menjelaskan nama Kamal-Pandak, yaitu asam kerdil. Mungkin ada lebih dari itu. Pohon asam betina, yang awalnya begitu tinggi sehingga mampu menghentikan pelarian resi Bharada, mungkin adalah Pohon Pusat mitos, yang puncaknya menjulang ke langit," tulis Pigeaud.
Sementara menurut Tom Hoogervorst dalam "The Role of 'Prakrit' in Maritime Southeast Asia Through 101 Etymologies" di jurnal Spirits and Ships: Cultural Transfers in Early Monsoon Asia (2017:421), Prasasti Bali dan Jawa Kuno mencatat sebutan kamalagi atau kambaligi, yang kemudian melunak menjadi kata asam atau asem dalam bahasa kita hari ini.
Dominasi pohon ini berlanjut hingga masa kolonial. Pada abad ke-17, Georg Eberhard Rumphius, ahli botani VOC di Ambon, mendokumentasikan kegunaan pohon asam dalam Herbarium Amboinense. Catatannya membuka mata bangsa Eropa tentang nilai medis dan kuliner tanaman ini, sekaligus menandai awal eksploitasi kolonial atas flora Nusantara.
Dalam sains modern, identitas pohon asam dipetakan lebih rinci. Ia anggota keluarga Fabaceae, satu-satunya spesies dalam genus Tamarindus, dengan nama resmi Tamarindus indica yang diberikan Linnaeus pada 1753.
Pohon ini mampu tumbuh hingga 30 meter, dengan daun majemuk mungil yang menutup saat malam tiba. Ia bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen, membuatnya tahan hidup di tanah miskin hara.
Peneduh Jalan dan Taman
Keputusan menanam pohon asam di sepanjang jalan arteri Jawa pada awal abad ke-19 tidak bisa dilepaskan dari pusaran politik global. Saat itu Eropa diguncang Perang Napoleon, dan Belanda yang jatuh ke tangan Prancis dipimpin Louis Bonaparte.
Ancaman Inggris dari India membuat Bonaparte mengutus Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal dengan mandat mempertahankan Jawa dari invasi. Daendels lalu merancang proyek jalan raya raksasa, De Grote Postweg, dari Anyer hingga Panarukan.
Ia memaksa bupati mengerahkan rakyat untuk kerja rodi yang merenggut belasan ribu nyawa, sebagaimana diabadikan Pramoedya Ananta Toer dalam catatan pedih tentang penderitaan di balik jalan raya itu.
Namun jalan lurus dari batu dan tanah saja tidak cukup. Daendels tahu pasukan, logistik, dan kuda pos butuh perlindungan dari terik tropis. Sumber kolonial secara konsisten menggambarkan jalan-jalan utama di Jawa, termasuk Jalan Raya Pos, sebagai koridor yang dinaungi pepohonan. Ini menunjukkan bahwa vegetasi peneduh (schaduwboomen) merupakan bagian penting dari lanskap infrastruktur.
Salah satu pilihan jatuh pada asam jawa karena fungsinya tahan panas, tumbuh cepat, dan memberi teduh. A. J. van der Aa dalam Nederlands Oost-Indië, of Beschrijving der Nederlandse Bezittingen in Oost-Indië (1836:534), mencatat bahwa jalan di sepanjang koridor jalan pos Probolinggo dinaungi oleh pohon asam.
"Jalan pos dimulai dari kediaman ini di Tongas, membentang dari barat ke timur dan berakhir di Paiton [...] Jalan antara kedua tempat ini sangat bagus, lebar, mulus, keras, dan desa-desa di sepanjangnya ditanami pohon asam dan pohon lainnya," tulis van der Aa.
Dalam edisi lainnya, A.J. van der Aa (1846:338), menggambarkan di sekitar alun-alun Kastil Batavia yang sangat besar, yang dinaungi oleh pohon asam, berdiri bangunan-bangunan kolosal, yang berfungsi sebagai tempat pertemuan Pemerintah Tinggi dan perguruan tinggi lainnya, serta sebagai gudang dan meriam.
