18 November 1945

Dari "Alam Pikiran Yunani", Biduk Rumah Tangga Bung Hatta Berlayar

Oleh: Chris Wibisana - 18 November 2021
Dibaca Normal 7 menit
“Pokoknya, dia orang baik. Dia pemimpin yang baik, dan dia sahabat saya yang baik. Kamu tidak akan kecewa...”
tirto.id - Malam sudah melingkupi sebuah rumah peristirahatan sederhana di Megamendung, Puncak, Jawa Barat, ketika Siti Saleha patah arang dan tidak habis pikir dengan permintaan putranya. Sebagai perempuan Minang tulen, bukan main terkejut Saleha ketika ia mendengar maskawin yang akan diserahkan sang putra dalam pernikahannya. Bukan uang, emas, atau seperangkat alat salat, melainkan buku filsafat karangan sendiri saat diasingkan di Boven Digoel.

“Onde.... Atta, apa kata orang-orang nanti? Orang Minang selalu memberikan mahar kawin berupa uang dan emas. Apa kata orang nanti? Mamak juga ada uang emas untuk mahar kawinmu,” cecar Saleha kepada putranya yang baru melepas masa lajang di usia 43 tahun itu.

Yang ditanya hanya tersenyum dan menjawab lugu, “Nilai buku ini lebih dari uang atau emas, Mak. Silakan orang berkomentar apapun, tapi inilah keputusanku.” Jawaban itu membuat Saleha harus putar otak lebih keras agar putranya, Wakil Presiden Mohammad Hatta, bersedia menyertakan pecahan emas dalam mahar kawinnya. Apa daya, Hatta bersikeras. Tanda cinta Hatta kepada kekasih hatinya hanya sebuah buku berjudul Alam Pikiran Yunani. Lain tidak.

Seakan belum selesai dengan permasalahan maskawin, ijab kabul serba jatmika yang digelar esok paginya ikut dilingkup kegelian karena penghulu desa yang kikuk sewaktu diminta menikahkan wakil presiden pertama.

“Dengan ini kami nikahkan Rahmi binti Rachim dengan Bung... Mo.... Mo.... Mohammad Hatta...,” ucap penghulu yang ragu sekaligus gugup: apakah harus menyebut mempelai pria dengan “Doktorandus”, Mohammad Hatta saja, ataukah “Wakil Presiden”. Sesudah menguasai keadaan, penghulu menyambung, “....dengan maskawin sebuah buku berjudul Alam Pikiran Yunani.” Tamu dan hadirin terdiam, lebih-lebih Saleha yang telah kehilangan kata-kata karena keinginan putra pertamanya yang tidak lazim itu.

Penggalan adegan di atas dilukiskan Sergius Sutanto begitu jenaka dalam novel biopik Hatta: Aku Datang Karena Sejarah (2014). Kendati kisah pernikahan yang unik dan tiada dua itu dibumbui fiksi, namun terdapat satu hal yang tak dapat dipungkiri: peristiwa di Minggu pagi, 18 November 1945 itu menandai babak hidup baru bagi Siti Rahmiati Rachim, 19 tahun, dan Mohammad Hatta, 43 tahun, sebagai suami istri.

Rumah tangga yang kemudian bertahan hampir 35 tahun sampai maut menjemput Hatta itu tidak hanya sebuah kisah sepasang kekasih yang terpaut usia tiga windu. Sejarah bercerita, di balik sosok pribadinya yang diingat sebagai negarawan kaku, formal, dan prinsipiil, Hatta adalah suami penuh cinta dan kesetiaan sekaligus bapak yang hangat dan pengayom bagi tiga putri, lingkungan rumah tangga, menantu, dan cucu-cucunya.


Sukarno Jadi Comblang

Kisah kasih Rahmi dan Hatta sesungguhnya tidak jatuh dari langit. Menurut Siti Satiah Annie Rachim dalam artikel “Pribadi Bung Hatta yang Saya Kenal” yang dimuat dalam bunga rampai Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan (1980), cerita bermula ketika Mr. Sartono--pengacara dan mantan aktivis Partai Nasional Indonesia--mengadakan perjamuan di kediamannya sebagai tanda syukur pemulangan Sukarno dari tanah pengasingan di Bengkulu. Annie datang bersama suaminya, Abdul Rachim, dan dua putrinya, Siti Rahmiati (17) dan Siti Raharty (14). “Ramah-tamah berjalan gembira dan santai. Bung Hatta pun ada di situ,” ungkap Annie (1980, hlm. 25).

