tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat rasio peredaran uang palsu di Indonesia pada 2025 berada di bawah empat lembar per satu juta lembar uang asli atau piece per million (PPM).
Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Anwar Bashori, mengatakan rasio tersebut menunjukkan peredaran uang palsu di Indonesia masih berada di bawah batas yang dinilai mengkhawatirkan secara internasional.
“Secara internasional kalau di atas 10 itu kita agak bahaya di suatu negara. Indonesia kebetulan dulu dari 5, kemudian menjadi 4, terakhir 2025 itu menjadi di bawah 4,” kata Anwar dalam doorstop acara Festival Ekspedisi Rupiah Berdaulat Indonesia, di Istora Senayan, Jumat (14/08/26).
Meski masih ditemukan, BI terus melakukan antisipasi melalui koordinasi dengan sejumlah lembaga yang tergabung dalam Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal).
“Kita berkoordinasi dengan Botasupal. Ada namanya Bareskrim, ada namanya Kejaksaan, ada namanya Bea Cukai dan yang lain, itu terus kita koordinasi untuk pre-emptive bahwa uang palsu itu kita antisipasi,” ujar Anwar.
Anwar mengatakan masyarakat juga dapat mengenali uang asli melalui fitur keamanan yang terdapat pada pecahan tertentu, termasuk uang Rp50.000 dan Rp100.000 emisi 2022 yang menggunakan teknologi Optically Variable Magnetic Ink (OVMI).
“Yang kembang gitu ya, bunga itu. Itu adalah teknologi sangat canggih sekali yang gampang dikenali, susah dipalsukan,” katanya.
Menurut Anwar, edukasi mengenai ciri keaslian Rupiah menjadi bagian penting agar masyarakat mampu membedakan uang asli dan palsu.
“Makanya kalau uang ya memang gampang dikenali, ya yang asli harus gampang dikenali, yang palsu juga harus gampang dikenali sehingga masyarakat sendiri waktu kita edukasi itu memahami itu,” ujar Anwar.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id




