Pada 1906, seperti dilansir koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië cetakan 20 Oktober 1906, Dewan Kota Batavia bahkan membuat aturan agar pohon asam jawa dan pohon kenari dijadikan pilihan sebagai peneduh jalan.
Eko Setiawan dalam kajiannya berjudul "Keragaman Populasi Pohon Asam (Tamarindus indica L.) di Jalan Raya Socah-Arosbaya, Kabupaten Bangkalan dan Strategi Konservasi" (2018), menyebut selain di Jalan Raya Pos, deretan pohon asam Jawa juga ditemukan di Bangkalan, Madura, sepanjang 16 kilometer.
Pohon-pohon asam jawa juga terlihat di sepanjang jalan masuk rumah asisten residen di Purwakarta, tempat J.C. Bedding tinggal bersama keluarganya. Sementara di lingkup tradisional Jawa, pohon asam disandingkan dengan sawo kecik di alun-alun dan jalan menuju keraton Yogyakarta.
Seturut dokumen The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks (2023), asam dimaknai sebagai senyum yang memikat, sawo kecik sebagai kebaikan. Keduanya menyampaikan pesan bahwa pemimpin harus menarik hati sekaligus berbuat baik.
Benteng Hidup Ekologis
Asam berdaun kecil, kuat menempel, tidak mudah gugur, sehingga jalan tetap bersih dari timbunan licin saat hujan. Mengutip artikel di Frontier in Nutrition (2022), daun mudanya kaya flavonoid, polifenol, orientin, dan antioksidan yang bekerja sebagai pasukan anti-peradangan, mempercepat penyembuhan luka, meredakan batuk dan asma, hingga menurunkan tekanan darah.
Akar tunggangnya menukik dalam, mencengkeram tanah gembur, menahan erosi dan longsor, sekaligus membuatnya tahan kekeringan dan badai. Kulit batang dan akar pohon asam mengandung tanin, saponin, dan glikosida di dalamnya yang bekerja sebagai analgesik, meredakan nyeri, dan menekan peradangan kronis.
Studi juga menyinggung ekstrak asam jawa yang terbukti membantu detoksifikasi liver, melindungi sel, serta menumpas infeksi bakteri patogen. Begitu juga daging buahnya yang kaya asam organik, vitamin B dan C, efektif mencegah skorbut (kekurangan vitamin C), menurunkan demam, melancarkan pencernaan, sekaligus memperkaya rasa masakan.
Kajian lebih lama pada 2011 mencatat biji asam yang terbukti memiliki sifat antidiabetes dan bahkan berfungsi sebagai penawar bisa ular. Rebusannya sejak lama dipercaya untuk membersihkan infeksi, mempercepat penutupan luka, hingga melumpuhkan cacing parasit di usus.
Uap ekstraknya melegakan pernapasan, meredakan tenggorokan meradang, batuk, dan gejala asma. Bunganya yang mungil pun berkhasiat jika diseduh karena bisa menstabilkan tekanan darah sekaligus membawa sifat antimikroba yang kuat.
Di jalur pantura yang panas dan berdebu, pohon asam bukan sekadar peneduh. Tajuk rindangnya membantu menurunkan suhu permukaan jalan, sementara daun-daun yang gugur perlahan berubah menjadi humus yang menjaga kesuburan tanah di sekitarnya.
Ia juga memberi habitat dan makanan bagi burung, serangga, lebah (penyerbukan), serta mendukung tanaman bawah naungannya. Selain itu, asam jawa juga pohon multifungsi untuk lahan marginal, penghijauan, serta ketahanan iklim karena umur panjang dan minim perawatan.
Kiwari, lorong tamarinde itu perlahan menghilang. Pelebaran jalan, pembangunan kawasan industri, kabel utilitas, hingga proyek modernisasi pantura membuat banyak pohon asam tua tumbang satu per satu.
Sebagian masih bertahan di ruas-ruas lama Jawa Timur dan pesisir utara Jawa Tengah—berdiri seperti penanda sunyi dari zaman ketika perjalanan antarkota masih bergantung pada bayangan pohon dan derap kereta pos.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