Dalam perjamuan itu, diam-diam Hatta memperhatikan dan mengingat putri pertama keluarga Rachim itu dalam hatinya. Seiring waktu berjalan dan hari kemerdekaan makin dekat, Sukarno, yang kenal betul “sumpah sakti” sahabatnya untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka, tidak melupakan urusan jodoh Hatta, meski harus mengerjakan kesibukan panitia ini-itu. Dalam sebuah kesempatan ke Bandung, Sukarno menyempatkan diri mampir ke kediaman Abdul Rachim di Burgemeester Coopste 11. Annie, yang ketika itu menyambut kedatangan si Bung di rumahnya, masih ingat pertanyaan Sukarno, “Siapa gadis tercantik di Kota Bandung?”

Annie menyebutkan beberapa nama. “Ada Olek, putri Ibu Dewi Sartika. Meta Joedo, putri dokter Sam Joedo yang terkenal di Bandung, atau Mieke, kerabat dokter itu. Memangnya kenapa? Ada apa Mas tanya-tanya tentang gadis-gadis cantik?” Sukarno menjawab sekenanya, “Ah, tidak apa-apa. Tanya-tanya, kan, tidak salah?”

Setelah proklamasi, berbekal rekomendasi gadis-gadis tercantik di Bandung, Sukarno mengingatkan Hatta untuk segera menebus sumpahnya. “Waktu saya bertanya kepada Hatta, gadis mana yang dia pilih, jawabnya, ‘Gadis yang kita jumpai waktu kita berkunjung ke Institut Pasteur, yang duduk di kamar sana, yang begini, yang begitu, tapi saya belum tahu namanya’,” kisah Sukarno. Ternyata gadis yang dimaksud Hatta adalah putri sulung Annie dan Rachim, Rahmi. Sukarno yang sudah akrab dengan Rachim sejak masih menjadi aktivis PNI pada 1930-an, bergerak cepat dan mengajak Hatta agar menunaikan maksudnya.

Hari sudah malam ketika Sukarno bertandang ke kediaman Rachim untuk kedua kali. “Begini, saya mau melamar,” tembak Sukarno langsung ketika nyonya rumah membuka pintu. Tentu saja Annie kaget bukan main saat Sukarno datang malam-malam dan tanpa tedeng aling-aling mengutarakan maksudnya.

“Melamar siapa?”

“Melamar Rahmi,” jawab Sukarno.

“Untuk siapa?”

“Untuk teman saya, Hatta,” kata Sukarno tenang. Sejenak Annie tertegun. Usia Rahmi terlalu jauh dengan Hatta. Annie sendiri kelahiran 1902, seperti Hatta. Tetapi, sebagai ibu yang bijaksana dan sadar putrinya telah dewasa untuk memilih pasangan hidup, Annie menghampiri kedua putrinya yang tengah belajar di kamar tidur.

Ketika Annie menyampaikan kedatangan Bung Karno yang ingin melamarnya, Rahmi bertanya lugu, “Mahasiswa sinting mana yang mau melamar saya?” Annie pun membalas, “Ini bukan mahasiswa! Dia orang baik, Mohammad Hatta.” Tentu saja kakak-beradik itu kaget dan ragu-ragu. Raharty malah sempat-sempatnya nyeletuk, “Jangan mau, Yu, orangnya sudah tua!” Daripada kebingungan, Rahmi diajak ke ruang tamu agar bertemu sendiri dengan Sukarno yang akrab ia panggil “Oom Karno”.

“Oom, saya takut. Saya orang bodoh, dan dia terlalu pandai,” kata Rahmi.

“Ah, takut apa? Pokoknya, dia orang baik. Dia pemimpin yang baik, dan dia sahabat saya yang baik. Kamu tidak akan kecewa, sebab Hatta orang berbudi luhur dan punya prinsip yang tegas,” terang Sukarno mempromosikan sahabatnya. Rahmi mencoba mengerti dan dengan bulat hati memutuskan menerima lamaran tersebut.

Tak butuh waktu lama, Hatta memboyong ibunya dari Bukittinggi untuk bertamu ke rumah keluarga Rachim dan membahas rencana pernikahannya dengan Rahmi. Hatta memilih tanggal 18 November. Ia ingat bahwa pada tanggal itu, pada 1918, Gubernur Jenderal van Limburg Stirum mengucap “Janji November” yang kemudian diingkarinya. Tetapi, Hatta ingin agar di tanggal tersebut ia berjanji sehidup-semati: janji yang takkan dilanggarnya sampai maut memisahkan.


Diuji Revolusi

Resmi disunting Mohammad Hatta, Rahmi otomatis menjadi second lady Republik Indonesia. Berbeda dengan pengantin baru yang ingin menghabiskan waktu berbulan madu, Rahmi sadar bahwa suaminya tengah memenuhi panggilan tugas perjuangan. Rosihan Anwar menulis dalam obituari Rahmi di harian KOMPAS, 14 April 1999, betapa Rahmi pandai membawa diri dengan tuntutan zaman dan posisinya.

