tirto.id -
Rencana tersebut disampaikan CEO PBB, Glenn Sugita, usai pertandingan terakhir Liga 1 musim 2024/2025 melawan Persis Solo di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (24/5/2025).
"Kami melihat sekarang klub jauh lebih sehat, secara manajemen maupun struktur bisnis. Ini membuat kami merasa bahwa langkah menuju IPO bukan lagi mimpi, tapi sesuatu yang bisa segera diwujudkan," ujar Glenn dikutip dari keterangan resmi, Selasa (27/5/2025).
Rencana tersebut juga disampaikan Glenn di hadapan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait yang hadir dalam acara tersebut. Glenn sempat melontarkan pertanyaan retoris soal kesiapan Ara, sapaan Maruarar, untuk ikut berinvestasi jika Persibresmi menjadi perusahaan publik.
Ara menjawab tantangan itu secara terbuka. "Kalau untuk Persib, saya siap! Saya siapkan investasi Rp100 miliar untuk jadi bagian dari transformasi besar klub kebanggaan Jawa Barat ini," tukas Ara.
Rencana IPO Persib sejatinya bukan kali ini saja terlontar. Pada Maret 2012 silam, manajemen PBB sempat menyampaikan rencana melepas 45 persen saham ke publik melalui IPO. Meski demikian, rencana tersebut tak kunjung terealisasi dan belum ada penjelasan lebih lanjut dari manajemen terkait waktu pelaksanaan IPO maupun target dana yang ingin dihimpun dari pasar modal.
Jika terealisasi, Persib akan menjadi klub sepak bola Indonesia kedua yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, setelah sebelumnya didahului oleh Bali United melalui bendera PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA).
Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menyampaikan aksi IPO di pasar modal Indonesia bisa memberikan kesempatan bagi perusahaan dengan aset skala kecil dan menengah untuk meningkatkan skala bisnisnya.
Melalui IPO, lanjutnya, perusahaan juga dapat menghimpun dana publik, mempercepat pertumbuhan, serta mempercepat implementasi aspek Good Corporate Governance (GCG).
"Dengan melakukan go public, perusahaan juga berkesempatan untuk mendapatkan insentif pajak berupa penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan," ujar Nyoman kepada awak media dikutip di Jakarta, Senin (26/5/2025) seperti dikutip Antara.
Selanjutnya, melalui IPO, pemegang saham perusahaan dapat memperoleh insentif pajak saat melakukan transaksi jual-beli saham, yang mana nominalnya akan lebih rendah dibandingkan pajak yang harus dikeluarkan saat perusahaan masih berstatus tertutup.
"Perusahaan dengan aset skala kecil dan menengah yang melakukan go public juga akan memperoleh keuntungan berupa peningkatan trust dari masyarakat dan potential partner sebagai impact penerapan GCG yang menjadi salah satu syarat dalam proses go public," ujar Nyoman.
Nyoman memastikan BEI akan terus berupaya mendorong perusahaan dengan aset skala kecil dan menengah yang memiliki potensi pertumbuhan yang baik untuk dapat go public.
"Harapan kami pasar modal Indonesia ini dapat menjadi rumah pertumbuhan bagi para perusahaan, termasuk perusahaan dengan skala kecil dan menengah," ujar Nyoman.
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