“Yuke (nama kecil Rahmi) melakukan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh yang baik bagi tiga putrinya. Itulah citra yang dilantunkannya,” ungkap Rosihan dalam obituari yang dimuat kembali dalam Petite Histoire Indonesia Jilid 5: Sang Pelopor, Tokoh-Tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa (2014, hlm. 74).

Tantangan pertama keluarga Hatta-Rahmi datang pada 4 Januari 1946, ketika ibu kota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta dengan kereta api malam yang meluncur dalam senyap. Keluarga Hatta dan Rahmi ditempatkan di sebuah rumah di Jalan Reksobayan 4. Dalam ingatan Annie, mertua Hatta yang waktu itu ikut diboyong ke Yogyakarta bersama suami dan putri bungsunya, pengantin anyar itu juga mengajak keluarga lain, di antaranya keluarga Hasjim Ning—kemenakan Hatta--dua mahasiswa ITB, dan beberapa kerabat untuk menempati rumah besar yang dilengkapi paviliun itu. Di rumah ini pula, Rahmi mengandung dan melahirkan putri pertama mereka, Meutia Farida, pada 21 Maret 1947.

Ketika usia Meutia baru menginjak 21 bulan, Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua pada 19 Desember 1948. Hatta yang ketika itu menjabat Perdana Menteri Republik Indonesia, ditawan di Pulau Bangka bersama Asaat, A.G. Pringgodigdo, dan Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma. Sementara Rahmi, Meutia, dan keluarga mertuanya, ditahan di Gedung Agung yang dijaga ketat oleh serdadu Belanda.

Soejatmi Soerip, juru masak yang saat itu sudah mengabdi di keluarga Hatta, memberi kesaksian betapa suasana mencekam kala itu. “Ada tentara Belanda yang menjaga di situ juga, dan mereka melarang saya ke luar rumah. Kalau saya mencoba ke luar, saya ditodong senapan, sampai saya takut sekali. Mereka bilang begini, ‘Mag niet, Mammie, een, twee, drie, vier, vijf, zes, zeven, acht, negen, tien, stop!!’ Artinya sesudah 10 langkah, saya diharuskan balik kembali ke dalam rumah,” (1980, hlm. 179)

Satu-satunya pelipur lara Rahmi adalah surat-surat yang teratur dikirimkan Hatta dari Bangka. Surat-surat itu berusaha menguatkan Rahmi dan memintanya tetap bersabar selama ditinggal Hatta yang ditawan. “Tetap sabar dan gembira, karena jalan sejarah menuju kepada cita-cita kita semuanya,” pungkas Hatta dalam salah satu surat bertitimangsa 11 Januari 1949. Kata-kata Hatta terbukti ketika Belanda memulangkan para tawanan ke Yogyakarta pada Juli 1949, yang disusul prosesi pengakuan kedaulatan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag.


Hangat Sekaligus Tegas

Sekembalinya ke Jakarta pada hari-hari pertama tahun 1950, Hatta segera mengampu tugas sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Ia sekeluarga mendapatkan fasilitas rumah dinas di Jalan Medan Merdeka Selatan 13, persis di sebelah Balai Kota DKI Jakarta. Meski demikian, Hatta tidak lupa untuk mencicil pembelian rumah pribadinya di Jalan Diponegoro 57, Jakarta. Terbukti kelak, Hatta menghabiskan sisa usianya di rumah ini setelah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden pada 1 Desember 1956.

Meutia Farida, putri sulung Hatta yang praktis melewati dasawarsa pertama hidupnya di paviliun rumah dinas tersebut, masih ingat aktivitas Hatta ketika itu. Dalam artikel “Keluarga Hatta, Keluarga Indonesia Raya” dalam INTISARI no. 647, Agustus 2016, Meutia ingat bahwa pagi-pagi pukul 05.00, ketika hari masih gelap, ayahnya sudah bangun dan berolahraga dengan berjalan-jalan di taman rumah dinas. Sarapan bersama tepat pukul 07.00, lalu Meutia berangkat sekolah yang dimulai pukul 08.00. Pulang sekolah, Hatta kembali makan siang bersama pukul 13.00. Aktivitas di meja makan terasa penting bagi mereka sekeluarga, karena hanya di sanalah Hatta bisa berinteraksi dengan istri dan anak-anaknya. “Ayah tak pernah mengajari saya karena ia sibuk,” kisah Meutia pula.

Kesibukan Hatta yang mengatur jadwal hariannya dengan cermat baru terasa longgar saat mereka berlibur pada akhir pekan di rumah peristirahatan Megamendung. Berbeda dengan formalitasnya sehari-hari, pembawaan Hatta saat liburan jauh lebih luwes. Ia mendongengkan cerita-cerita H.C. Andersen dari buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris, bermain congklak, kartu solitaire, atau balap lari di pekarangan rumah. Hatta juga sering mengajak anak-anaknya keluar-masuk kampung dan mengitari perkebunan di desa sekitar.

Infografik Mozaik Mohammad Hatta Menikahi Rahmi
Infografik Mozaik Hari pernikahan Mohammad Hatta dan Rahmi. tirto.id/Tino


Di luar hari-hari libur, Hatta yang sangat serius dalam pekerjaan juga tidak alpa untuk mengawasi perkembangan ketiga putrinya. Gemala Rabi’ah, putri kedua Hatta, ingat betul saat ayahnya memberi kritik keras karena belum lancar menulis huruf hijaiyah. Saking terkejutnya dengan kritik sepedas itu, Gemala sampai lari bersembunyi dalam lemari dan menangis di sana. Baru ketika Hatta menghampiri dan meminta maaf, tangis Gemala reda dan Hatta mengajarinya dengan telaten.

Halida Nuriah, putri bungsu Hatta, juga tak mau ketinggalan. Pada 1975, ketika Halida duduk sebagai mahasiswa tingkat dua di Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial (kini Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik) Universitas Indonesia, ia mendapat tugas menulis sebuah karangan ilmiah. Hatta menganjurkan Halida menulis perbandingan trias politika di Amerika, Belanda, dan Indonesia.

“Sepulangnya dari kampus, ia mendapatkan ayahnya telah siap dengan tiga helai kertas berisi kerangka pemikiran Trias Politica. ‘Halida, mulailah menulis berdasarkan kerangka ini dan baca juga buku-buku ini,’ ujar Hatta kepada putrinya,” ungkap artikel “Pada Sebuah Putaran Matahari” yang diterbitkan TEMPO dalam edisi khusus seabad Bung Hatta, “Jejak-Jejak yang Melampaui Zaman”, 12—16 Agustus 2002.

Garis Api Keluarga dan Negara

Kebijaksanaan Hatta sebagai negarawan berintegritas juga tecermin dalam kepemimpinannya di tengah keluarga. Sudah bukan rahasia bagaimana Hatta menyimpan guntingan iklan sepatu Bally dalam catatan hariannya, dengan mimpi agar suatu hari ia dapat membeli sepatu tersebut. Namun, dengan uang pensiunnya sebagai wakil presiden, mimpi itu tak kesampaian hingga Hatta berpulang.

Jangankan menunaikan mimpinya membeli sepatu, Hatta bahkan harus urut dada tiap menerima iuran listrik, air, dan telepon yang dalam salah satu suratnya kepada Sukarno, diakui menghabiskan hingga 70 persen uang pensiun yang ia terima. Keadaan finansial Hatta ini pula yang menjadikan Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta antara 1966-1977, terenyuh.

“Beliau mendapat kesulitan mengenai pembayaran iuran PAM dan Ireda. Saya segera mencari akal, mencari jalan apa yang saya dapat perbuat semampu saya untuk membantunya,” ujar Ali, seperti dituliskan Ramadhan K.H. dalam Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi (2012, hlm. 252).

Walaupun dalam kondisi keuangan yang kembang-kempis, pantang bagi Hatta untuk melanggar prinsip demi kepentingan pribadi. Wangsa Widjaja, sekretaris Hatta, mengalaminya sendiri. Pada 1971, Hatta sekeluarga pergi ke Belanda untuk berobat. Ongkos perjalanan dan pengobatan tersebut disediakan oleh pemerintah melalui Sekretariat Negara. Sepulang dari Belanda, setelah mencatat secara cermat pengeluarannya, Hatta memerintahkan Wangsa untuk menulis surat pengantar pengembalian uang ke Sekretariat Negara.

Terang saja, dengan alokasi dana taktis yang disediakan baginya sebagai mantan wakil presiden, Sekretariat Negara menolak pengembalian itu hingga memusingkan Wangsa. Ia harus berkali-kali putar otak agar uang negara itu kembali ke Bendahara Kepresidenan. “Sampai titik darah penghabisan pun, tetap saja Hatta tidak akan menerima, dan tidak peduli berapa pun sisa jumlah uang negara yang digunakannya,” simpul Wahyuni Sahara dalam artikel “Keteladanan Hatta sebagai negarawan” (INTISARI, Agustus 2016, hlm. 48).

Baca juga artikel terkait MOHAMMAD HATTA atau tulisan menarik lainnya Chris Wibisana
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Chris Wibisana
Penulis: Chris Wibisana
Editor: Irfan Teguh Pribadi
DarkLight